Momen aku menulis ini agak mewah. Bukan karena nulis di tongkrongan elit atau mengetik dengan device yang mahal, secara aku lagi goleran di atas kasur rumah sambil main hape yang layarnya ada retak di tengah. Momen ini rasanya mewah karena belakangan hari sulit kutemui yang seperti ini.

Momen hasil curian di tengah hari-hari yang haduh tenan.

Mungkin setiap kita pernah merasakannya. Dada sesak napas dan kepala seperti diperas. Dalam satu momen yang nyaris bersamaan, kita seolah dituntut melakukan banyak hal oleh keadaan, oleh orang tua, oleh urusan akademik, oleh amanah organisasi, oleh pekerjaan, oleh pasangan, atau oleh diri kita sendiri.

Hiiihhh, gemessss! Walhasil jadinya cuma dipendam sendiri. Huh, lalu macam disuguhi payung ketika sedang kehujanan, seorang konselor psikologi suatu hari mengingatkanku istilah yang tidak asing lagi.

Komunikasi asertif~


Huhhh. Kalau ada sahabat bertemu dengan diriku belakangan ini, akan tampak wajahku yang wallahi, jerawat yang merata di dahi, benjol kecil di mata kiri, dan badanku yang seramping ikan teri (oke untuk yang satu ini sih emang dari dulu ya wkwk).

Kusut

Mataku terpejam. Aku menarik napas dalam-dalam. Membiarkan ramainya isi kepalaku kosong agak lama. Kulepaskan segala urusan di kepala yang bikin pusing dan cenat-cenut tidak karuan. Cahaya putih mengisi pandangan gelap dalam kepalaku. Perlahan kubebaskan udara yang kutarik tadi. Mulutku terbuka sedikit. Tanpa suara. Kuulangi persis sebanyak tiga kali. Cukup melegakan rasanya.

Memang dalam setiap perjuangan, selalu ada momen dimana kita merasa kelelahan. Tenaga dan pikiran seolah tercurah ke sana sampai rasanya kini kehabisan. Kadang sebuah godaan untuk “berhenti” mampir seperti plesiran.

Kabur itu menyenangkan yaa, pikiran melesat cepat, tapi apa bijak melakukannya?

Beberapa hari lalu, aku mengikuti sebuah konseling psikologi secara daring. Memang belum bisa dibilang optimal, tapi cukup mampu meredakan kegelisahan dalam diriku. Beberapa cerita akhirnya tersampaikan dengan begitu melegakan. Aku bersyukur membawa oleh-oleh kecil yang cukup menyadarkan kekuranganku belakangan: komunikasi asertif.

Sudah sering kusimak dalam beberapa kegiatan diskusi, pelatihan, atau obrolan dengan teman. Hanya saja, belum sepenuhnya kumengerti maksudnya sampai saat sesi konsultasi hari itu.

Selama ini aku merasa seolah-olah sudah melakukan komunikasi semacam itu. Saking sering denger malah jadi kadang berpikir “halah udah tahu” dan menganggapnya semacam angin lalu. Beruntunglah, aku cukup berbesar hati hari itu, menekan keegoisanku, mengakui betapa aku emang belum paham banget, dan mohon untuk dijelaskan sebaik mungkin.


Sebelumnya aku tahunya komunikasi asertif itu ya tidak boleh memaksakan kehendak, tidak boleh mendominasi, harus menyeimbangkan setiap porsi obrolan yang kita lakukan. Sekilas aku merasa sudah mempraktekkan itu dengan baik. Senang mendengarkan dan mencoba memahami orang lain.

Namun, setelah konsultasi hari itu, aku semakin sadar ternyata nggak sesimpel itu. Dalam komunikasi asertif, kita juga didorong untuk mau mengekspresikan apa yang kita rasakan. Apa sih keinginanmu? Apa sih kebutuhanmu? Juga, siap menerima kritik. Selama ini aku seringnya kalau dikritik yaudah kumakan bulat-bulat, sampai-sampai isi mulutku jadi penuh dan jadi sulit ngomong. Walhasil nggak bisa membela diri. Padahal aslinya banyak hal yang ingin kusampein.

Banyak hal yang menjadi aspek komunikasi asertif. Intinya adalah bagaimana menjadi jujur dan berkomunikasi secara seimbang. Menurutku setidaknya ada dua hal minimal di dalamnya. Pertama, kita bisa menyampaikan apa maksud kita sebaik mungkin dan kedua, berusaha memahami orang lain. Semua dilakukan sesuai dengan porsinya.


Tentu aja orang-orang kondisinya beda-beda untuk mulai belajar komunikasi asertif ini. Di saat aku punya kesulitan untuk menyampaikan keinginan dan kebutuhanku ke orang lain, beberapa orang sulit dalam aspek lain. Seperti ada teman yang perlu belajar untuk mau mendengarkan orang lain, mengerem keinginannya untuk bicara banyak, atau memaksakan kehendak pada orang lain.

Dalam soal hari-hariku yang sedang merasa penuh sesak ini, aku belajar mencoba mengomunikasikan sebaik mungkin. Bila aku bisa melakukan sesuatu, kubilang iya. Bila aku tidak bisa, kubilang tidak. Bila aku harus menunda, maka kupaparkan alasannya. Mungkin nggak sepenuhnya sempurna. Kadang aku masih nggak enak dan nggak luwes menyampaikannya. Kadang disertai berbagai emosi yang nggak terkendali.

Tapi, aku akan mengingat ini: bahwa aku sedang berlatih. Tidak bisa buru-buru. Semuanya butuh pembiasaan. Nggak ada orang yang langsung mahir dalam berkomunikasi. Aku perlahan-lahan mencobanya. Latih terus, latih lagi. Sampai nanti harapannya aku bisa dan sadar, wah rupanya sudah terlewati masa pembelajarannya.

Beberapa tips yang kudapatkan antara lain dalam konseling tersebut:

  1. Coba pakai kata “aku” saat menyampaikan keinginan atau kebutuhanmu. Contoh : “Aku butuh air hangat.” daripada kamu bilang, “Kamu bisa ambilin air hangat ga?”. Waktu ini aku sempet ngerasa khawatir terkesan egois kalau pakai kata “okaaku”, tapi konselor tersebut menyampaikan itu tidak akan menjadi egois ketika dalam diriku tidak ada tendensi memaksakan kehendak atas orang lain. Jadi, perlu disertai keinginan untuk saling memahami.
  2. Sampaikan dengan jelas. Kamu bisa menyampaikan senyamanmu. Misal ga nyaman ngomong, kamu bisa ngasih cara lain misal lewat tulisan.
  3. Dalam nerima kritik, santai dulu aja, yang penting tenang. Dicek dulu, bener atau enggak kritiknya. Kalau emang ada hal-hal yang bisa disampaikan langsung gapapa, kalau gabisa ya gapapa. Ga selalu harus ditanggapi, bisa juga cuma dicurhatin ke orang lain atau diungkapin via tulisan biar lebih lega. Misalnya nggak bisa merespon secara langsung gapapa, diproses dulu. Untuk soal ini aku jadi inget dulu ada kakak kelas SMA yang biasain tiap evaluasi rapat kegiatan, habis dapet kritik, dibalesnya kalau bisa satu atau dua hari kemudian. Jadi kita punya waktu untuk merenungkan itu bener atau enggak. Nggak pakai emosi :”) masyaallah

Yah, seneng banget. Seger banget habis dapet kucuran insights soal itu.

Salah satu hal penting dalam menghadapi setiap masalah menurutku (yang kita sering lupa di masa sekarang) adalah kesadaran. Menjadi mindful terhadap apa yang kita hadapi. Kadang demi seolah-olah “keluar dari masalah”, kita malah kabur dari masalah itu. Menjauh dan enggan menghadapi. Padahal yang perlu dilakukan adalah menenangkan diri tanpa bermaksud lari, menyadari apa yang terjadi, mencoba memandang dari sudut yang lebih luas, lalu mengambil keputusan dan memperbaiki dari hal yang paling mungkin diperbaiki.

Tidak perlu muluk-muluk. Mulai dari hal kecil yang bisa diperbuat.

Mungkin hal itu yang sedang aku usahakan untuk memperbaiki pola komunikasiku. Menyadari kekurangan ini dan mau tergerak perlahan-lahan belajar membiasakan diri. Hehe, bismillah, lillah.

Terima kasih untuk teman-teman di sekelilingku yang secara tidak langsung menjadi guru dalam pembelajaranku. Hehe, kalau ada momen aku mundur, izin, menolak, dan sebagainya, tahu lah ya kenapa. Semangat bertumbuh bersama!