Momen diri merasa menjadi perempuan paling cantik sedunia ialah kala ia mampu menemukan: oh, aku begini.

Sejujurnya bingung daku ingin menuliskan judul kiriman ini. Bila kusebutkan “bebas”, tanya pada diri sendiri “dari apa?” sedang secara nyata tubuh dan hati sesungguhnya tiada pernah ada yang berniat mengurungnya. Kecuali, bila boleh dikatakan, aku seorang diri yang mengurung tubuh pribadi kemudian melarikan diri dari kurungan yang dari awal memang kubuat sendiri.

Maafkan daku yang terlalu sering meminta maaf, berikut dengan alasan tidak jelas. Entah seharusnya kukatakan atau kubiarkan rasa tidak nyaman menyudutkan perasaan. Tapi bersamaan dengan kutulis ini, tentunya aku mantap: mengatakan.

Tidak, sama sekali tidak untuk membela diri bahwa belakangan sedikit serat jemari menulis, sedikit berat imajinasiku terlukis karena hal-hal teknis seperti alat komunikasi yang menua, habisnya kuota, sederet agenda kuliah dan tugas-tugas yang memonotonkan asa. Tidak, insya Allah, tidak. Walaupun kuakui ada godaan untuk mengatakan kesemua itu memengaruhi diri. Tapi, hanya sekelumit. Sedangkan sisanya, benar, tentu saja keinginan besar yang entah kemana tiada kabar.

Seorang guru muda yang dipercaya Indonesia Mengajar mengajar di Paser, Nova Dwi, berkata, “Saya mulai jarang menulis mungkin karena saya takut tulisan ini mulai palsu.”

Aku takut bila aku juga. Beberapa kali aku mengingat kenangan lama saat suatu waktu sahabat Fithrotul Izzah berseru padaku, “Kenapa kamu suka banget nulis panjang?”

Tiada pikiran lama, tiada pikiran bersandiwara. “Sebab itu membantuku merasa itu Ahimsa.”

Rasanya ingin menangis bila kenangan itu seperti cermin milik ibu tiri Putri Salju yang selalu berkata kebenaran. Ia akan membiarkan aku menghadap ke permukaannya dan menemukan bahwa wajahku tidak ada di sana. Aku bukan aku. Aku takut begitu.

Luka tidak sembuh lewat kata-kata yang terserat. Bahagia tidak tersebar lewat kalimat-kalimat di ujung pena. Semua mengendap di ulu kalbu, hingga kusadari sedikit demi sedikit sepertinya menguap dan pergi. Itulah memori. Hilang dan datang tapi tidak pernah berhianat untuk menunjukkan siapa yang memiliki. Meskipun begitu, tapi tetap kusayangkan semua yang mengambang, melayang, dan tentunya yang paling menyesakkan-yang hilang.

Katakan saja diriku pecinta memori. Setiap kali harapku bisa mengabadikan setiap detail dan alurnya. Kuusahakan sebisaku untuk bisa memenuhi itu. Hingga satu waktu momen membawaku pada keinginan untuk urung melakukan kebiasaanku melakukannya. Di situ, aku terkurung dalam diriku sendiri. Ini bukan aku. Bukan!

Maka untuk terbebas, seharusnya aku kembali menjadi diriku sendiri. Bukankah begitu?

Sebuah kalimat yang sayang sekali kulupa siapa penuturnya, tapi kuingat menemukannya dalam buku paket TIK semasa sekolah menengah pertama. Do what you love and love what you do, kupikir dengan begitu nikmat sekali hidup ini.

Soal motivasi, aku baru saja dapat vitamin. Barakallah. Meskipun harus betul-betul kusadari, vitamin itu secukupnya, jangan sampai overdosis.

Momen diri merasa menjadi perempuan paling cantik sedunia ialah kala ia mampu menemukan: oh, aku begini. Dan harapku penuh semoga jalan apapun yang kupilih ini, semakin membawaku lebih dekat dan dekat dan terus mendekat pada Ilahi.

Yogyakarta, 28 Jumadil Akhir 1439

Tinggalkan Balasan