Seleksi Bina Antarbudaya 2016/2017

“Aku ingin melakukan yang berbeda, jika mereka menghabiskan 3 tahun di SMA, aku ingin melakukan yang berbeda di SMA dengan mencari pengalaman yang berkesan bagi kehidupanku selanjutnya. Aku ingin mencari yang tidak biasa.”

Ini adalah salah satu berkas yang saya temukan ketika akan melakukan pendaftaran, jadi di awal kita sudah diberikan berbagai informasi mengenai program AFS/YES ini.
Bahkan di Chapter Jogja (kebetulan yang saya tahu), di setiap sekolah telah diberikan semacam kegiatan sosialisasi.
Di situ secara terbuka kita dapat memperoleh pengetahuan tentang seperti apa, apa saja manfaatnya, bagaimana caranya, dan berbagai hal yang mungkin belum kita pahami.

Hai, kawan!
Saya peserta seleksi program AFS/YES tahun 2016/2017, berharap pengalaman singkat dan sederhana ini dapat membantu kalian. Be success! Kuatkan niatmu, ini masih awal πŸ˜‰

Jadi, untuk seleksi AFS/YES sebenarnya jalur awalnya sama, yaitu melewati seleksi tahap 1 sampai 3 yang dilakukan di chapter masing-masing (kali ini saya berbicara chapter Jogja, karena kebetulan saya ada di chapter tersebut). Nah, setelah semua peserta terseleksi hingga di tahap 3 barulah khusus program YES akan dilakukan seleksi selanjutnya (seleksi nasional yang terdiri dari perwakilan berbagai chapter) yang biasanya dilaksanakan di Jakarta. Namun pada entri ini, berhubung baru melewati seleksi chapter, sehingga saya hanya dapat memaparkan seleksi tahap 1 sampai dengan tahap 3. Sebenarnya sama saja antara seleksi di suatu chapter dengan chapter lainnya, namun khusus Jogja memang sedikit ada perbedaan. Berikut akan saya jelaskan seleksi-seleksi yang ada. Semangat!

Seleksi Tahap 1

          Pada seleksi ini, yang utama ialah peserta diuji pengetahuan serta kecerdasannya. Dalam seleksi ini akan terbagi menjadi 3 sesi, yaitn sesi soal pengetahuan umum, soal bahasa inggris, dan penulisan essay.

The first is inhale deeply and say “Bismillah, Seleksi Pertama” (mantapkan niat, fokus, dan jangan takut)

          Hei, jaga pikiran, jangan kemana-mana. Kamu masih di seleksi pertama, jangan terlalu sibuk memikirkan bagaimana seleksi tahap 2/3 bahkan pikiranmu melejit ke keadaanmu jika di sana. Fokus seleksi tahap pertama. Untuk sesi pertama tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, akan ada berbagai soal pengetahuan umum yang disediakan. Saranku jangan banyak belajar menjawab soal-soal AFS/YES tahun sebelumnya, karena tidak akan banyak membantu, dan setiap tahunnya pasti akan berbeda soalnya. Dari sekarang banyak-banyaklah baca buku pengetahuan umum (RPUL, buku pintar, atau semacamnya), itu akan sangat membantu. Soal yang biasa keluar adalah identitas negara, seperti presiden/perdana menterinya, ibukota negara, sistem pemerintahan dan lain-lain. Selain itu juga ada sebagian pertanyaan mengenai negara Indonesia sendiri, yaitu kenampakan alamnya atau kebudayaan daerah. Sisanya kurang lebih tentang beberapa materi pelajaran yang tidak terlalu rumit, biasanya materi tersebut sudah dipelajari di tingkat SMP, tetap belajar tapi jangan dibuat beban. Eh, hampir lupa, jangan lewatkan mencari tahu berita-berita yang baru-baru ini terjadi, em, jangan terbatas yang di dalam negeri ya, baca juga berita internasional, biasanya untuk berita internasional yang sering muncul seputar piala penghargaan seperti Grammy Award, Piala Oscar, Piala Dunia, dll. Untuk itu, banyaklah membuka situs internet, menonton berita televisi, dan membaca koran.
          Bila kesulitan untuk mencari buku pengetahuan umum, bisa saja kita memakai soal-soal seleksi tahun lalu untuk memperkirakan bab apa saja yang perlu kita pelajari, sehingga nantinya akan terasa lebih mudah untuk mencari materi di internet atau sumber lainnya. Berlanjut ke sesi ke dua yaitu soal bahasa inggris. Wuih, soal bahasa Inggris ini tidak sebanyak soal pengetahuan umum, jadi santai, eh tapi jangan kelewat santai. Lebih-lebih soalnya tidak terlalu rumit, pelan-pelan membaca kosakata baru dan pahami grammar. Kebanyakan kosakata di soal memang jarang terdengar, tapi jangan takut karena selama belum hari seleksi, kamu masih punya banyak waktu untuk belajar. Untuk soal pengetahuan umum dan soal bahasa Inggris ialah berupa soal pilihan ganda.
          Contoh-contoh soalnya kurang lebih seperti ini.

  1. Apa nama ibukota negara Ukraina? (Answer = Kiev)
  2. Peraih film bioskop kategori film terbaik pada piala citra FFI (Festival Film Indonesia) 2014? (Answer = Cahaya dari Timur : Beta Maluku)
  3. *maaf kalimatnya aku sedikit lupa, yang jelas pertanyaannya ini dimaksudkan menanyakan bahasa inggris anak kambing?* (Answer: Kid)

          Tidak ada yang menakutkan selama kita berlaku jujur ketika mengerjakan. Ingat, sekalinya mencontek, tanpa ada pemberitahuan, pihak panitia akan segera mencoret nama kamu. Langkah awalmu akan sia-sia. Jadi, yakinkan niatmu dan selalu percaya diri! πŸ™‚
         Selanjutnya setelah sesi kedua, ada break sebentar untuk sholat, makan siang, dan santai sebentar. Di waktu luang itu cobalah berpikir fresh dan lupakan soal yang sebelumnya. Lebih baik waktu ini digunakan untuk mencari kenalan dan berbagi cerita, karena yang namanya teman pasti akan membantu banyak hal, lebih-lebih jika sama-sama masuk ke tahap selanjutnya. Di setiap seleksi (tidak hanya tahap 1) selalu carilah teman, itu akan membuat kita lebih nyaman melewatinya. Setelah beristirahat barulah dilanjutkan sesi ketiga yaitu penulisan essay. Di sini yang jelas kita diminta untuk nulis essay. Untuk menyelesaikan ini, kita tidak diminta untuk masuk ke ekstrakurikuler jurnalistik, menjadi penulis majalah, atau semacamnya. Ini adalah soal berani,  beranilah menulis. Dalam sesi ini kita akan diberikan 3 buah topik dan diminta memilih salah satu untuk kemudian dijadikan bahan tulisan kita. Setiap tahun topiknya akan berbeda, misalnya ketika seleksi AFS/YES tahun 2016/2017 ini temanya kurang lebih seperti ini:

  1. Sebutkan 3 kesalahan terbesar dalam hidupmu dan apa yang kamu pelajari?
  2. Jika kamu pernah berada dalam situasi yang kamu diminta bekerja sama dengan orang yang tidak kamu sukai, bagaimana kamu mengatasinya?
  3. Jika kamu pernah diberikan tanggungjawab yang tidak kamu senangi, bagaimana kamu melewatinya?

          Kebetulan ketika itu aku memilih topik pertama yang menurutku lebih cocok untukku. Jangan takut, topik ini tidak akan menentukan benar salahmu dalam memilih, beranilah. Di sesi ini kamu diberikan 2 lembar kertas (folio untuk tulisan akhir dan buram untuk coretan). Intinya jangan berlama-lama di kertas buram, kalian hanya akan kehabisan waktu jika hanya fokus menghiasinya. Kalau kalian mau tahu apa yang aku lakukan dengan kertas buramku, akan aku beritahu, kurang lebih seperti ini:

          Nah, intinya dari semua itu bukan coretanmu harus seperti bagan atau harus rapi. Yang penting adalah apa yang kamu tulis jangan pernah lari dari topik, semuanya sudah tertata dan jelas akhirnya, ada bagian awal (yang menarik) dan bagian akhir dari tulisanmu (kesimpulan). Setelah kita tahu apa yang akan kita tulis, selanjutnya akan terasa lebih mudah untuk langsung terjun ke kertas folio. Di sini yang perlu kita perhatikan adalah pemilihan kata, buatlah yang menarik dan jujur tapi tetap memperhatikan bahasa Indonesia yang benar. Eh, eh, jangan dianggap enteng ya, karena gosipnya sesi inilah yang nilainya akan sangat berpengaruh untuk hasil akhir seleksi tahap pertama. Jangan takut salah, ayolah, lakukan yang terbaik! Buat sugesti dalam dirimu bahwa kamu adalah penulis yang hebat seperti ketika kamu di sosmed πŸ˜€
          Meskipun sepertinya seleksi ini menguji kecerdasan kita, tapi secara tidak langsung seleksi tahap 1 ini juga menyeleksi niat kita. Dari ratusan peserta, dimanakah peserta yang benar-benar mempersiapkan segala yang diperlukan? Dari persiapan berkas, persiapan belajar materi, semuanya secara tidak langsung menunjukkan seberapa besar minat kita dengan program ini. Jadi ayo lakukan yang terbaik, karena sepandai apapun kamu, bisa jadi kamu dikalahkan oleh mereka yang semangatnya berapi-api πŸ™‚
          Bagaimana jika sudah selesai melakukan seleksi? Fokuslah untuk berdoa yang terbaik, jangan terlalu banyak berharap, tetaplah bersyukur atas pengalaman yang kamu dapatkan selama mengikuti seleksi. Menjadi rendah hati sangat penting kawan, percayalah bahwa seberapa besar usaha kita segala keberhasilannya hanya akan terjadi atas izin Yang Maha Kuasa☺️



Seleksi Tahap 2

          Jangan lupa bersyukur dan ingatlah tujuanmu berada di sini, tetap fokus ya, jangan kehilangan semangat. Ini masih awal, ingat? Kamu di sini bukan mencari nama atau semacamnya bukan? Jadi jangan ceroboh dan tetap berdoa, ayo, lakukan yang terbaik!

Come on, man, you’re the best. Jadilah orang yang berani bicara dan berani jujur!

          Ini adalah seleksi wawancara. Kata yang mengerikan, bukan? Yah, aku mengerti, aku juga merasakannya. Baiklah, seleksi ini juga terbagi menjadi dua sesi. Sesi wawancara kepribadian dan wawancara bahasa Inggris, fokus ya, ini tidak semengerikan yang aku bayangkan ketika mendengarnya, jadi jangan gugup dan percaya pada dirimu sendiri.
          Kamu harus menjadi pribadi yang jujur sejujur-jujurnya ketika melakukan tes wawancara ini. Pada chapter Jogja tahun ini peserta tidak akan tahu ia mendapat wawancara yang mana terlebih dahulu, kita hanya menunggu nomornya terpanggil. Di sela-sela penantian itu, akan ada semacam “divisi peramai” atau kadang disebut “divisi HORE” yang mereka membuat acara games atau sharing di sebuah aula berkumpul, sehingga dapat mengurangi rasa gugup peserta seleksi. Kebetulan untukku, aku mendapat wawancara kepribadian terlebih dulu. Was-was? Tidak, karena aku tersenyum, ingat kuncinya: tersenyum.
          Aku masuk ke sebuah ruangan dengan tiga manusia di dalamnya.
          Seorang bapak, ibu, dan yang terakhir sepertinya kakak volunteer. Jangan pernah memikirkan bila ada ekspresi wajah mereka yang kurang menyenangkan atau seperti apa, tetaplah tersenyum, sopan, dan nyamankan dirimu. Seperti kata orang “dont judge a book by its cover” mereka akan menyenangkan ketika kamu dapat berbicara santai dengan mereka. Jadilah dirimu sendiri. Pada sesi ini, pastilah tiap peserta akan mendapatkan pertanyaan yang berbeda karena ini tentang menggali diri sendiri. Yang pertama kali, tunggu mereka memintamu duduk. Kemudian bapak di depanku memintaku menceritakan tentang diriku, aku memulai dengan hal-hal kecil seperti yang biasanya ada di biodata kemudian berlanjut di sekolah. Pewawancara akan tertarik bertanya sesuai hal yang mulai kita gunakan sebagai bahan pembicaraan sebelumnya. Aku bercerita tentang kawan sekolah kemudian mereka mulai mendalami tentang teman dan hubunganku dengan mereka.
          Kemudian berlanjut ke cita-citaku, bagaimana aku menyusun mimpiku, alasanku memilih program ini, juga pertanyaan yang bersifat “jika-maka” dan sebagainya. Pewawancara bahkan menanyaiku lebih dalam tentang organisasi-organisasi yang aku ikuti, jadi untuk para aktifis hendaknya juga menjiwai organisasi apa saja yang digeluti. Karena jika hanya ikut-ikutan pasti kesulitan untuk menjawab pertanyaan semacam itu. Jujurlah bila tidak tahu, itu akan jauh lebih baik daripada berpura-pura, itu hanya akan membuatmu termakan jawabanmu sendiri. Beranilah jangan kelihatan gugup πŸ˜‰
          Selanjutnya tidak berselang lama, aku terpanggil lagi untuk mengikuti seleksi wawancara bahasa inggris. Di ruangan yang berbeda dan bertemu manusia yang berbeda pula, kali ini jumlahnya 2 orang dan semuanya sepertinya volunteer, perempuan dan cantik, oh untunglah aku perempuan juga jadi tidak masalah jika aku berkata begitu. Aku tidak begitu pandai bahasa Inggris, tapi ternyata di seleksi ini memang yang diutamakan adalah seberapa beraninya dirimu untuk mengeluarkan kata dan berbicara dalam bahasa asing. Dari tadi sudah aku katakan bukan? Berani. Itu satu hal yang penting dalam wawancara, jangan takut salah. Untuk melatih kebiasaan berbahasa inggris aku bersama beberapa teman sering sesekali menyusupkan kalimat bahasa inggris ketika mengobrol, meskipun kami juga keteteran saat berbicara, tapi bagiku itu cukup membantu untuk mengasah keberanian jika suatu kali ada situasi yang mendesak untuk kita berbicara dalam bahasa asing seperti dalam seleksi kali ini. Jadi selama masih ada waktu, ayo berlatih! Jangan menyerah!
          Seleksi wawancara bahasa inggris biasanya hanya menanyakan tentang keseharian kita, sekolah, ekstrakurikuler, les, terkadang juga menyinggung alasan memilih program ini, alasan memilih negara ini, dan beberapa hal lainnya. Jika suatu kali tidak mendengar atau kurang paham dengan pertanyaan beranilah bertanya dengan “pardon?” maka pewawancara akan berbaik hati menjelaskan maksud pertanyaannya. Buatlah se-enjoy mungkin, jangan terlalu serius, jadi dirimu sendiri seperti saat kamu berbicara atau mengobrol bersama teman.
          Pertanyaannya kira-kira seperti ini:
          “Can you tell us about your school? Your extracuricular?”
          “Please tell us about your family….”
          “So how do you go to school everyday?”
          “Oh, so you wanna go to US. What’s thing that makes you choose that?”
          Akhirnya jika sudah selesai melaksanakan seleksi tahap 2 bersyukurlah “Alhamdulillah” karena sudah bisa melakukan yang terbaik. Tetap rendah hati dan hindari berpikiran tentang seleksi yang belum tentu kamu akan melewatinya, fokuslah untuk berdoa pada Yang Maha Kuasa satu-satunya yang menentukan hasil dari semuanya, Dia akan memberikan yang terbaik untukmu, percayalah πŸ™‚ Pengumuman untuk seleksi ini tidak secepat seleksi tahap pertama, jadi  bersabarlah πŸ™‚

Seleksi Tahap 3

          Wah, bersyukurlah karena pengalamanmu semakin bertambah dengan banyaknya seleksi yang akan kamu lalui. Ingat untuk tetap fokus, bagaimanapun juga, ini masih di tahap seleksi dan perjalananmu masih sangat panjang. Jangan lupa niatmu, kawan.

Jadilah orang yang terbuka, membuka diri dan wawasan.

          Pada seleksi tahap ketiga ini khusus di chapter Jogja mulai tahun lalu memang ada sedikit perbedaan dari chapter sebelumnya. Sungguh memberi sesuatu yang menurutku cukup menegangkan. Mungkin di beberapa blog lain telah diceritakan bahwa seleksi tahap 3 ini dinamakan “seleksi dinamika kelompok” ya sebenarnya di chapter Jogja juga peserta akan dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri banyak orang sesuai jumlah peserta di chaptermu. Bedanya, jika di chapter lain setiap kelompok ditugaskan untuk menyelesaikan suatu permasalahan dengan membuat sebuah inovasi benda, di Jogja akan terbagi menjadi 2 sesi kelompok.
          Pada sesi pertama, kita akan dibagi menjadi kelompok yang berisi 5 atau 6 orang yang kemudian disebut kelompok diskusi. Jadi, satu persatu kelompok akan masuk ke sebuah ruangan seukuran kelas yang sudah ada kursi sejumlah orang di kelompok tersebut yang ditempatkan di depan kelas. Sedangkan di depan kita akan ada beberapa juri dan sebuah kamera perekam. Setelah dipersilahkan duduk, kelompok akan diminta memilih amplop yang berisi sebuah kasus. Selanjutnya kelompok tersebut diminta mendiskusikan penyelesaian dari kasus yang ada, namun suara mereka haruslah terdengar oleh para audiens meskipun mereka berdiskusi dengan kelompoknya sendiri. Wah, begitu mengasyikkan jika sudah tenggelam dalam suasana diskusi, jadi kalau bisa dinikmati dan abaikan para audiens (anggap mereka tidak memasang mata pada kita). Akan terasa lega ketika sesi ini sudah terlewati, ini berlangsung kurang lebih 30 menit untuk tiap kelompoknya. Tetap bersemangat ya, ini masih sesi yang pertama.
          Setelah melalui sesi pertama dan menerima waktu istirahat yang cukup, selanjutnya diadakan seleksi tahap 3 sesi kedua. Masih dengan sistem kelompok namun dengan teman kelompok yang berbeda. Tugas selanjutnya adalah semacam simulasi wawancara. Em, jadi begini, masih di ruangan yang sama setiap kelompok masuk dan mendapatkan topik obrolan, kebetulan kelompokku mendapatkan topik yaitu tentang “Suku Rohingnya di Myanmar” sebenarnya di sini aku sedikit sedih karena tidak terlalu memahami topik tersebut, tapi aku mencoba tersenyum saat mendengar topik tersebut. Karena ini simulasi, para juri di hadapan kami mengaku mereka adalah wakil negara asing (tapi kita tetap memakai bahasa Indonesia) yang menanyai kita (selaku peserta) yang menjadi wakil bangsa Indonesia mengenai pendapat kita tentang kepedulian bangsa Indonesia sebagai tetangga Myanmar dan salah satu negara yang mayoritas muslim kepada Suku Rohingnya ini. Pada suatu titik, setelah beberapa saat wakil lain mengutarakan pendapat aku bermaksud mengatakan bahwa aku tidak terlalu memahami masalah yang dibicarakan. Yah, aku paham, itu semacam bom bunuh diri. Tapi menurutku daripada aku mengada-ada dan itu lebih memalukan, lebih baik aku mengatakannya bukan?
          Ya, benar sekali. Selanjutnya aku seperti ditembaki oleh berbagai peluru pertanyaan semacam, “Jadi Anda ingin mengatakan bahwa Anda tidak tahu dengan apa yang terjadi di negara Anda sendiri? Wah, tidak tahu apa yang terjadi dengan tetangga Anda?” Pertanyaan yang dilontarkan dengan nada-nada meremehkan. Nah di sesi ini memang suasananya cukup mengerikan, jadi tahanlah dirimu agar jangan sampai terbawa emosi.
          Selanjutnya pertanyaan mulai beralih menuju pendapat tentang toleransi di Indonesia dan semacamnya, sehingga aku dapat mulai ikut serta mengungkapkan pendapatku. Detik itu aku memahami bahwa aku sedikit kekurangan dalam hal cepat menerima informasi, itulah mengapa saranku untuk selalu membuka diri dan wawasan. Pada sesi ini kita diuji seberapa pandai kita membuat para wakil luar negeri itu mengetahui maksud kita (pandai-pandai kita menjelaskan pada mereka) dan bagaimana kita menguasai diri agar tidak terbawa emosi ketika disinggung masalah semacam itu. Untukku seleksi ini memberi pelajaran yang lebih dan pengalaman yang begitu mengena, ya, walaupun suasananya sedikit horor di sana.
          Nah, akan sangat lega ketika sudah bisa melewatinya. Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, pasti pada akhirnya kita akan mendapatkan yang terbaik. Tetap do the best, kalau kata Buzz Lightyear di Toy Story, “To infinity and beyond” (Menuju tak terbatas dan melampauinya).

Sukses untuk kita semua! Wassalam πŸ˜‰

5 comments on “Seleksi Bina Antarbudaya 2016/2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *