Sebelum Lulus, Sisa Waktu yang Menyesakkan


Akhirnya, telah berlalu saat-saat yang membelenggu, segala rentetan persiapan ujian yang tak menentu. Mungkin hasilnya takkan memuaskan, nilaiku tiada mambu dibangga-banggakan, namun bukan berarti itu tidak menjadi yang terbaik dan tidak patut disyukuri. Karena yang terpenting adalah kelegaan yang sekarang sudah hadir. Satu kata, alhamdulillah.

Jadi, inilah dia, detik-detik kelulusan. Awas saja kalau ada yang membatin, “Emang yakin lulus?” eh sumpah ya, Ya Allah. Tolong, aku mohon, jangan gugurkan rasa optimis yang sedang kucoba bangun ini. Doakan saja yang terbaik.
Sebenarnya “kelulusan” bagiku dan tentu bagi teman-teman juga tidak menjadi sesuatu yang baru. Toh, kalau sampai sekarang aku sudah terhitung melewati 3 kali kelulusan mungkin. Kelulusan dari taman kanak-kanak, kelulusan dari sekolah dasar, dan kelulusan dari sekolah menengah pertama. Belum lagi kelulusan dari pesantren atau tingkatan TKA/TPA, dan sebagainya. Tapi kali ini, tidak sekadar lulus saja. Ini lebih besar. Ini tidak biasa. Sebab aku akan menanggalkan sebuah pakaian yang selama ini menjadi identitasku selama kurang lebih dalam kurun waktu 14-an tahun. Ya, pakaian itu adalah seragam, yang selama ini membuatku nyaman disapa sebagai seorang pelajar.
Identitas itu akan segera lenyap dan aku akan punya pakaian baru.
Pada detik-detik akhir sebelum kelulusan itu, aku memutar kembali otakku akan segala hal yang mungkin telah kulalui di ranah sekolah. Bukan secara sengaja sebenarnya, karena beberapa sentilan teman mungkin juga menyeretku untuk bernostalgia.
Sebuah penyesalan sederhana muncul ke permukaan. Sebuah denting lonceng yang membuatku berpaling dari hamparan padang keceriaan di depanku yang lalu membuatku berlari mendekatinya. Sebuah ingatan kecil yang sepertinya membawa pilu yang mendera.
Aku punya banyak teman, kalian juga mungkin punya banyak teman, tidak terhitung, tersebar di berbagai ruang interaksi. Di sekolah, di tiap tingkatan sekolah dari TK dan alhamdulillah hingga SMA aku selalu merasa punya teman (meskipun kadang pada kondisi tertentu ada rasa kesepian, tapi itu bukan suatu apa) yang ternyata banyak membuatku terlena. Aku terlalu sok. Aku terlalu egois. Aku terlalu memikirkan diriku sendiri plus beberapa orang terdekat yang ada di sekitarku. Aku terlalu tidak peka untuk sekadar sadar bahwa ada “mereka”.
Di sekolah dasar aku punya segerombolan teman yang kami sejujurnya sangat mendominasi kelas. Punya kesukaan yang sama, pengidola boy band SMASH yang memang sedang hitz kala itu. Kami pembuat ulah, kami yang seolah membentuk strata sosial di kelas, “Dia itu cengeng banget sih!” jadilah si anak yang kami tunjuk dianggap cengeng warga sekolah. “Ih, anak baru sok cantik banget!” jadilah dia tidak disenangi anak-anak kelas. “Dia gini gitu…,” yang keluar dari mulut kami akan menyudutkan pihak-pihak tersebut yang entah bagaimana kemudian diikuti oleh teman-teman yang lain. Kekuatan hebat yang sebenarnya menyesakkan jika kuingat-ingat lagi.
Betapa teman yang dicap cengeng menjadi seseorang yang lebih cengeng lagi.
Betapa anak baru yang jelas belum punya teman malah jadi tidak disenangi anak-anak di kelas.
Dan sebagainya. Aku tidak tahu bagaimana sesaknya ada di posisi mereka.
Kemudian saat masuk ke Sekolah Menengah Pertama, aku juga masih hidup dalam lingkaran pertemanan yang itu-itu aja. Iya sih, aku masih banyak berinteraksi dengan teman-teman yang lain, tapi tetap saja aku lebih nyaman berada di tengah geng-ku (sebenarnya bukan geng juga sih, tapi bukankah lebih gamblang ya kalau kusebut seperti itu? Hehehe).
Beberapa hal pun terjadi karena ulah kami, seperti adanya teman di kelas yang diejek bau, cara ngomongnya aneh, sok-sokan, dan sebagainya. Hati nuraniku nggak tega, tapi entah mengapa betapa jahatnya aku tidak rela bila teman-teman yang lain berseru begini ketika aku mencoba mendekatinya, “Cie, Wardah, cie sekarang sama dia cie..” dan sebagainya.
Aku ingin biasa saja. Tapi sulit. Susah.
Bahkan kelas kami punya “jam spesial” sebagai alarm dimulainya penyebaran bau badan untuk teman yang tadi aku sebutkan. Kurang lebih di 10 detik terakhir sebelum mencapai pukul 10.00 WIB, kami akan berseru bersama-sama dan memperingati waktu penyebaran bau itu terjadi. Betapa jahatnya aku. Aku ikut berseru-seru!
Aku tidak pernah ada di posisi itu. Tapi aku membayangkan bila berada di sana, aku tentu sudah akan menangis. Aku tidak mampu menahan teman-teman di kelasku, bahkan termasuk orang yang duduk bersebelahan denganku tidak mengharapkan kehadiranku. Membenciku. Bagaimana rasanya?!
Aku tahu aku ini begitu payah. Aku lengah. Ini sungguh menyesakkan ketika aku menulis ini, sedang semua itu sudah berlalu di tahun-tahun sebelumnya.
SMA, tempat terakhirku untuk disebut-sebut sebagai pelajar. Aku memutuskan tidak menjadi seorang penggerombol, pembuat strata sosialdi kelas, meskipun pada akhirnya aku malah semakin mendekat pada teman-teman yang aku nilai cocok denganku, atau lebih tepatnya mereka yang juga memilih lebih diam. Aku tidak mampu lagi mendominasi, tapi aku tetap punya banyak teman. Sebenarnya ada kelegaan di sini. Sebab aku tidak menjadi penghalang bagi seorang teman yang aneh atau berbeda untuk semakin dijauhkan dari kelas. Tapi tetap saja, selalu ada anak-anak seperti “mereka” yang terasing lagi. Entah bagaimana.
Ketidakberdayaanku untuk memiliki kawanan yang mendominasi ternyata juga mengakibatkan aku tidak mampu merangkul mereka yang butuh dirangkul. Semakin menjauhkanku dari bisa melakukan sesuatu.
Semua orang mengatakan sesal selalu datang di akhir, ya, benar-benar akhir.
Sekarang bagaimana untukku yang akan segera melepas identitas sebagai pelajar?
Sesal ini akan mengendap di ulu hatiku, tetap di situ sepanjang waktu. Aku tidak lagi memiliki identitas pelajar. Namun aku punya angan. Aku punya kesempatan. Tidak harus dengan aku duduk di bangku pembelajaran. Tidak selalu aku yang berbaju seragam. Tidak harus aku yang dibilang siswa yang bisa mengubah keadaan sekolah.
Untuk kalian yang masih sekolah: coba usap wajahmu dengan air dan apa yang telah kamu abaikan hari ini? Adakah kawan yang kamu biarkan menyendiri? Adakah keegoisan yang kamu sisakan di hati? Doa ikhlasku mendekapmu wahai para pejuang sejati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *