Selamat 3 Mei

“Apa sih yang kamu cari di dalam hidup ini, Ahimsa?”

 

Selamat menunaikan ibadah membaca, mari kita memulainya atas nama sang maha pencipta.

 

Pertanyaan di atas mungkin merupakan pertanyaan ter-membosankan, sebab aku tiada lelah mengulanginya pada diri sendiri. Bagaimana menurutmu, Sahabat? Jujur, untuk pertanyaan itu, aku belum punya jawaban yang clear. Sungguh, sayang sekali ‘tujuan hidup’ bukanlah suatu kata yang bisa dengan mudahnya kususuri di mesin pencari. Juga tidak semudah aku menekan ctrl+F dalam sebuah dokumen referensi. Tujuan hidup, apa yang aku cari, ini membingungkan sekali.

 

Tulisan ‘tanggal 3 Mei 2019’ telah bertengger pada sebatang ponsel. Di waktu subuh yang syahdu ini, aku tergoda bersandar padanya untuk istirahat sejenak. Meskipun menyenangkan, tapi pikiranku sejujurnya agak tidak enak, malam tadi aku harusnya tidak tidur di ‘kamar ini’. Tapi itupun tidak kemudian terlalu kusesali, karena mau gimana lagi.

 

Dua dan satu hari yang lalu, ucapan selamat memperingati hari buruh dan pendidikan giat dilantunkan. Di hari ini, pasti nanti sepi. Mungkin hanya aku yang mengucapkan, “Selamat bertambah usia… Eyang,” kemudian dilanjutkan, “Mohon maaf semalem nggak nemenin Eyang.” Muehehe, setiap malam memang aku seharusnya membersamai beliau, kecuali bila ada agenda di luar yang mengharuskan menginap. Seperti malam tadi.

 

Oya, temen-temen juga punya eyang? Entah panggilan mesra apa yang dipunyai, mungkin simbah, nenek, kakek, uti, kakung, simak, atau apapun.

 

Sejujurnya, di sini aku lebih ingin banyak belajar.

 

Ada yang bilang, seseorang makin tua sikapnya akan kembali kayak anak-anak. Sejauh ini, interaksiku dengan Eyang membuktikan demikian. Daaan sejauh ini juga, pembelajaranku soal ‘jadi cucu idaman’ ternyata belum menemui kata final. Sabarku masih setengah-setengah, juga hasratku masih besar untuk ikut ini itu dan berjibaku pergi keluar rumah.

 

Soal apa yang aku cari dalam hidup ini belum begitu jelas bisa diuraikan. Kupikir salah satu yang akan membukakan jalan adalah melalui petualangan. Dalam diriku banyak mimpi yang menumpuk, tapi tidak bisa langsung tunduk. Aku duduk meringkuk sambil mengingat pesan mendalam Imam Syafi’i di halaman depan buku The Land of Five Towers:

 

Clever and civilized men will not stay at home

Leave your homeland and explore foreign fields

Go out! You shall have replacement for those you have left

Give you all, the sweetness will be tasted after the struggle

I have seen that standing water stagnates

If it flows, it is pure, if it does not, it will become murky

If the lion doesn’t leave his den, he will not eat

If the arrow doesn’t leave the bow, it will not strike

If the sun stands still in its orbit

Men will tire of it

Gold dust is merely soil before excavated

Aloewood is just ordinary wood in the forest

 

Tentu itu menjadi kompor penyemangat yang hebat membakar hasrat. Beberapa waktu yang lalu, kebetulan aku mengajukan proposal ke keluarga untuk mendaftar sebuah program asrama, itu ditolak dengan alasan yang sebagaimana bisa diduga. Pertanyaan senapas seperti “Siapa yang menemani eyang nantinya?” tidak bisa dinafikkan acap kali berseberangan dengan hasrat berkelanaku. Kalau ditanya gemas atau tidak, Anda sebagai pemuda pasti lebih tahu rasanya. Begitu juga termasuk saat akhir tahun lalu aku mendaftar sebuah program pertukaran yang menuntut satu semester meninggalkan kampung halaman, ada rasa berat hati di sana dan begitulah mungkin jadinya, akhirnya aku tidak diterima muehehehe.

 

Di sana malam-malam bersama eyang jadi terkesan kurang bagiku pribadi. Bukan soal intensitas, melainkan kualitas. Aku jadi demikian sulit menempatkan diri dan berlaku tidak pas. Omooo, omoo, jangan bayangkan aku kayak cucu-cucu di stasiun tivi indosiar yang di akhir kena azab sakaratul maut atau kesamber gledek karena durhaka. Naudzubillahi min dzalik, kami berlindung kepada Allah perihal tersebut. Sungguh aku masih dalam tahap (ya kalo boleh dibilang)—walaupun aneh untuk mengatakannya—sewajarnya.

 

Intinya, tanggal 3 Mei yang bertepatan dengan peringatan tanggap warsa eyang memberiku momen ben mikir. Semua kenangan yang memberikanku perkembangan sejak kecil harus diakui diisi oleh eyang. Dari belajar mengeja, membaca, naik sepeda, berangkat ke sekolah, masak-masak, main tamiya (aku dulu gaul ya guys) dan sebagainya itu semua eyang yang membersamai. Masa iya kemudian di saat beliau butuh aku malah sering pergi?

 

Mimpi itu begitu luasnya, ada di seluruh bagian dunia. Termasuk rumahku. Masa aku dilarang mewujudkan mimpi di dalam rumah? Tidak, sama sekali tidak. Bahkan rumah ini bisa jadi tempat tumbuh suburnya mimpi-mimpiku, benar? Mimpiku ada di dalamnya. Aman, nyaman, dan merdeka! Ingat bagaimana tuturan Kartini dalam sebuah film, “Tubuh boleh terpasung, tapi jiwa dan pikiran bisa terbang setinggi apapun.”

 

Kupeluk mimpi-mimpiku, seerat memeluk Eyang!

 

Aku buka lagi sebuah tulisan di blog yang kuberi judul “Berbakti, Sebuah Nasehat Bocah”, seorang sahabat bernama Dilla yang usianya denganku terpaut lebih muda pernah memberi nasehat, “Jangan sampai menyesal karena nggak sempat berbuat untuk mereka ya, Mbak.” Kata dia dulu seingatku, kalau berhasil memenangkan how to deal with orang yang lebih tua untuk belajar jadi sabar serta pengertian, kita nantinya akan lebih mudah berinteraksi dengan banyak orang lainnya. I don’t know, tapi bisa kita katakan itu sebagai ‘balasan’ atas kesabaran kita mungkin nantinya. Karena bagi sebagian orang memang sulit berhadapan dengan pribadi yang sudah cukup sepuh. Kalau itu bisa kita hadapi, insyaAllah karakter lainnya lebih mudah lah ya.

 

Hehe, begitu saja, semoga kita sama-sama bisa belajar lagi soal menjadi lebih baik. Terima kasih. Mari kita tutup ibadah ini, maha benar Allah atas segala firmanNya.

 

Yogyakarta, 26 Sya’ban 1440

___
Ditulis di kos-kosan Bunda Syahnindita Erhan, setelah terlelap bersama Ririn Desriani. Telah mengalami banyaaaak sekali pengeditan, bahkan setelah dipublikasi, hehe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *