Semoga Diri Setia

Lupa daku pernah membaca dimana, tapi kata-katanya seperti terikat di dalam sanubari. “Sahabat sejati adalah yang selalu mengundang berbuat baik dan menjauhkan diri berbuat yang munkar.” Perlu dicatat bahwa maksudku ‘terikat di dalam sanubari’ bukan berarti kuakui diri sebagai seorang sahabat sejati, sebab sepertinya daku masih merasa jauh dari harapan itu.

***

#1
Sudah sekitar 3 tahun berturut-turut Ibu mengajakku menunaikan ibadah sholat sunnah Idul Fitri di Alun-alun Selatan, yang jaraknya sedikit lebih jauh daripada Alun-alun Utara. Tapi, bukan karena iseng-iseng saja. Melainkan sebuah amanah menunggu beliau di sana.

Pasalnya, Ibuku bersama ibu-ibu aktivis lainnya dirangkul oleh PHBI (Panitia Hari Besar Islam) untuk dilobi membantu mengelola kegiatan sholat Id. Apanya yang dikelola? Sebetulnya lebih ke urusan teknis. Yakni memastikan kerapian shaf sholat sehingga penuh dan tidak berlubang di tiap barisnya. Karena ternyata di Alun-alun Selatan, yang luasnya tiada tara walaupun mungkin lebih luas Alun-alun Utara, banyak jamaah yang senang berada di pinggiran lapangan demi menuai kepulangan yang lebih mudah. Padahal hal itu cukup mengusik akses jalan masuk bagi jamaah selanjutnya. Walhasil, satu-dua banyak yang di pinggiran, eh, yang nantinya melanjutkan. Dan ibu-ibu aktivis kampung tadi diamanahi tugas untuk menjaga kerapian shaf tersebut supaya sempurna barisannya.

Di awal kesempatan membantu Ibu, cukup membikin mulut menganga menerima respon yang mana tidak terduga. Untukku pribadi alhamdulillah tidak terlalu ngeri. Tapi, ada beberapa ibu lain yang ketika berniat baik-baik mengingatkan, kena semprot sampai katanya misuh-misuhan. Cita-cita baik memberikan arahan ternyata disambar oleh penolakan yang berlebihan. Allohu.

#2
Beberapa waktu lalu, aku jadi super produktif datang ke perpustakaan kampus di pusat maupun fakultas. Hehe, tapi datang doang, yang sebetulnya super aktif mencari bahan bacaan adalah Babe. Sebab ketika itu sedang fokus dan panas betul beliau menyusun buku yang menurutku pikirannya cukup kontroversial.

Hoho, mungkin sebagian sahabat sudah pernah mendengar perdebatan soal betulkah Majapahit itu merupakan kerajaan Islam? Ok, daku masih buta sejarah, jadi kalau diminta menjelaskan malah takutnya tambah parah. Tapi, begini, sekilas pembahasan ini terdengar seperti fakta-fakta ganjil mengenai Indonesia adalah sejatinya Atlantis atau Borobudur dulunya dibangun oleh Nabi Nuh as, dsb. Diriku juga ndak tahu apakah informasi yang ber-sliweran itu betul atau bagaimana. Tetapi, dalam mengupas topik ini Babe berfokus pada penelitian manuskrip, seperti prasasti dan bukti sejarah semacamnya. Sekilas dalam suatu obrolan, Babe pernah menjabarkan bahwa pembacaan prasasti selama ini banyak yang diterjemahkan secara ngawur dan alhasil tidak betul-betul tuntas menjelaskan kejadian di masa lalu. Meskipun begitu, yang aku tangkap, Babe memberikan garis bawah bahwa sementara kerajaan Majapahit memang mempraktekkan beberapa hukum-hukum Islam sesuai yang diseratkan dalam kitab Negarakertagama. Lebih jelas lagi, bila tidak tahan, monggo mendalaminya lewat buku “Kesultanan Majapahit” karya Ki H. Ashad Kusuma Djaya.

Nah, untuk apa kusinggung ini? Jadi di beberapa kesempatan mendampingi, daku menemukan sebuah pemandangan luar biasa. Yakni berada sebagai pribadi yang memiliki pandangan baru dan terlalu berani (menurutku sih begitu) tidak menciutkan beliau. Itu benar, dalam pandangan beliau, berarti perlu dikuak. Dan lagi, baiknya adalah beliau selalu membuka lebar pintu diskusi bagi pribadi-pribadi yang berseberangan pandangan.

Bahkan dengan salah satu dosen di fakultasku yang awalnya Babe ndak kenal, beliau sampai niat sekali berkunjung ke rumah maupun datang ke rumah sakit saat suami sang dosen sakit demi membuka peluang-peluang bertukar pikiran. Terlihat dalam tindakan Babe, bahwa kalau kaki berada di atas kebenaran, tiada perlu ada ragu untuk menunjukkan di mana tanah pijakan. Sungguh, beliau berani sekali. Aku saja deg-degan.

***

Aduhai, memang terkadang inspirasi datang dari pandangan mata yang tidak sengaja membaca orang lain berbuat apa kemudian menghadirkannya menjadi rangsangan yang masuk ke otak lalu berkelak-kelok diolah dan menjalar ke bagian tubuh yang kita sebut eksekutor.

Betapa daku merasa masih sangat jauh dari yang namanya sahabat sejati. Memiliki kepiawaian menumbuhkan rasa berani mengajak kepada yang baik dan menjauhkan dari yang munkar. Sekali dua kali menghadapi pribadi yang memang mudah direngkuh, ya, lancar saja. Tapi mungkin jumlahnya hanya hitungan jari. Sedangkan banyak sekali terlewat kesempatan membuktikan diri sebagai sahabat sejati dari pribadi-pribadi lainnya.

Belum sempat kalimat terlahir, sudah terbayang bagaimana kalau responnya nyinyir. Belum sempat ada usaha mencoba, sudah menyerah sebab khawatir hanya akan sia-sia. Akhirnya, tetap saja kubiarkan banyak sahabat lepas dari genggaman tangan. Tanpa ada upaya, meskipun aslinya berdaya.

Padahal, alaupun pada akhirnya lawan bicara tiada terpanggil oleh apa yang sudah kita utarakan sebagai undangan, setidaknya kita punya gambaran ke depan. Oh, besoknya metode ngajaknya bukan begini lagi, besoknya harus ada inovasi.

Pun, yang namanya beda pandangan yang menimbulkan gesrekan sebab beda pandangan sebetulnya merupakan salah satu langkah mendekatkan diri pada kebenaran. Perlu betul kita sadari, walaupun daku sudah mantap mengajak sahabat lain pada yang baik dan menjauhi dari yang munkar, tapi siapa tahu diri sendiri malah terlena dan tidak sadar akan kesesatan sendiri. Saat itulah giliran sahabat lain yang mengingatkan. Dan, itu akan susah kejadian bila kedua belah pihak sama-sama tidak memiliki keberanian untuk bertemu dalam momen ‘beda pandangan’.

Keberanian. Sejatinya ndak perlu ada masalah antara daku dengan yang satu itu. Sebab, kalau tidak berani lantas bagaimana? Haruskah mengakui bahwa daku takut? Sedangkan Yang Maha Ditakuti sejatinya hanya satu. Dan itu bukan makhluk.

Maka, harapku besar semoga diri tetap setia menjadi sahabat. Sahabat sejati yang sepenuh hati tergerak mengajak sahabatnya berbuat baik dan berusaha hingga mati menjauhkan sahabatnya dari hal-hal yang munkar. Semoga, ya.

Bismillahirrohmanirrohim.

Yogyakarta, 5 Syawal 1439

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *