Sekolah Advokasi #2: Hari Panjang, Enak Dipandang!

Salah satu momen yang tertangkap kamera di tengah pematerian. Terima kasih bunda Linta sudah berbagi gambarnya.

 
11 Juni 2016

Baru paham kalau orang-orang yang butuh alarm untuk bangun itu punya pilihan suaranya juga beraneka ragam. Tahu darimana kamu, Him? Ini nih, baru semalam aku serumah sama 4 makhluk hidup ciptaan Tuhan ini, alhamdulillah sudah dikasih ilmu tambahan.

Aku selalu berpikir kalau dengan memakai alarm yang suaranya keras apalagi nge-beat, maka akan cepat bangunlah kita. Seperti biasanya aku pasti selalu memasang alarm semacam itu. Dulu―sebelum aku paham maksud liriknya―sempat kugunakan salah satu lagu Lady Gaga yang judulnya Bad Romance karena suaranya memang benar-benar mampu menyentakkan telinga. Pasti buru-buru aku terbangun dan mematikannya.

Tetapi ternyata salah seorang kawanku serumah, Rida, ia bercerita kalau lebih sering menggunakan lagu syahdu sebagai alarmnya. Tentu saja aku berseru, “Lha kalau lagu mellow, aku malah semakin angler, semakin pulas yang tidur.”

“Nggak mbak, aku malah enak ini, lebih santai, langsung bangun,” katanya.

Maka kukatakan, ternyata bukan hanya tipe pasangan yang berbeda, tetapi bahkan tipe musik untuk alarm pun sukanya beda-beda. Aduh, ini bukan terbawa perasaan, serius.

Sedangkan untuk pagi ini, aku memilih nada yang kurasa tepat untuk membangunkan kami di pagi hari: TERETET TERET TETET!!!!

Suara terompet dengan volume maksimum yang aku set ternyata berhasil membangunkan kami di sahur pertama. Satu persatu kami mulai bangun dan kumatikan alarm tersebut. Dari lantai bawah―karena kebetulan kami tidur di lantai atas―aku mendengar suara seorang gadis berseru, entah Mbak Desi atau Mbak Linda, “Ayo turun, sahur dulu!” dan membuat kami bersegera turun.

Menu pagi ini adalah gudeg. Wah, alhamdulillah. Sejujurnya aku memang orang asli Jogja, tetapi tidak sepenuhnya tertarik dengan makanan kulinernya. Tetapi aku patut bersyukur karena Bu Barmi sudah rela dan suka cita memasakkan hidangan ini untuk kami. Menurutku itu luar biasa.

Obrolan hangat di waktu sahur itu cukup menghalau rasa canggung di antara kami. Bagaimana tidak? Selain karena rumah Bapak Subardi itu ramai, juga karena mereka kesemuanya ramah tamah. “Ini rumahnya pada di mana kalian?” tanya Pak Subardi memecah suara sendok sahur kami yang ramai bersenggolan dengan piring. Kemudian dilanjut dengan perkenalan yang mengasyikkan.

Sunrise di langit Imogiri seusai shubuh, inilah momen terlezat yang bisa dikonsumsi setelah kenyang sahur.

Sesuai yang dijadwalkan hari ini kami akan mendapatkan agenda pematerian. Nanti aku dan teman-teman akan dijemput sekitar pukul 08.00 WIB untuk menuju SMP Muhammadiyah Imogiri sebagai titik kumpulnya. Untuk itu tentu saja kami perlu persiapan agar terlihat segar dan wangi―meskipun di rumah kerjaannya cuma ngolat-ngolet, mainan handphone, berburu sinyal, tapi setidaknya kita tetap ingin supaya secara penampilan panitia nanti tahunya kita wajahnya cerah dan segar bugar hehehe.

Pukul 06.30 WIB kami mandi bergantian menggunakan dua kamar mandi yang tersedia. Ternyata seusai semua mandi jam di handphone telah menunjukkan pukul 08.00 WIB, tetapi belum terdapat tanda-tanda muncul mobil yang akan menjemput kami. Oleh karenanya, berdasarkan banyak pertimbangan kami memutuskan untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk selfie. Kami berlima mendapatkan kamar di lantai atas yang mempunyai balkon dan―bisa dibilang―sebuah halaman kecil. Di lokasi inilah kami memilih untuk mengerjakan misi pemanfaatan waktu tersebut. Beberapa kali cukup menggoda orang-orang di jalan yang tidak sengaja menangkap kami sedang asyik mengambil foto satu sama lain lewat ponsel milik Rida. Wah, terima kasih sekali ya!

Editing via vscocam hehehe, momen ini yang mengambil Fafat, jadi dia nampak cantik di balik kameranya. Ok? Hehehe foto yang ada Fafat on the way aku pindah dulu ya, masih di ponsel nih. Hihihi.

Tidak terasa sudah berapa kali kami mendokumentasikan momen bahagia ini. Beberapa saat kemudian sebuah mobil berjalan begitu mulus untuk berikutnya singgah di depan pagar rumah. Berhubung kami paham kalau itu mobil yang menjemput, maka segerelah kami berbondong-bondong beranjak turun dan masuk ke mobil setelah sebelumnya berpamitan dengan orang rumah.

Kami dibimbing untuk menuju sebuah ruangan yang kupikir merupakan laboratorium Biologi. Inilah dia agenda pematerian pertama yang telah kami tunggu-tunggu. Mas Faris yang berasal dari PW IPM (Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah) Daerah Istimewa Yogyakarta dengan lugas mengupas bidang Advokasi yang berada dalam IPM.

Ngomong soal ‘advokasi’ apa ya yang kita pikirkan? Waktu aku tanya adikku, dia bilang, “Yang di pengadilan gitu kan?”

Kemudian aku juga pernah bertanya pada salah seorang teman dari SMA Muhammadiyah 4 yang berada di bidang Perkaderan IPM, namanya Alda dan kita sekali bertemu dalam kegiatan sosialisasi Fortasi lalu. Katanya, “Untuk curhat-curhatan gitu kayanya.”

Eh, malah jadi semakin bingung dengar penjelasan mereka. Tetapi mungkin memang sekitaran begitu pengertiaannya. Mas Faris memaparkan beberapa pengertian ‘advokasi’ salah satunya menurut Mansour Faqih―entah siapapun itu, percayalah kalau beliau lebih paham ini daripada kita―menyebutkan, “Advokasi adalah usaha atau aksi nyata yang sistematis dan terorganisir, bertujuan untuk mempengaruhi dan mendesak sebuah perubahan (kebijakan publik).” Sedangkan bentuk advokasi dalam IPM bertujuan untuk mempelajarkan pelajar yang memiliki konsep persis seperti memanusiakan manusia.

Selanjutnya, materi yang enggak kalah seru adalah Pelajar Anti Apatis. Materi ini disampaikan oleh Mas Rama yang tiada lain merupakan ketua PD IPM (Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah) Kota Yogyakarta. Sesi ini juga begitu menarik perhatian peserta Sekolah Advokasi karena penyampaiannya yang santai dan tepat sasaran. Tentu saja karena seluruh pesertanya merupakan pelajar, maka berbicara mengenai diri sendiri merupakan hal yang menyenangkan untuk dikupas.

Maaf ya untuk materi pertama dan kedua belum bisa menampilkan gambar pematerinya, lupa mengabadikan fotonya hehehe. Ini gambar pemateri ketiga, tapi di bagian caption bisa dicek itu beberapa kutipan dari materi 1 dan 2. Semoga manfaat!

Pokok-pokok materi yang telah disampaikan ini selanjutnya akan dibahas lagi dalam sebuah forum kecil yang sering kita sebut SGD (Small Group Discussion). Di setiap usai pematerian akan ada sebuah grup diskusi yang tujuannya adalah membahas ulang materi yang telah disampaikan kemudian nanti akhirnya tiap grup dapat mengambil kesimpulan sesuai dengan yang mereka diskusikan. Sistem pematerian yang seperti ini menurutku sangat efektif dan keren, karena melalui cara ini jadilah terdapat ruang bagi tiap peserta untuk kembali mengolah hasil ‘ilmu’ yang diserap saat materi sehingga mampu dikembangkan dan dikritisi bersama peserta lainnya.

Menyenangkan bukan? Jangan iri ya kalau tidak ikut, hehehe. Apalagi di tengah-tengah waktu lengang kita, ada semacam ice breaking dari Mbak Fida, semacam game perkenalan begitu. Seru deh! Tetapi dalam game ini, semua peserta diwajibkan menggunakan ‘nama cantik’-nya. Intinya, itu bukan nama asli. Bebas dan harus digunakan selama kegiatan Sekolah Advokasi. Ada yang awalnya bernama “Bai” jadi “Chelsea” karena berharap mirip Chelsea Islan, si Fafat namanya jadi “Potter” karena pengagum berat tokoh tukang sihir di novelnya J.K. Rowling, “Mia” malah aneh-aneh diganti “Meauw” mungkin tergoda ikut Trio Macan, “Jaya” jadi “Kelvin”, terus “Reyhan” jadi “Vero”, dan banyak lagi, “Ichak” jadi “Rizny”. Macam-macam deh kreativitas teman-teman, sampai aku kesulitan mengingat semuanya alias enggak dengar jelas semuanya waktu itu hehehe. Tapi serius ini, mereka kreatif!

Nah, tepat sekali ketika sesi ice breaking usai pada saat adzan Dhuhur memanggil. Kami semua segera beranjak menuju masjid untuk mengikuti ibadah jamaah. Kebetulan ternyata sudah ramai sekali terisi dengan siswa-siswi SMP Muhammadiyah Imogiri, beberapa siswi kutanyai ternyata mereka masih kelas VII dan katanya masih ada kegiatan sekolah. Ibadah sholat yang khusyu’ tersebut kemudian dilanjutkan SGD membahas ayat yang mendasari semangat bidang Advokasi IPM, yaitu QS Surah Ash-Shaff ayat 1-4.

Ngomong-ngomong salah seorang teman di grup diskusiku ada yang bernama Dedi, akunya dari Malaysia dan sedang mengenyam sekolah di SMK Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Sejak awal kami sudah menjulukinya sebagai Pak Jokowi karena wajahnya yang mirip dan kebetulan dia hari itu mengenakan kemeja motif kotak-kotak yang nyaris sama dengan ciri pak presiden. Hal yang menarik di sesi forum ini ialah karena Dedi memberanikan diri untuk muraja’ah 4 ayat pertama QS Ash-Shaff tersebut. Luar biasa, aku terharu mendengarnya.

Ada yang mau bilang enggak mirip Pak Jokowi? Hayo, hayo.

Selanjutnya didampingi fasilitator kami yang baik hati, Bunda Laila, kami diajak memaknai kandungan dalam ayat ini. Nilai persaudaraan di dalamnya lah yang mampu mengusung semangat Advokasi IPM selama ini.

(1) Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (2) Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (3) Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (4) Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

Seusai mendalami makna ayat tersebut, seluruh peserta diperkenankan untuk kembali ke rumah masing-masing. Tentu saja termasuk aku berempat dengan teman-teman serumahku. Pulang-pulang ternyata kawanan kami sudah disambut dengan adanya pemandangan menyenangkan yaitu bocah-bocah kecil yang sedang asyik menggambar di teras depan bersama Mbak Desi. Pun si Lutfi, anak tetangga, salah satu dari murid yang kemarin kutemui di TPA. Aduh, kok aku sampai hafal ya dengan dia? Jangan-jangan punya rasa para brondong. Aduh, bahaya. Hehehe, tapi bukan, bukan begitu kok. Si Lutfi ini memang sejak awal kuhafal mungkin sebab dia hiperaktif. Usil dan bandel sih, tapi menurutku lebih tepat kalau dikatakan suka cari perhatian hehehe, dasar bocah.

Setelahnya kami masih bisa menyempatkan diri untuk sekedar mengabadikan momen dengan berfoto di tengah rasa lelah. Lagi-lagi pakai ponselnya Rida, sungguh sangat berjasa. Kemudian semua rangkaian acara pemotretan itu diakhiri dengan tepar bersama yang pada akhirnya hanya akulah yang dapat memanfaatkan waktu untuk menikmati tidur siang itu.

Nyenyak.

Enak.

Ak!

Aduh! Di antara rasa nyaman itu aku sempat dibangunkan untuk suatu alasan. Satu alasan yang ternyata menarik. Sangat menarik.

Mungkin sebelumnya aku belum menceritakannya. Kedua orang tua asuh kami memiliki sebuah panti asuhan yang mereka kelola sejak lama. Namanya ‘Adz-Dzikro’ dan terletak tidak jauh dari sini. Kali ini kami diberi kesempatan untuk ikut berkunjung dan mengamati kegiatan di sana.

Rupanya hari itu, ada beberapa agenda yang dilaksanakan di panti, yaitu pengajian berupa islamic story dari Rumah Ceria, bakti sosial oleh fakultas psikologi UST, dan sebuah doa bersama untuk beberapa saudara kita yang mengalami musibah. Menyenangkan sekali melihat berbagai perawakan teman-teman di sana, juga beberapa cerita yang disampaikan oleh Bu Barmi mengenai mereka.

Mereka sama sekali tidak berbeda denganku, tidak berbeda dengan teman-teman lainnya. Bisa tertawa, tersenyum, berjalan, lari, bermain, bahkan di sini kutemukan yang pandai mengaji dan menghafal ayat suci, ada pula yang sudah sampai mengeyam pendidikan di salah satu universitas ternama. Hanya satu hal yang mungkin nyata berbeda dan kita tahu semua itu yang mengakibatkan mereka ada di panti ini. Tetapi itu tidak menjadikan mereka tersingkir dari kodrat mereka sebagai manusia, tersenyum, tertawa, hal-hal sederhana, bahkan juga yang luar biasa. Mereka bisa.

Ada sekitar 21 anak di sana, seingatku. Ialah beberapa dari sebagian yang aku sendiri tidak tahu dimana dan bagaimana keadaan yang lainnya. Tetapi untuk yang mengetahui, setidaknya.. semoga tergerak untuk menghidupi mereka. Bu Barmi bersyukur untuk sekarang ini bisa dikatakan cukup bantuan dari teman-teman untuk membantu mencukupi kebutuhan anak-anak ini.

Pengalaman berada di Adz-Dzikro adalah sesuatu yang sangat luar biasa.

Kalau boleh, aku mau kembali lagi. Kalau boleh, aku ingin mencari tempat seperti ini lagi, tentu saja dengan harapan penuh bisa datang tanpa tangan kosong. Hehehe.

Kami bertemu lagi dengan Azka di sini, dia masih mengenakan baju seragam TPA. Dasar, anak sholeh. Waktu berbuka puasa pun tiba yang segera kami tunaikan dengan hidangan snack yang tersedia, ini juga sumbangan lho. Masya Allah. Sebelum masuk ke makanan berat, lebih dulu kami mengerjakan ibadah Sholat Maghrib, biar sang lambung enggak terkejut dapat nikmat nasi yang berlebih.

Wah, alhamdulillah nikmat!

Segeralah kami beranjak pulang usai urusan dan penngumpulan pengalaman di panti selesai. Azka kembali ke rumah ditumpangi motor dengan Mbak Desi. Sedangkan kami berempat berboncengan dengan Pak Subardi dan Bu Barmi menumpangi mobil. Nindi  kembali beberapa saat setelah kami sampai, lebih tepatnya saat kami menunaikan ibadah Sholat Tarawih di mushola. Sudah usai masalah ujian sekolahnya dan juga rapat mengenai Fortasi, seperti yang diungkapkannya sebelumnya.

Tarawih di mushola sempat berjalan kurang efektif akibat imamnya terlambat hadir. Hampir saja kami kembali ke rumah karena enggan menunggu terlalu lama. Tapi segera terbatalkan niat itu ketika akhirnya ada yang berniat menggantikan beliau sementara.

Usai sholat, lagi-lagi suasana diramaikan dengan lagu Banana seperti yang sebelumnya diajarkan di TPA. Kini Fafat kembali membimbing adik-adik melakukannya lagi sekaligus berpamitan karena esok pagi kami sudah harus pergi kembali.

“Mbak, mbok besok ke sini lagi,” seru Niswa yang kala itu di sampingku. Dia juga yang sebelumnya yang berbisik padaku sebelum Nindi datang, “Mbak, mbak. Mbaknya yang enggak di sini mana ya? Itu dicari sama mas yang di depan!”

Wah, dasar bocah-bocah.

“Mbak, ana kancaku njaluk nomermu!” ini si Noval, kalau dalam Bahasa Indonesia begini nih: Mbak, ada temanku minta nomermu! Begitu diserukannya ketika hendak mengerjakan sholat witir, apa brondong-brondong itu kurang pandai memilih waktu untuk membuat orang terbawa perasaan ya? Wah, ternyata buruk sekali pendidikan pem-baper­-an di Indonesia. Hehehe.

Ramai sekali bocil-bocil! Nah, buat yang penasaran…itu Fafat! Di tengah, rukuh kuning!

Malam itu menurutku lebih panjang daripada malam sebelumnya meskipun kegiatan kami hanya habis di mushola. Rasa kehangatan sepertinya memang lebih terasa di sana ketimbang kemarin yang masih berupa remang-remang. Mbak Salsa, salah satu panitia Sekolah Advokasi, pun datang ke mushola untuk ikut mendokumentasikan kegiatan kami. Bahagia sekali!

Malamnya, kami belum bisa tidur nyenyak ternyata.

Malam itu segudang cerita menghantui kepala kami. Tugas diary dalam kegiatan ini menjadi alasan kami tidur larut hari itu. Ditemani musik sekenanya yang keburu mati setelah si Rida dan Nindi tidur nyenyak.

Jadilah aku sendiri menulis.

Fafat sibuk mencari sinyal.

Juga Azizah, yang memang sejak awal tidak bisa pulas terlelap.

Alhamdulillahirobbil’alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *