Senandung Pubertas

Hei kalian anak SMA, inget nggak lagu kita waktu tahun 2000an?
Jaman masih taman kanak-kanak itu…

Tik tik tik.. bunyi hujan di atas genting. Airnya turun tidak terkira. Cobalah tengok daun dan ranting. Pohon dan kebun basah semua.

Nah, akhir tahun 2015 ini yang bergerak ke 2016 umur kita udah berasa nggak cocok gitu ya kalau diminta menyanyikan lagi lagu semacam itu. Hmm, ada terobosan baru nih dariku buat kalian, coba kalian nyanyikan lagu berikut dengan nada yang sama… 

Jeng jeng jeng.. cowo ganteng di atas genting. Tubuhnya turun tidak terkira. Cobalah tengok wajahnya bening. Pohon dan kebun baper semua.

          Udah, enggak usah baper, kita mulai dulu dengan membaca bismillaahirrahmaanirrohiim hehe, tadi lupa ya maafkan. Gimana? Dari dua lagu itu lebih suka yang mana? Hayo, enggak perlu malulah, aku aja pilih yang kedua (eh). Hehe ngomong-ngomong, gengs, ternyata banyak lho sekarang cara untuk buat kita jadi baper, kebawa perasaan, galau nggak jelas begitu.
          Sadar nggak sadar. Ngaku nggak ngaku. Tapi iyakan?
          Semua media. Baik media sosial, media cetak, media elektronik, semuanya seolah bisa jadi memainkan perasaan kita. Sebenarnya, bukan seolah lagi ya, tapi emang iya.

I love you, you love me, we are happy family, with a great big hug and a kiss from me to you, want you say you love me too?

          Wah, lagu jaman kaman itu ya gengs. Senang rasanya kan dulu kalau nyanyi hore-hore bersamaan dengan joged ala-ala india walaupun nggak nyambung. Nah, kamu nggak tahu kan lagunya di tahun ini udah ada gubahan barunya.

 I love you, you love her, we are really bad couple, with a great big hug and a kiss from you to her, don’t you say you kiss me too!

          Hororable kalau begini. Dijamin yang nulis lirik itu pasti jomblo ala kadarnya. Kadang kalau kita mendengarkannya bisa ikut keterusan menyanyikan, berikutnya terjerumus ke dalam ke-baper-an. Hohoho. Kalau sudah begitu siapa yang bisa menyelamatkan? Hohoho.
          Selain merubah-rubah lirik lagu nih, masih ada lagi yang juga mengubah liriknya menjadi bahasa Jawa. Beneran, untuk yang ini aku akuin sangat kreatif dan penulisnya adalah salah satu insan berbudi yang mau melestarikan budayanya.

Namaku cinta. Ketika kita bersama. Berbagi rasa sepanjang usia. Hingga tiba saatnya aku pun melihat. Cintaku yang khianat. Cintaku berhianat.

           Diganti jadi:

Jenengku Tresno. Nek pas awak dewe bareng. Menehi rasa sadawa umure. Nganti uwis wektune aku yo ningali. Tresnoku le ra setyo. Tresnoku ra setyo.

          Sangat membuat baper.
          Sayangnya semudah itu kita dibuat baper.

Untuk beberapa hal, tetap harus diakui bahwa teman-teman kita yang seperti itu memiliki kreativitas yang keren. Karena kan nggak semua orang bisa berpikiran melakukan hal-hal tak terduga. Hanya ada ‘sayangnya’ budaya remaja kita, sudah mulai terseret ke budaya percintaan, bahkan ke-galau-an.

Mmm. Lama-lama ciri-ciri pubertas nambah satu tuh. Kepala botak. Habis semua remaja galau mulu. Waspadalah, waspadalah. Hari kita panjang, marilah hidup senang. (aamiin)

Nah, ngomong-ngomong nih buat temen-temen yang hobinya sama kaya aku yaitu memorak-morandakan lirik lagu, yuk mari usaha menghidupkan remaja kita dengan lirik lagu yang edukatif dan inspiratif. Nggak melulu tentang percintaan dan pembaperan. Bolehlah satu kali dua kali, tapi entar susah nih kita ngatur emosi pribadi, belum orang lain. Bukannya lebih baik menempatkan bakat kita dan mengembangkannya pada hal yang bersifat positif?

Jadi, untuk generasi muda kreatif dan cerdas, mari bangkit!
Senandung remaja untuk masa depan yang inspiratif dan memotivasi!

2 comments on “Senandung Pubertas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *