Baru dua tahun aku mencicipi pedas manis menjadi kader IPM. Kurasakan spirit dididik untuk mendidik menjadi demikian mengendur. Astaghfirulloh, astaghfirulloh, astaghfirulloh. Membaca kondisi sekitar dan apa yang terjadi pada diriku semoga bisa membantu untuk menentukan langkah ke depan biar tidak ragu.

Aku adalah pendengar yang baik, pembelajar yang selalu tertarik. Dulunya, awalnya. Seharusnya begitu. Tetapi lambat laun entah bagaimana aku rasakan mulut lebih buas berkelakar sebagaimana lidah lebih ganas mencecar. Dengan ilmu yang masih sedemikian bodohnya, ambisi sok mau mengajari muncul dengan pikiran merasa paling pinter sendiri. Kenapa?

Aku merasa mampu memasang telinga di samping bibir seorang teman, memasang wajah penasaran dan penuh penghargaan, memberikan seluruh perhatian pada orang yang ingin mencurahkan. Dulunya, awalnya. Tapi, sekarang? Sedemikian besar hasrat untuk didengar, sedemikian besar keinginan untuk berbicara. Kenapa?

Sesungguhnya, aku benar-benar tidak nyaman. Kuambil kursi di pinggir dan mencipta percakapan dengan diri sendiri. Ini, ada kesalahan. Aku bukan diriku kalau begini. Tenang, tenang, slow down, kataku dalam hati. Allah di sini, Allah akan menunjukkan yang terbaik.

Aku adalah, kumantapkan, seorang sahabat.

MA MUHAMMADIYAH 1 YOGYAKARTA (MAM SAKA)
Alhamdulillah. Setiap personil Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Kota Yogyakarta memiliki sebuah tanggung jawab untuk menjadi sahabat ranting bagi sekolah-sekolah di daerahnya. Sahabat ranting, so sweet bener sapaan itu sebetulnya. Seorang sahabat ranting ialah sosok pendamping bagi tiap pimpinan ranting di sekolah. Baik mendampingi dalam kegiatan-kegiatan formal dan seremonial, maupun menjalin kedekatan demi mencipta hubungan dengan PD IPM secara kultural.

Semenjak dimulainya pembagian tugas sahabat ranting, aku dipercayai menjadi sahabat ranting MA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (MA GT/Gedong Tengen atau sekarang akrab disapa MAM SAKA). Sungguh nggak ada dibayanganku, sebab kupikir sekolah yang mungkin mampu tergapai oleh jarakku adalah SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta, SMP Muhammadiyah 5 Yogyakarta, atau SMA Muhammadiyah 5 Yogyakarta. MAM SAKA? Dimana itu? Nggak pernah denger, allohu. Aku bertanya pada ibu yang ketika itu pernah mendengar nama MA GT. Akhirnya kucaritahu lokasinya dan ketemu. Beberapa saat sebelumnya telah kuhubungi ketua umum PR IPM MAM SAKA, Fatin Nabila, atau Bila. Agak kikuk juga berhubungan via chat sedang nggak pernah berjumpa. Namun dalam beberapa momen syahdu, alhamdulillah kami diridhoi mencipta hubungan haru.

Kuingat-ingat, ternyata pertama bertemu adalah di Masjid Gedhe Kauman ketika acara Karim yang pertama. Bila, Anis, Nisa, Lutfi, dan Wahyu.

Setidaknya dalam beberapa waktu kami bertemu dan mulai sama-sama tahu. Aku sedikit tidak tega dengan spiritku yang kadang-kadang naik turun, sedang aku paham mereka ranting yang sangat perlu diberikan motivasi dan gereget untuk lari.

Sekolah ini hanya menyediakan jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Terdapat tiga kelas di sana, untuk kelas X, XI, dan XII. Sebuah mushola yang sekaligus menjadi aula dan kadang-kadang kelas tambahan bila dirasa murid-murid lebih nyaman melepas diri dari bangku dan meja kayu. Dari keseluruhan pimpinan IPM, tiga pribadi yang sangat kuhapal dan memang menjadi pengurus harian. Bila, Anis, dan Nisa. Tiga dari lima siswa perempuan di kelas XII, kalau tidak salah. Sedikit banyak ngobrol dan malu sebab dibanding mereka, bahasa Arabku sedemikian bolong-bolong. Ternyata mereka sempat mencicipi bersekolah di pondok yang, duh, masya Allah. Usai kelas 3 SMP, mereka memutuskan ke kota ini. Alasannya? Menjawab itu, mungkin hidup di pondok itu, perlu kurasakan sendiri.

Terjalinlah interaksi yang betul-betul membuatku bersyukur sekali. Dalam momen-momen Fortasi yang menuntut pertemuan di sana-sini. Dari masa pembukaan, acara puncak, hingga penutupan. Alhamdulillah.

Namun, sebetulnya hubungan kami terasa jauh-dekat. Tapi aku terus mencoba merekat. Hanya saja, belum sampai pada kemampuan untuk memberikan gebrakan. Baru sebuah keinginan.

Alloh, bantulah. Hingga usai rapat Pleno beberapa bulan lalu, datanglah seorang malaikat baru. Hehe, mulai berlebihan, maafkan. Ya, tapi memang, Bunda Rifa. Sebab struktur PD IPM mengalami beberapa pergantian, maka begitupun dengan posisi sahabat ranting, perlu diganti. “Aku nggak mau ganti,” seruku. Akhirnya tetap aku sebagai sahabat ranting MAM Saka. Tapi kali ini, tidak sendiri. Bunda Rifa membersamai. Alhamdulillah sekali.

Langsung terjadwalkan momen untuk berkenalan (lagi) dengan teman-teman ranting. Dan tidak kuragukan, betul-betul impuls gereget Bunda Rifa selalu mengingatkan, ayo Hims ke MAM Saka. Duh, Ahimsa, Ahimsa. Betapa bahagia dan perlu bersyukurnya kamu memiliki partner begini.

Setelahnya agenda Musyran (Musyawarah Ranting) terbahas betul-betul dari nol. Bagaimana tidak? Ini pertama kali ranting MAM Saka mengadakan. Sehingga diperlukan kesabaran dan keseriusan. Betapa sangat menyenangkan, melihat Bila, Nisa, dan Anis juga beberapa sahabat di kelas X maupun XI memiliki semangat dan keinginan belajar yang tinggi. Alhamdulillah ya Rabbi.

Betul-betul kami buat sesederhana mungkin. Beberapa sahabat alumni TM 2 Mualimin dan Mualimat juga membantu, syukurlah. Barakallahulakum. Setidaknya kami berusaha membahasakan Musyran sebagai “pintu gerbang” keluar dari kepengurusan periode lalu yang terdiri dari pembahasan program (kegiatan) periode lalu, gambaran kasar program (kegiatan) periode ke depan, dan pemilihan pimpinan yang selanjutnya. Tapi sebab ternyata pemilihan sudah dilakukan sebelumnya, maka hal itu tidak diadakan dalam Musyran. Dalam hati menenangkan, ndak apa, pelan-pelan.

Aku merasakan spirit mereka. Mau, tapi malu. Mau, tapi ragu. Aku ingin menguatkan, ingin sekali, sangat ingin. Allah, bantulah. Mereka punya mimpi, mereka punya keinginan, mereka ingin berlari. Tapi pesimis, tapi takut jatuh.

Sayangnya, belum bisa kupaksakan mereka mencerna motivasi yang kusuguhkan di atas meja makan. Sebab untuk duduk di bangkunya saja mereka ragu. “Kita mah siapa, Mbak!” Allah, kuatkan aku.

Arya dan Bima adalah nahkoda dalam kapal yang baru. Awak mereka sangat girang dan bersemangat melaju. Potensinya begitu besar dan sama sekali aku menghindarkan diri dari ragu. Mereka mau dan mereka tahu itu. Sekarang tugasku (pun harus tetap dibantu Bunda Rifa dan yang lainnya) adalah menguatkan Arya dan Bima.

Mereka bisa. Sangat bisa.

Di awal waktu pernah aku merasa ragu. Melihat Bila memberikan amanah untuk melanjutkan kepemimpinannya itu, rasanya padaku ada rasa berat. Tetapi, dua hari lalu, raguku tersingkir.

Kami mengobrol dalam agenda Sirancab (Silaturahim Ranting dan Cabang) 2018 di SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Aku, Arya, Bima, ditemani Wahyu juga. Mereka, hanya belum tersentuh. Aku yakin. Mereka punya mimpi yang tinggi, mereka punya keinginan yang besar, mereka punya hasrat berlari. Tapi… takut. Dalam hal ini aku ingin memeluk tubuhku sendiri.

Sore itu mereka pun lemah dan memilih menyerah untuk mengikuti acara Sirancab. Hanya sampai pada pembukaan, mereka memutuskan pulang. Kalau bukan kutahan hingga Maghrib, mereka pun akhirnya akan pergi segera. Duh, sahabat-sahabatku. Allohu.

Bagaimana?

Bagaimana menjadi Bu Muslimah bagi Ikal dan kawan-kawannya yang lantang diserunya laskar pelangi? Bagaimana menjelma Bung Tomo yang mampu berpikir optimis dalam kerumunan orang-orang pesimis hingga bisa menularkan semangatnya? Bagaimana melepaskan posisi menggurui untuk kemudian bisa ikhlas dan bebas demi berdiri sama tinggi dan duduk sama rata dengan mereka?

Allah, aku memiliki ketakutan yang luar biasa, bisikku. Atas mimpiku, atas mimpi mereka, atas masa depan. Memikirkan ini berat (sayangnya aku bukan Milea yang punya Dilan, jadi kutanggung sendiri). Tapi tidak ingin kuhianati hati dengan tidak menjadi diriku sendiri.

Allah, bantu aku berlari. Bukan karena kewajiban, bukan karena ingin diberi pujian. Tapi demi memenuhi panggilan-Mu, demi iman dan cintaku. Bukankah bila tak kulakukan hal-hal kecil begini, iman dan cintaku tidaklah berarti?

Yogyakarta, 11 Jumadil Awal 1439

Tinggalkan Balasan