Agen Advokasi
 10 Juni 2016


Juni! Awal mulainya libur panjang yang telah ditunggu-tunggu sejak lama. Yuhu! Sekolah Advokasi kali ini menjadi momen yang tepat untuk mengisi waktu luang.

***


PD IPM (Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah) Kota Yogyakarta bermaksud mengadakan kegiatan Sekolah Advokasi yang dilangsungkan pada tanggal 10-12 Juni 2016. Semacam kegiatan pelatihan dan sosialisasi mengenai bidang Advokasi yang kini sudah sering muncul di organisasi IPM. Jangan tanya aku bidang apa itu, karena jawabanku pasti tidak memuaskan. Sejujurnya, aku tidak terlalu mengenal bidang ini―meskipun aslinya aku belum paham hampir semua bidang di IPM―tetapi justru inilah yang membuatku penasaran dan termotivasi turut serta dalam kegiatan Sekolah Advokasi ini.

Seru nggak sih, Him?
Spontan akan kujawab: SANGAT!!

Namun, tidak perlu terburu-buru untukku menceritakan bagaimana serunya kegiatan ini. Perlu juga kalian mendengar cerita sebelum aku berangkat yang merupakan pengalaman parah dan membuat wajahku merah.

Pagisekali, serius dehsekitar pukul 07.00 WIB seluruh peserta sudah harus siap di lokasi yang telah ditentukan (Gedung PDM atau Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta). Tentu saja aku telah menyiapkan segalanya sejak semalam. Tetapi ternyata pagi ini aku juga memiliki agenda lain di sekolah, begitu penting karena menyangkut nilai raporku. Aku harus melakukan konfirmasi sesuatu hal pada salah satu wakil kepala sekolah. Wah, sejak subuh aku dilanda bingung. Maka buru-buru kuputuskan membuat surat sederhana dalam Microsoft Word dan kuisikan hal-hal yang memang kuperlu kubicarakan dengan beliau. Kemudian kumohon babeku untuk mengantarku ke sekolah terlebih dahulu sekitar pukul 06.00 WIB dan baru nantinya meneruskan menuju ke Gedung PDM.

Nah, semua perlengkapan sepertinya telah matang. Gayaku sudah necis dan kece abis dengan jaket tebal―yang kata teman-teman sih gombor-gombor kegedean―tetapi tidak menyurutkan keinginanku memakainya, style-ku sudah kaya traveller mau tamasya keliling Eropa yang bermodal uang dan baju seadanya, berikut ditumpangi babe dengan naik motor merek Honda paling beken waktu jaman bahula dan suaranya dapat mengalihkan dunia. Terakhir tersematkan senyum bahagia yang entah mengapa selalu jadi konsumsi terlezat sepanjang Ramadhan. Baiklah, aku benar-benar siap!

Babe tidak kalah keren memboncengkanku. Gayanya luar biasa dan semangatnya pasti menggelora, hanya saja sepertinya kantuk pagi menutupi semuanya. Tetapi aku tahu babe sangat mendukungku untuk mengikuti berbagai hal seperti ini, mungkin karena menurutnya ini merupakan kegiatan positif. Dengan tenang, tentram, penuh bahagia motor Honda membelah angin di jalanan menuju sekolahku. Sayangnya semua berubah ketika kesadaran menyerang. Aku menyadari sesuatu detik itu, sesuatu yang mengerikan, sesuatu yang ingin aku skip saja dari alur kehidupanku, sesuatu yang mungkin akan menjadi alasan kematianku setelah ini: aku lupa bawa helm.

Membayangkan aku akan melalui wilayah-wilayah strategis yang penuh dengan bapak-bapak polisi membuatku ingin mual. Jarak dari rumah menuju sekolahku sangat menjamin adanya pos-pos polisi, aku jadi ngeri sendiri. Kuurungkan niatku memberitahu babe karena iba nanti kalau harus kembali lagi ke rumah. Untunglah aku bersyukur polisi-polisi di jalanan tersebut tidak terdorong niatnya untuk mengejarku hingga kami sampai ke sekolah tanpa terjadi sesuatupun yang berarti.

Kemudian kutuntaskan urusan mengenai rapor tersebut. Syukurlah usai. Kembali kepada babeku yang ternyata sedang menunggu di Pom Bensin dekat sekolah. Agak ragu mengakui pada babeku mengenai kelupaanku membawa helm, tetapi akhirnya kuangkapkan.

Babeku menepuk jidat dan kusadari wajahnya menahan kesal. Aku yakin dia gemas sekali denganku, aku yakin, yakin sekali.

Perlu kalian ketahui kalau kejadian semacam ini sudah kesekian kalinya terjadi. Aku kerap melupakan benda penting penjaga kepala itu ketika berboncengan. Entah untuk yang keberapa kalinya. Tentu saja aku tidak akan ragu kalau babe gemas sekali denganku untuk ini. Sungguh, aku benar-benar mengumpat diriku sendiri saat itu. Astaghfirullah.

“Besok jangan lupa lagi,” bisik babeku ketika motor kami mulai menyusuri jalan tikus yang dipilihnya. Dalam hati aku terus menyebutkan ‘aamiin’ dan ‘bismillah’ tak terhitung jumlahnya.

Maafkan aku, Babe.

Sampai di gedung PDM, layar handphone-ku menunjukkan pukul 07.07 WIB dan begitu menggenaskan untukku―yang baru saja deg-degan tidak karuanketika melihat baru satu peserta yang hadir. Namanya Azizah dari SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta.

Ternyata setelah kedatanganku, berangsur-angsur teman-teman yang lain datang dengan sarana dan prasarana yang bermacam-macam. Mereka berasal dari berbagai penjuru sekolah. SMA Muhammadiyah 2, SMA Mu’alimat, SMA Muhammdiyah 3, SMK Muhammadiyah 2, SMA Mu‘alimin, SMK Muhammadiyah 4, SMA Muhammadiyah 7, dan lain-lain. Selanjutnya kami bersama-sama menaiki sebuah bus menuju lokasi kegiatan. Sebagian lain mengendarai kendaraan pribadi.

Alhamdulillah. Akhirnya kami hampir sampai di titik kumpul.

Kalian tahu, hal apa yang membuatku mengernyitkan dahi ketika seorang teman mengatakan kita sudah sampai? Aku tiba-tiba saja kebingungan. Kutanya pada Nabila dan Hima yang kebetulan duduk di sebelahku, “Kita kok di Imogiri?”

“Ya memang di Imogiri, kan?”

Mmmm… Tadi aku minta ijin acaranya di Wonogiri….,” kataku.

“Mbak… Wonogiri itu di Jawa Tengah,” begitu kata Nabila. Ia siswi kelas X dari Mu‘alimat. Orangnya manis sekali, tetapi jawabannya ini membuatku sedih―ternyata dia lebih paham letak Wonogiri daripada aku. Oh Tuhan.

Selanjutnya kami sampai di SMP Muhammadiyah Imogiri dan segera menuju ke mushola untuk mengikuti acara pembukaan yang dipimpin oleh Ketua PCM Imogiri. Kemudian oleh Master of Training, Mas Satria atau sebutlah Bang Satok, kami dibagi menjadi beberapa kelompok sebagai teman serumah. Teman serumah? Apa maksudnya?

Nah, ternyata kegiatan Sekolah Advokasi ini punya konsep berbeda dari yang biasanya. Di sini peserta akan tinggal di rumah-rumah warga dalam beberapa kelompok, yang nantinya wujud kegiatannya menjadi ada dua yaitu pematerian mengenai Advokasi dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (jadi kita membaur dengan warga sekitar begitu). Menyenangkan bukan? Aku bisa membayangkan betapa serunya kegiatan ini bahkan sebelum melaluinya.

Jeng jeng jeng. Bapak Subardi dan Ibu Barmi, keluarga baru yang akan menemaniku selama 3 hari ke depan. Rumahnya sederhana dan terletak tidak terlalu jauh dari titik kumpul. Pak Subardi dan Bu Barmi memiliki 3 orang putri, hanya saja sayangnya kami baru bisa bertemu dengan putri kedua dan ketiga yaitu Mbak Desi dan Mbak Linda. Sedangkan putrinya yang pertama sudah tinggal bersama suaminya. Tetapi kebetulan anak-anaknya senang bermain di rumah kakung dan uti mereka, jadilah kami bermain bersama. Ada si kecil Revan dan Azka yang sejak awal sudah menyambut kami dengan suka cita.



Di rumah ini pula kemudian aku berkenalan dengan kawanan baru yang luar biasa.

Alfreda, panggil aja Fafat tanpa menanyakan apa alasannya. Kelas X di Mu’alimat tapi tinggi menjulang sampai aku tergoda untuk memanggilnya ‘Mbak’ karena merasa terlampaui. Untuk sementara ini mungkin kami bisa dikatakan memiliki profesi yang sama sebagai agen jomblo dan itu sangat luar biasa menurutku. Menyenangkan sekali ketika mengetahui ia menjadi koordinator rumah kami. Meskipun ia adalah gadis yang sangat mudah terbawa perasaan ketika menemukan sinyal handphone-nya hopeless. Tetapi aku tahu Fafat menjadi koordinator yang baik, she’s cool!

Azizah, kembali lagi aku bertemu dengannya. Mengetahui ia adalah siswi kelas XI dari SMA Muhammadiyah 2, hal pertama yang aku tanyakan adalah ‘Kenal Mbak Syifa nggak?’ (mungkin hanya beberapa orang yang mengerti soal gadis yang aku tanyakan, minimal kalian membaca posku beberapa waktu lalu yang berjudul ‘SMA Jogja 2016: Momen Kelulusan, Wahana Berbagi’ silahkan, hehehe tidak bermaksud promosi). Azizah ini orangnya pemalu, tapi lama-lama kelihatan kok kalau dia sebenarnya nggak begitu. Mau tahu? Makanya, kenalan dong.

Nindi, Kelas XI SMA Muhammdiyah 3, si bahagia yang begitu dihormati hehehe. Wah, ini mah diam-diam menghanyutkan. Benar deh! Awalnya aku pikir dia juga pemalu semacam Azizah, eh ternyata waktu berada sekamar gadis cantik ini rajin sekali cerita dan berbagi soal kesehariaanya. Menarik sekali mengupas tingkahnya yang lucu dan antimainstream itu. Kalau ada yang pertama kali menemukannya pasti tidak akan pernah kepikiran kalau ternyata dia demam KPOP, coba cari orangnya!

Terakhir, yang paling muda sekaligus yang paling banyak polah, Rida. Ia kelas X dari SMK Muhammadiyah 2, jurusan perkantoran. Tahu tidak? Meskipun jurusannya perkantoran, tetapi dia jago juga di musik. Main gitar dan suka nyanyi. Di kamar kami, musik di playlistnya yang setiap hari menemani kami dari sejak awal sampai akhir nanti. Handphone Rida juga banyak berjasa untuk teman serumahku dalam penyimpanan dokumentasi selfie, ini sungguh hal yang membuatku begitu terharu.



Sebenarnya kita melakukan apa saja ya?
Hari pertama cenderung lebih difokuskan untuk membaur dengan masyarakat sekitar ketimbang kegiatan pematerian. Hampir saja kami ajukan kepada Pak Jokowi sebagai Hari Selo Sedunia. Untunglah kami urungkan karena mengetahui kalau sore ini tidak jauh dari rumah Pak Subardi sedang dilaksanakan kegiatan mengaji di TPA. Wah, buru-buru mandi dan wangi ala kadarnya kemudian langsung berbondong berlima menuju mushola tempat TPA. Ketika di sana, aku menjadi nampak syok melihat betapa tumpahnya jumlah anak-anak di sana. Aku bercerita pada salah seorang ibu pengajar di situ kalau anak-anak di rumahku tidak sampai sebanyak ini. Kemudian ibu itu memberikan jawaban yang membuatku terhenyak, “Ini baru kalau Ramadhan mbak, kalau hari biasa malah lebih banyak, karena anak-anak dari desa lain ikut TPA di sini.”

Pengalaman luar biasa bisa bertemu banyak brondong ganteng dan cantik yang rajin sekali mengaji di TPA. Memang sih sedikit kalut untuk mengaturnya, tetapi tentu saja menyenangkan mengetahui kalau ada banyak anak-anak yang bersemangat memanen pahala dari mengaji. Merangkul dan mengondisikan mereka membutuhkan energi ekstra. “Yuk, tepuk anak sholeh!” seruku.

Fafat mengajak anak-anak untuk mengikuti lagunya yang asyik. “Banana! Pill banana, pill, pill banana! Slash banana, slash, slash banana! Shake banana, shake, shake banana! Fried banana, fried, fried banana! Eat banana, eat, eat banana! Banana!”

Anak-anak nampak antusias dan bersemangat. Kami menemani mereka hingga waktu takjil, ibadah sholat Maghrib, dan sampai pada sholat Tarawih. Ukuran mushola tersebut hampir tidak mampu menampung seluruh jama‘ah yang hadir, tapi untunglah sedikit berdesakan kami semua bisa menjalankannya. Ya semoga saja itu tidak mengurangi kekhusyu‘an ibadah kami, hehehe.

Seusai menjalankah sholat Tarawih, belum puas kami bersua dengan adik-adik di TPA, kami juga ingin mengikuti kegiatan lain setelah itu yaitu tadarus ibu-ibu dan pemudi. Tadarus tersebut dilaksanakan di masjid yang letaknya tidak terlalu jauh. Sayangnya Nindi belum bisa turut serta pada momen ini karena ia perlu mengerjakan tugas sekolah yang harus diserahkan esok harinya. Mengikuti kegiatan tadarus bersama di suatu tempat yang baru ternyata menyenangkan, apalagi ketika sambutan dari para tuan rumah terasa begitu hangat. Mbak Puji, Mbak Ika, Tata, dan teman-teman lain, terima kasih sudah mau bertegur sapa bersama kami. Hehehe.

Kurang lebih pukul 22.00 WIB kami kembali ke rumah Pak Subardi. Kemudian satu persatu dari kami mulai beranjak terlelap. Sedangkan aku memilih untuk sejenak merelakan diriku merekam ulang memori seharian ini.

Lalu aku juga menyusul mereka.

Alhamdulillahirobbil’alamin.  

This Post Has 3 Comments

  1. Subhanallah! I miss every single time with you dear ❤ menginspirasi sekali, Semoga nanti juga tergugah ya buat nulis tentang sekolah advokasi. Boleh ya, aku juga ada blog ulimanabilaadinta.blogspot.com

  2. Yeah me too Nabil, alhamdulillah i have seen ur blog beibs!❤❤ Wowww aku sudah membaca bagianmu yg lugas memaparkan salah satu materi kita, sip luar biasaa! Lanjutkan!:D

Tinggalkan Balasan