Bismillahirrohmanirrohim. Aku mencatat empat hari perjalanan, anggap saja sebagai utang karena belakangan terlalu terlena dengan kegabutan dan tidak memenuhi panggilan kerinduan—untuk menulis. Sedangkan untuk tanggal 18, ada sebuah agenda yang dipenuhi seharian, semoga setelah ini mendapat kesempatan menceritakan. Dan untuk segala rasa malas dan wegah-wegahan belakangan, semoga Allah memberikan ampunan.

AYAT-AYAT CINTA 2
Setelah sedikit berpikir buku apa yang akan meneruskan perjalanan lari dari kebodohan, akhirnya kuputuskan biidznillah novel Ayat-ayat Cinta 2. Dan tak terasa cepat sekali, yah, untuk ukuran seorang Ahimsa menuntaskan buku yang nyaris 700 halaman dalam waktu tiga hari. Kuingat-ingat buku terakhir yang mungkin menggodok kehausan bacaku adalah tiga novel Icylandar yang terindukan dan belum dituntaskan pada seri keempat—sebab ndak ada biaya. Hahaha, begitulah, dan terlebih entah harus mencari kemana.

Tapi syukur sekali dipertemukan dengan buku Kang Abik yang kedua ini. Kurasakan pada halaman-halaman penutup, air mata mulai bergulir dari pelupuk. Nikmat! Aku rindu mengeluarkannya! Tidak kuat pada batinku membayang-bayang kejadian yang menyiksa. Kupikir begitulah penulis hebat, betul-betul membawa pembaca seolah pada kejadian nyata.

Siang itu pun, berangkat dari pengetahuan yang kudapat lewat status Whatsapp sahabat Ririn Desriani, kuketahui pada Senin, 19 Jumadil Awal 1439 (5 Februari 2018) sebuah kuliah umum terbuka diadakan di Fakultas Filsafat UGM. Pembicaranya, beliau, Habiburrahman El-Shirazy. Masya Allah. Sudah kubulatkan tekad dari beberapa waktu lalu, akan hadir ke situ. Berbeda dengan kesempatan sebelumnya, setidaknya tentu ada rasa lebih percaya diri. “Hei, saya sudah baca satu buku milik beliau!” Hahaha, dan memang betul, pada beberapa minggu lalu aku sudah khatamkan Ayat-ayat Cinta pertama itu.

Bodohnya, di hari yang ternanti-nantikan itu, aku tidak tahu ada jadwal kuliah. Kukira semua mata kuliah mulai dibuka pekan depan, eh, ternyata ada saja dosen yang mendahulukan (eh, hehe, maafkan). Syukurlah, berkat alur Allah SWT tentunya, aku diberi kesempatan cek handphone 15 menit sebelum kelas dimulai. Huh. Dan lebih-lebih beruntungnya, pagi itu hujan mengguyur dengan derasnya, saat aku masuk kelas terlambat 15 menit dan dosenku tertawa, kudapatkan pemahaman, “Wah, beliau memaklumi sebab mungkin pikirnya aku bersusah payah hujan-hujanan demi datang ke kampus dan tidak memilih bolos saja.” Lalu aku jatuh pada bayangan demikian, senang rasanya. Alhamdulillah.

Selesai kelas, aku membersamai Ma’rifatus Sa’adah menuju rumah kontrakannya. Sambil melakukan suatu kewajiban setiap hari, hehe. Senang sekali memerhatikan kehidupan orang-orang yang melancong ke kota baru, tanpa didampingi ayah ibu, menantang hidup, wah rasanya lucu melihat gaya hidup begitu. Setelah itu kira-kira pukul 1 siang lebih sedikit kami beranjak menuju Fakultas Filsafat. Masya Allah sudah penuh sekali. Beberapa kali kami tersesat. Beberapa kali kami ditantang untuk tidak malu bertanya. Lalu spirit itu yang muncul dari bibir Rifa, “Malu bertanya, sesat di jalan.” Lalu beberapa kali kami membicarakan soal keputusasaan dan kecemburuan terhadap lain pribadi. Alhamdulillah, betapa banyak impuls dari Rifa, “Hims, aku udah berhenti. Ngejar biar sama kaya orang lain malah melelahkan buat kita sendiri. Nggak bakal puas.” Astaghfirullohal adzim.

Kemudian di dalam ruang kuliah umum. Gedung C Filsafat, lantai tiga. Penuh, sumpek. Duh, mana ya ada kursi? Karena tidak lihat, kupikir lebih baik mencari yang agak mepet dinding pun tidak apa. Tapi yang luas, dan yang jelas menyimak dan melihatnya. Waduh, untuk itu, harus menyeberangi sekian manusia. Alhamdulillah. Ada rombongan yang membersamai. Ya sudah, gaskan. Sekitar baris ketiga dari depan ada yang masih kosongan, mataku menangkap dan bergerak ke sana. Kemudian tidak lama, di baris terdepan malah ternyata betul-betul masih kosongan, kugeret Rifa, hehe. Kita di paling terdepan. Ncen Ahimsa ngawur tenan. Nanti pada akhirnya bakal sampai pada kesadaran, ternyata baris terdepan sejajar dengan dosen sekalian. Allohu! Hahaha. Alhamdulillah.

Meskipun tidak berkesempatan pada sesi pertanyaan, yah alhamdulillah bisa kunikmati pengalaman hari itu yang menyenangkan. Rifa berseru, “Makasih ya Hims, udah ngajakin ke sini!” Alhamdulillah, I am happy to make your day, eak. Beberapa hal soal apa yang kucatat, biar kusampaikan di luar catatan keseharian nggih. Hehe.

Baik, ternyata untuk cerita soal bab Ayat-ayat Cinta 2, aku sampai larinya kemana-mana. Intinya adalah dalam memaknai novel itu… duh, rasanya sangat indah. Ya, pokoknya kalau aku sampai menangis berarti indah, haha. Berhasil memainkan perasaan.

Beberapa catatan untuk novel yang diterbitkan oleh Republika sebagai cetakan ke 12 pada Maret 2016.

  1. Indah! Hanya terdapat beberapa salah ketik yang sangat bisa dimaklumi.
  2. Alurnya baik, tapi sebuah instrumen kecil yang kurang jadi perhatian ialah pengiriman email dari Fahri kepada Aisha. Bila di awal sempat diceritakan dalam tiap momen, Fahri tidak pernah absen mengirimkannya, sayangnya setelah pembahasan itu, perihal email-email tidak terbahas lagi.
  3. Sedikit peristiwa aneh adalah munculnya saran dari Sabina kepada Hulya untuk membacakan puisi Aisha. Padahal di momen sebelumnya, Sabina meminta Hulya untuk menghindarkan Fahri dari bayangan soal Aisha.
  4. Pun sebetulnya sebelum kubaca novel ini, ada beberapa sahabat menceritakan kejadian janggal di film, yakni seperti operasi pada wajah Sabina yang mendapatkan donor wajah dari Hulya. Belum kutonton filmnya, namun mendengar cerita itu rasanya konyol juga. Sampai kubaca novelnya dan beberapa paragraf menjelaskan pengalaman beberapa tokoh yang juga mengalami pendonoran wajah, hehe. Dan itu cukup menjelaskan juga buatku. Mungkin pada film, kesan ilmiah pendonoran wajah itu yang kurang diperhitungkan, ataupun mungkin bukti empiris bahwa memang hal itu bisa dilakukan lho di dunia nyata.

Alhamdulillah, kurang lebih begitulah. Semoga semakin gereget bacaan setelah ini ya, Hims.

MENONTON WAYANG KEDUA KALI
Ini adalah tugas dari Pak Eddy Pursubaryanto. Dosen mata kuliah Folklore and Mythology yang sebelumnya di semester lalu mengajar Introduction to Humanities. MasyaAllah. Sebetulnya sedikit gemas juga awalnya, lagi-lagi ditugaskan untuk turun lapangan soal ini. Dan kebetulan memang ada pengalaman di semester lalu yang membuatku ragu dan ndak enak dengan beliau ketika aku tidak hadir di kelasnya saat ujian berlangsung. Serius, itu bodoh, dan memalukan.

Sebelumnya kami sudah membagi kelompok untuk tugas itu. Aku bersama dengan sahabat Dea Levana. Bismillah. Ba’da Isya’ Babe mengantarku menuju Balai Budaya Minomartani tempat dosenku akan mendalang Wayang Kancil. Serius masih ada rasa ragu, “Akankah ini seru?”

Tapi aku diingatkan, “Bahagia itu soal menyadari. Di sekeliling ada, cuma mau tidak kita menemukan dan mengakuinya?” Lalu aku berangkat dengan memantapkan dan menguatkan spirit itu. Aku tersenyum mantap. Di awal sebelum pembukaan, aku duduk di samping pembawa acara, seorang bapak dengan kumis tebal. Kami sempat beberapa kali mencipta obrolan.

Beliau mengaku budaya di sini yang mestinya dilestarikan ternyata belum banyak mengundang perhatian. Aku merasa bersalah karena tidak tergugah menonton sebetulnya kalau ini bukan tugas. Namun sebuah guyonan membuatku sangat nyaman. “Padahal di sini semua yang main TOP lho, Mbak.” aku menyambutnya dengan iya-iya. Tapi ternyata bukan begitu maksud beliau sebetulnya. “Tahu TOP itu apa?”

Aku menanyakan. Lalu disampaikannya, “Tanpa Oepah Purun” dan aku mengekek sambil seperti biasa memeragakan posisi hormat, “Siap!” seruku. Bagus juga. Mulai dari situ, aku jadi nyaman dan mencoba menikmati. Meskipun secara alur masih kurang bagiku, tapi dengan memerhatikan betul gerakan wayang dan translation-nya (yang memang mau tidak mau harus kubaca juga sebab itu tugasku) akhirnya bisa kunikmati. Lumayan.

Kemudian hari-hari setelahnya aku mengerjakan tugas laporan dengan Dea Levana. Kuingat hari itu tanggal 20 Jumadil Awal, yang seharusnya ada kelas Pancasila, tetapi ibu dosen memundurkannya. Lalu kami berdua memutuskan mengerjakan segera. Secara tidak langsung aku jadi perlu membaca-baca sejarah Wayang Kancil dan sebagainya. Kebetulan artikel Pak Eddy kami jadikan referensi. Baru kutahu nama Ki Ledjar yang merupakan salah satu perintis kehadiran Wayang Kancil (lagi) di Yogyakarta. Begitu terkenalnya Ki Ledjar kuketahui ketika habis ngobrol dengan Om Ashar kemarin saat di rumah eyang. Kutanya, “Lho, Om Ashar suka wayang?” kemudian dijawabnya, “Ya, tau-tau aja. Kan seenggaknya kalau orang Jogja perlu tahu. Habisnya banyak orang luar yang belajar, kalau kita ditanya nggak tahu, ya kan malu.” Oh, okay, okay. Dan saat itu aku betul-betul malu. Mana tahu aku dan mana terpikir aku?

MasyaAllah. Semoga jalan yang kutapak ini membawaku pada peningkatan yang memberikan barokah dan kebermanfaatan tidak hanya pada diriku pribadi.

SHOPPING
Agenda ini nyaris selalu ada ya di tiap catatan keseharian? MasyaAllah. Alhamdulillah. Kusyukuri, artinya aku menganggap bahwa kejadian dan pengalaman yang kudapatkan di sana betul-betul patut diapresiasi dan dihargai oleh batinku.

Beberapa waktu lalu Mbak Anis bercerita soal rombongan mas-mas yang lewat di depan toko buku Budhe Muji, salah satunya sedang melihat buku Ayat-ayat Cinta 2 karya Kang Abik. Kemudian ia berseru pada teman-temannya, kata Mbak Anis saat itu dengan bahasa Jawa yang kira-kira begini, “Sekarang, pilih Dilan yang nakal-pecicilan-bandel-tenan-tapi-setia atau Fahri yang alim-pinter-sholeh-baik-tapi-poligami?” Hahaha, aku tertawa sambil berseru, “Muangkeli!”

Untung bukan aku yang dipertemukan dengannya. Bisa-bisa mulutku gatel pengen bilang, “Pilih kamu, Mas!” Hahaha. Mah ngopo, Hims. Yah, begitulah. Kapan-kapan ingin kubuat tulisan untuk menjawabnya. Eh, kapan-kapan? Ah, kapan.

Beberapa hari ini aku mendapat banyak buku dari sana, tapi belum banyak yang kucerna. Terakhir, setelah Ayat-ayat Cinta 2, kumulai membaca karya Noam Chormsky “How the World Works”. Tapi entahlah apakah akan kuat. Bukan karena itu buku berat—walaupun memang. Tapi aku ragu sebab terlalu menyakitkan membaca bagian-bagian awal yang mengerikan. Mungkin otakku belum terbiasa dipertemukan dengan kenyataan. Aku selama ini mengunci diri di dalam kamar, di depan layar komputer, bermain game yang aku suka. Sedang suara-suara berisik di luar yang sebetulnya sebuah kejanggalan, aku abaikan. Oh my Allah, keterlaluan. Aku kuat, aku kuat!

Banyak orang membaperkan yang aku temui di Shopping, di antaranya Budhe Hafni dan eyang (begitu kami biasa memanggil beliau). Di setiap ba’da Ashar keduanya menyempatkan beberapa waktu untuk membaca mushaf Qur’an. Duh, teduh sekali. Baru kemarin ternyata sedang libur, aku dan eyang mengobrol sebentar, lalu bercerita satu dua hal di masa lalu beliau. Tanpa kutahu, eyang dulu ternyata adalah pengajar pramuka. Sama sekali tidak nampak. Aku membayang-bayangkan, “Akankah besok aku sampai tua? Kalau iya, akan seperti apa? Akankah sangat berbeda?”

Oh, iya. Ada pedagang baru di lantai atas. Seorang ibu dengan gaya modis yang sepertinya tante-tante sosialita. Beliau semangat sekali menjajakan buku. Mencari ke sana, mencari ke sini. Sering kutemui main ke kios Budhe Muji (sebab yang paling enak juga untukku berleyeh-leyeh dan semua orang di situ rasanya memang membuat nyaman, hehe). Sebab bingung kusapa beliau bagaimana, budhe tapi terlihat muda, tante tapi rasanya ndak nyaman, akhirnya, “Halo, budhe-tante!”

Begitulah, bismillah. Semoga apa-apa yang di awal ini terasa sekadar kewajiban, dapat kutemui kebahagiaan. Supaya betul-betul bisa kurealisasikan spirit do what you love and love what you do. Aduhai, indahnya hidup bila begitu!

KANTOR IPM JOGJA
Aku mempertanyakan diriku. Sebetulnya aku yang menghindarkan atau itu terjadi tanpa kesengajaan? Aku yang sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat mengenal diriku sebagai penghuni setia kantor IPM, belakangan merasa, kok jauh ya? Dan itu disinggung juga oleh Fanin sore lalu saat dia mendapatkan informasi kuliahku ditunda seminggu, “Lah, kok nggak main ke kantor?”

Kupikir, oh, iya juga. Berarti itu bukan perasaanku aja. Fanin juga berpikir begitu. Lagian saat itupun aku menuju ke sana sebab ada rapat Sie Acara untuk kegiatan Konpida. Apakah bila tidak ada maka aku enggan ke sana? Aduh, Ahimsa.

Tidak wajib memang, dan tidak harus tentu saja. Tapi ini suatu yang ganjal. Aku lho selalu nyaman di sana, selalu menganggap ke sana adalah tempat istirahat terbaik, keluargaku di sana. Tapi kok jadi jarang? Rasanya ada yang hilang. Bukan, bukan soal seseorang. Soal apa yang ada di batinku. Aku pikir ada ketidaknyamanan, yang seharusnya memang aku singkirkan. Kadang bicara dengan diri pribadi, akan kutemui, “Ya, buat apa gitu lho, Hims, ada perasaan begitu? Please, yang lain juga biasa aja!” Tapi pada saat momen-momen tertentu, perasaan itu hadir lagi.

Aku tidak mau. Bila aku begini, maka yang aku ragukan adalah… iman-ku. Dan serius, itu aku nggak mau. Bila aku mengkhawatirkan sesuatu, bila pada hati dan langkahku tidak ada kesesuaian, maka tidaklah terbukti imanku. Allohu, kuatkan aku.

Namun di malam itu juga, meskipun ada sedikit ketidaknyamanan (dan ketidakenakan sebetulnya karena kurang mengapresiasi beberapa upaya sahabat lain) aku sangat bersyukur diberi salah satu jalan untuk memunculkan motivasi selanjutnya. Oh yeah! Setelah laptopku rusak, laptop ibu rusak, dan sedikit kesempatan pinjam laptop dek Juang, sekarang ini aku dibolehkan Bunda Mumtazah membawa flashdisk-nya untuk mengopi drama korea terbaru. Allohu, Allohu. Sungguh membaperkan sekali! Semoga ada impuls kebaikan di dalamnya, hahaha. Barakallahulakum sahabat-sahabatku, siapapun itu.

LAGU-LAGU
Memang ndak baik mendengarkan lagu yang malah makin mendekatkan pada perasaan tak menentu—apalagi yang mendekatkan pada kemaksiatan. Tapi semoga bisa makin kupelihara telinga lewat nada dan suara yang makin mendekatkan pada-Mu.

Kusadari akhirnya
Kau tiada duanya
Tempat memohon beraneka pinta
Tempat berlindung dari segala mara bahaya

Oh Tuhan
Mohon ampun atas dosa dan dosa selama ini
Aku bertobat hidup di jalan-Mu
Tuk penuhi kewajibanku
Nanananana…. lupa liriknya~  

Yogyakarta, 23 Jumadil Awal 1439

Tinggalkan Balasan