Siang-siang begindang rasanya ngentang-ngentang, kalau di-Inggris-kan, this noon feels potato potato. Begitulah suasana yang membersamaiku di tanah perbatasan DIY-Jateng, sebuah kompleks yang banyak didatangi bule cantik dan ganteng. Di mana hayo? Ugh, Candi Prambanan, salah satu tempat wisata idaman.
Taken by me!
Alkisah, teman-teman English Study Program 2017 diberi amanah untuk membuat laporan mengenai agenda Tawur Agung yang merupakan salah satu rangkaian acara Hari Raya Nyepi. Bagiku, tentu menyenangkan untuk memenuhi kekurangan ilmu dan sekaligus menyedihkan sebab kembali menemukan kenyataan bahwa banyak yang aku masih nggak tahu. Hari itu, alhamdulillah luar biasa seru. Pukul 07.00 pagi sampai mencapai Dhuhur kuhabiskan tenaga dan waktu demi menuai informasi yang membantu.
Saat sudah siang, kuputuskan berjalan pulang berdua dengan sahabat Nabila tersayang. Kami bergerak ke halte bus Trans Jogja tercinta, hingga terpisah di halte bandara. Karena telah mencapai puncak lelah, mataku memilih menikmati kegelapan yang indah, kepala dan badan mencari sandaran yang membuat betah.
Usai itu masih harus kuberjalan lagi dari Malioboro menuju rumah. Padahal kurasa-rasakan badan belum sepenuhnya bebas dari rasa lemah. Kususuri lorong-lorong gang Kauman biar tidak terlalu banyak bertemu kendaraan jalanan. Ternyata di tengah petualangan, kutemui seorang ibu yang membawa motor pengangkut ‘keronjot’. Motor itu mengisi penuh lebar gang. Sungguh sayang, ditemuinya kesulitan melewati motor lain yang di parkir di samping kanan. Dengan dorongan ingin menjadi pahlawan, kuberanikan, “Saya bantu, Bu!” Baru memundurkannya beberapa waktu, tiba-tiba burung-burung kecil berkicau memutari kepalaku. Pening, dan motor jatuh menyisakan aku yang tiada bisa bergeming.
Selain maaf sepenuh hati, tiada lagi yang bisa diserukan oleh lidah ini. Aku pikir-pikir kembali, sebetulnya ada banyak jalan demi membantu beliau lewat cara yang lain. Bisa jadi meminta bantuan pada orang di sekitar, bukan sok-sokan memakai tenaga sendiri yang tidak kekar. Penyesalan besar atas keputusan untuk membantu padahal sadar betul kemampuanku tidak mampu, allohu.
Besok lagi, iya membantu tanpa berpikir dua kali. Dan besok lagi, perlu berpikir berkali-kali (tapi cepat sekali) untuk menemukan cara terbijak untuk mengeksekusi spirit berbuat baik di setiap lini. Pinter-pinter memahami kita harus bagaimana untuk membantu apa. Check your privilege!
Yogyakarta, 4 Rajab 1439

Tinggalkan Balasan