Sepatu Favoritku

Prok, prok, prok ada sepatu

Sepatuku sudah bau

Kudapat dari sobatku

Alasannya ku nggak tahu…”

 

Beruntunglah kalian hanya membaca lagu ini lewat liriknya yang sudah kumodifikasi. Coba kalau langsung mendengarnya dari bibirku, aduh, bisa-bisa betul ada sepatu terbang ke arahku. Hehehe, he, hehe.

 

Oke, tiba saatnya memamerkan dua sepatu favoritku yang setia di sini (secara tidak langsung, di sini ingin kukatakan: akulah yang setia,¬†sebab telah ‘memutuskan’ untuk masih bersama keduanya), hehe. Dua sepatu ini sama-sama berharganya, walaupun aku masih kurang pandai menjaganya. Emang kadang karena sesuatu itu berharga, kita jadi susah menjaganya, iya nggak sih? Eyadaw, ngomongin sepatu ya ini.

 

Aku punya dua sepatu, namanya Bubu dan Bibi. Itu namanya baru fixed belum lama ini sih aslinya. Bubu itu sapaan untuk si sepatu abu-abu. Sedangkan, Bibi itu sapaan untuk si sepatu biru. Lebih untuk memudahkan saat aku kebingungan mencarinya, langsung kuserukan di rumah, “Ibundaaaa, Bubu di mana yaa?” atau begitu juga saat mencari Bibi. Hihihi. Ibuku memang lebih mantap daripada Gugel kalau menyoal letak barang-barang di rumah.

 

Everything has story behind it. Begitu juga Bubu dan Bibi. It has given me much memories.

 

Bubu telah menemaniku bertahun-tahun, paling tidak sejak di bangku SMP, mungkin akhir-akhir. Aku ndak pernah merasa senyaman dan se-‘aku’ itu saat pakai sepatu selain sama Bubu. Masalahnya adalah tiga tahun selama berada di bangku SMP, keinginanku untuk beli sepatu yang selaras dengan hati tuh jarang sekali. Ini soalnya SMP-ku punya ikatan dengan sebuah sekolah ‘semi militer’ sehingga dengan alasan latihan kedisiplinan jadilah muncul juga aturan yang mewajibkan siswa-siswinya bersepatu hitam. Totally black, hitam penuh. Tidak boleh ada warna lain, sama sekali. Tali sepatu bukan hitam? Jelas nggak boleh. Ada garis selain hitam? Tetap nggak boleh. Ada titik selain hitam? Noooo, nothing but black, pokoknya. Hadeeeh. Sampai-sampai untuk sepatuku yang di ujungnya berwarna putih, aku pernah ber-ide menutupnya dengan lakban. Hehe. Kalau inget itu, aku jadi bangga bahwa ternyata dalam diriku ada sifat pemberontak juga. Hal yang mahal harganya belakangan, ehe.

 

Terus, detik-detik akhir mengusaikan kelas 3 SMA aku membuka lembaran baru dengan sepatu baru. Itu, Bibi. Pertemuannya sungguh mencipta haru. Pertemuan itu berkat dua sahabat cantik yang begitu baik, pertama, Febiola Aurora alias Febi, dan kedua, Amanda Sheila alias Secil. Dua pribadi yang sejujurnya, bahkan sampai saat ini, masih sering membuatku minder sekaligus belajar banyak. Entah kenapa, aku merasa Allah begitu baik karena menjodohkan kami bersama di kelas XII IPA 3. Interaksi yang tidak bisa dibilang intensif tapi selalu berbuah manis, menurutku, jadi semacam obat untuk beberapa kekacauan hati yang aku rasakan di kelas tiga. MasyaAllah, alhamdulillah. Wohooo, balik ke topik soal sepatu. Jadi pada waktu itu, mendekati pengulangan hari lahirku yang kesekian kali, pesan dari Febi merangsangku tergerak berbalas pesan:

 

“War, ukuran sepatumu berapa?

… mau ngado sepupuku nih, tingginya sih sama kayak kamu.”

 

Mmmm, untukku yang gampang banget ke-ge-er-an, nggak mau dong yang sok-sok kepedean. Tetep kujawab sebagaimana adanya, buahaha. Lalu, singkat cerita, jadilah hari pengumuman kelulusan tiba. Febi dan Secil entah bagaimana duduk berdua dan menyapaku dengan binar mata dan senyum mempesona (ya, mereka selalu gitu cuy). Lalu tersuguh kotak itu padaku. Kalimat yang indah tersampaikan, “Dipakai untuk berbagi manfaat ya.”

 

Aduh, duhai, Sahabat. Kalau inget ini rasanya … hmmm, jadi mikir, aku udah ke mana dan ngapain aja dengan Bibi. Tentu, ini bisa jadi salah satu modal refleksi, aku jadi terus diingetin. Huehue, mulai dari sepatu.

 

Ya, ceritanya sih gitu, aku cuma mau berbagi soal itu. Hehehe.

 

Bibi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *