Hi, I am 19th years old and still like to cry. Hai, aku sudah 19 tahun dan masih suka menangis. Mostly because of getting scared at several thing. Seringnya karena ketakutanku pada beberapa hal.

It’s scary, at least for me. Ini mengerikan, setidaknya untukku sendiri. My extended family from hometown was coming and visiting our house. Keluarga besarku datang dari kampung dan berkunjung ke rumah. Including to my little cousin, a cute one. Termasuk sepupu kecilku yang manis. Yet scary. Tapi mengerikan.

Source:here


He played a toy.
Dia memainkan sesuatu. A ball if which you shake, there will sound, “Cek kecek kecek”. Sebuah bola yang kalau dikocok akan berbunyi “Cek kecek kecek”. Happy to see him, and it was no matter before he did more than playing. Senang rasanya melihatnya, dan tiada masalah sampai akhirnya dia nggak main-main. He didn’t played anymore. Dia nggak main-main.

That ball came to me. Bola itu datang badaku. Intentionally. Secara sengaja. Exactly hit my chest. Persis mengenai dadaku. He shouted, “Yuhuu!”. Dia berseru, “Yuhuu!”. Inside of considering it as a play, I cried. Bukannya menganggapnya keseruan, aku malah menangis. It was scary, you know. Itu ngeri, kamu tahu. I just cried and mother came to me. Aku cuma bisa menangis lalu Mama menghampiriku. “What happened?” said she. “Kenapa?” katanya.

I just cried, had no words. Aku hanya menangis, nggak bisa bilang apa-apa. It was scary. Itu ngeri.

***

It was extremely scary. Itu betul-betul ngeri. I thought it just happened and I could forgot it. Kupikir itu cuma lewat dan aku akan lupa. But, no way. Ternyata, nggak! Here, I got harassment. Di sini, aku seseorang yang dilecehkan.

That happened when I was just a kid. Itu terjadi saat aku masih kecil. In that time, together with my mother I went to our hometown by bus. Saat itu bersama Mamaku, aku mudik ke kampung halaman menggunakan bus. In that time as today, many street vendors go in and out from bus easily. Saat itu sama seperti sekarang, banyak pedagang asongan masuk keluar dari bus dengan mudahnya. As easy as they get interaction with passengers. Semudah interaksi yang bisa terjadi dengan para penumpang. As easy as anything happens. Semudah apapun bisa terjadi.

There was a man who sold kid magazines. Tampak seorang lelaki menjual majalah anak-anak. I love magazines and books, but too afraid I was to talk with the seller. Aku menyukai majalah dan buku, tapi terlalu takut berbicara dengan penjualnya. Beside me, my mother slept away. Di sampingku, senyap Mama terlelap. The seller looked at me and handed one of the magazines. Penjual itu menatapku lalu menyodorkan salah satu dagangannya. It went so fast until I know it had happened. Itu terjadi sangat cepat sampai aku sadar itu sudah lewat. You know, I am dying everytime I try to tell you what just happened guys. Kamu tahu, aku tersiksa tiap kali mencoba bercerita tentang ini. I thought it is easy, but no. Kupikir ini akan mudah, ternyata enggak. It was the hardest part to tell about what was going on then. Inilah bagian tersulit untuk diceritakan: apa yang terjadi setelahnya.

His hand immediately touched my chest for a while. For the sake of God, I do not want to translate that to my native language. Sumpah, aku nggak akan mau menjelaskannya dalam bahasa ibuku. I don’t, I won’t. Tidak mau, tidak akan mau! No, no, not for a while. Nggak, nggak, nggak sebentar. I thought, it was a minute, the longest one minute I ever experienced. Mungkin itu satu menit, satu menit terpanjang yang pernah aku temui. That just happened, that man went out from bus after taking back his stuff. Itu terjadi, lalu penjual itu pergi setelah membawa majalah dagangannya. I did not know what would I do then. Aku nggak ngerti apa yang harus kulakukan setelahnya. May be just me who did not feel good anymore, while others were doing their activities without realizing something bad had happened in the bus. Mungkin hanya aku yang nggak merasa nyaman lagi, sedangkan orang lain beraktivitas biasa tanpa menyadari sesuatu yang buruk sudah terjadi. A scariest one in my life. Sesuatu yang paling mengerikan dalam hidupku. Which I should live with this memory. Yang mana aku harus hidup dengannya.

***

I just cried. Aku cuma bisa nangis. “Do you get hurt?” my mother asked. “Sakitkah?” Mama bertanya. “Yes, Mom, I am dying inside.” Ya, Mah, aku tersiksa. But those words never come out. Sayangnya, kalimat itu nggak pernah bisa keluar. She hugged me tightly. Mama mendekapku kuat.

Again and again, everytime I remember and feel dying, this just ended like this. Lagi dan lagi, setiap aku ingat dan terluka, selalu saja akhirnya begini. I cannot speak up. Aku nggak bisa mengungkapkannya. Never. Nggak akan.

*** SHARING SECTION ***
Hai, gimana rasanya setelahnya membacanya? Sesuatu berarak di dalam kalbumu? Seperti deburan ombak yang rindu akan pantai? Kian lama kian cepat, awalnya membesar tapi kemudian menjadi kerdil lagi?

Oya, sebelumnya harusnya kumenyapa dengan doa lebih dulu. Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh, sahabat-sahabat yang selalu membuatku terpikat untuk bercerita. Hari ini, setelah lama menunda-nunda, akhirnya bisa juga kusampaikan cerita ini. Cerita pengalaman siapa ini? Mari kita rahasiakan.

Entah bagaimana semakin kemari, banyak sekali situasi di mana aku menyadari bahwa betapa ngeri ya hidup ini. Kadang membuat pesimis oleh banyaknya dorongan manusia kepada kegelapan, tapi sekali lagi dibesarkan lagi hatinya, “Selama mengaku jadi manusia yang hidup, maka haruslah siap menghidupkan kemanusiaan, bukan lari dari keadaan yang tidak bersesuaian.” Bismillah, karena Allah. Oya, apa saja “situasi” yang tadi kubilang berhadapan denganku belakangan?

  1. Cerita pengalaman yang sudah kusampaikan di atas
  2. Western Drama 13 Reasons Why (which I don’t recommend anyone to watch this, even I think it’s good)
  3. Pelecehan mahasiswi UGM saat KKN (#KitaAgni)
  4. Kiriman tirto.id di Instagram
  5. Film korea berjudul “Silence” yang kutonton bersama teman-teman Peduli Difabel
  6. Dan banyak lagi deh kayaknya kalau kubiarkan terus menulis

Sebetulnya sering nggak sih kita denger cerita pelecehan yang terjadi? Ngeri ya kalau kita tahu banyak. Mmm, atau lebih ngeri lagi kalau kita nggak tahu sama sekali? Kata Ibunda Aurel, salah satu koordinator di UKM Peduli Difabel, kasus-kasus ini mungkin kayak fenomena ice mountain effect. Apa yang di permukaan kelihatan banyak, yang ndak kelihatan jauh lebih banyak. Karena emang ndak semuanya mau mengungkap, dan ndak banyak orang yang mau membantunya mengungkap.

Terkait kiriman tirto.id yang kubicarakan, baru-baru ini malah aku merasa ingin bilang “oiya ya” di kala sebelumnya waktu pertama melihat aku malah biasa aja. Aku ndak akan bilang sepenuhnya aku paham betul soal ini, enggak. Tapi beberapa poin setuju. Bahwa di banyak kejadian, kita malah menyalahkan korban. Untuk poin ini, jadi banyak muncul pertanyaan kontroversial, “Kalau ada pelecehan perempuan seksi, yang salah korban atau pelakunya?” Nah. Gimana ya? Nyalahin korban atau pelaku nih? Yakduh.

Selama aku SMA dulu, pertanyaan seperti ini akan dengan mantap kujawab “ya dua-duanya”. Dan sekarang, apakah akan sama jawabanku? Mmm, baik sahabat-sahabat, maafkan untuk mengecewakan Anda sekalian. Tapi sejujurnya jawabanku adalah “tergantung”. Huhu, maaf ya, ini jawaban orang-orang yang mungkin terbaca ndak punya pendirian, tapi memang mantap hatiku menjawabnya demikian. Bagi teman-teman pelaku, menurutku memang tidak ada pembelaan tepat yang bisa diberikan. Pembenaran apa jal yang bisa dipakai untuk tindakannya? Kecuali kalau pelecehan itu emang ndak benar adanya. Tapi kalau benar?

Teruskan hidupmu, ambil tanggungjawabmu. Kalimat di madrasah diniyahku dulu, “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.”

Bagi teman-teman yang pernah dilecehkan, mau bagaimanapun, bila dengan santai kita tuduhkan dia bersalah padahal kondisinya lebih sering berada di pihak yang lemah (nggak bisa bersuara, malu, tertekan, dsb) akan lebih parah kalau di saat seperti itu kita malah menyalahkannya. Kenyataannya banyak orang-orang yang menekan dengan pernyataan, “Ah, kamu juga seneng kan? Tuh, bajumu juga ngundang nafsu. Halah gitu doang. Kenapa kamu nggak membela diri? Kenapa nggak ngelawan?” Kalau dulu, mungkin bisa aja diriku juga akan melempar pertanyaan demikian. Tapi, hei, gilasih, baru disadarkan betapa bagi para korban, emang nggak mudahnya mengungkap atau melawan keterdesakan. Atau kalau kita memang merasa itu mudah, kenyataannya belum semua orang sesukses kita.

Drama 13 Reasons Why (yang aku sama sekali tidak menyarankan untuk ditonton) memberiku banyak rasa sakit. Salah satu adegan menceritakan soal perempuan yang sebelum dia bunuh diri, sempat ia mencoba berkonsultasi dengan guru BKnya karena ada seorang teman yang memperkosanya (kata ini sejujurnya nggak nyaman kutulis, serius) di sebuah pesta. Tapi ternyata sangat tidak memuaskan hasilnya, sekali lagi perempuan ini disalahkan. “Kamu datang ke pesta itu karena keinginanmu sendiri? Kamu ndak membela diri?” Well, pertanyaan-pertanyaan ini akan diseret kemana pada akhirnya? Ya, korban disalahkan. Cerita di film Silence juga nggak jauh berbeda, hanya bedanya para korban adalah siswa-siswi difabel di suatu sekolah. Entah gimana, tapi dua karya ini kok ya mengambil latar belakangnya adalah tempat pembelajaran. Ugh.

Aku mau menuliskan lebih banyak, tapi takut malah semakin lari dari poin utamanya. Khawatirnya malah makin kabur, malah mengigau dan bicara seenaknya. Yang jelas, aku mungkin lebih banyak ingin mengatakan kepada teman-teman sesama perempuan, saudari-saudariku tersayang (walaupun dalam hal ini korban ndak selalu perempuan ya ternyata, kalau temen-temen inget Jo si bintang bulu tangkis yang lagi eksis belakangan), tetaplah kuat dan menguatkan. Kita ndak beda dengan teman-teman lelaki, selain masalah fisik dan cara berperan. Dan yang jelas, kita tidak lebih lemah.

Bila memang ada yang kejadian pelecehan, pada saudari-saudari perempuan marilah kita beri kekuatan, “Kamu masih bisa terus memperbaiki diri. Kamu punya kami.” Satu lagi, marilah kesalahan itu kita timpakan pada diri kita sendiri, bukan orang lain, “Belajar dari kejadian-kejadian tersebut, oke, berarti aku harus berhati-hati.” Semoga kita termasuk orang-orang yang masih mudah berkomunikasi dengan hati, sebab belakangan dengan panasnya urusan dunia, jangan-jangan kita makin susah bermusahabah diri.

Terakhir, aku tahu aku tidak tahu apa-apa. Kebenaran yang haq hanya milik Allah swt. Maka dengan senang hati kuhormati bila ada perbedaan di antara kita untuk melihat masalah ini. Salam pembelajar! 🙂

Yogyakarta, 10 Rabbiul Awal 1440

Tinggalkan Balasan