Temu Kedua dengan Kang Abik

Kok temu kedua? Iya, hehe. Sebelumnya telah dianugerahi sebuah temu di acara Talkshow Kepenulisan Mu’alimin dua tahun lalu kurang lebih. Alhamdulillah, setelahnya berkesempatan lagi.

___

Sedikit dari apa yang kucatat dalam kuliah umum (stadium generale) di Gedung C Filsafat lantai 3 pada 18 Jumadil Awal 1439 lalu. Tema yang diangkat ialah “Proses Kreatif-Intuitif dalam Dunia Kepenulisan”. Sebetulnya diriku terlambat hadir, jadi mohon maaf bila catatan ini tidak sempurna dan berbaur dengan bacaan-bacaan belakangan. Hehe. Semoga bermanfaat.

Sumber kehadiran ilham (intuisi) :

  1. Allah SWT
  2. Syaiton
  3. Diri sendiri (nafsu) yang bisa berupa ajakan kepada kebaikan maupun keburukan.

Dan terkhusus bagi nafsu yang mengajak kepada kebaikan hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang memiliki mutmainnah. Jiwa yang tenang, yang banyak-banyak mengingat Allah SWT. Baru saja (betul-betul baru saja di 23 Jumadil Awal ini) kubaca juga kata mutmainnah itu dalam buah karya Emha Ainun Najib, “Menjelma Cinta” yang berikut potongannya.

Jiwa tenteram ya Allah
Jiwa muthma’innah
Tuntunlah hidup hamba berbenah
Karena di alam hidup jahiliyah
Tak diajarkan kepada hamba jiwa muthma’innah
      melainkan hanya kepasrahan yang salah

Sedikit baris-baris kalimat itu semoga mampu menggambarkan jiwa yang mutmainnah, yang perlu kesungguh-sungguhan dalam mencapainya.

Kemudian dalam beberapa pembahasan, beliau menyiratkan pengalaman-pengalaman selama menuliskan buah-buah karyanya. Di antaranya perjalanan di pesantren maupun Al-Azhar yang menuntunnya mencipta suasana-suasana sebagaimana terekam dalam buku-bukunya. Salah satu cerita yang kutangkap, meski kulupa cerita ini berdasar pengalaman beliau nyata atau sekadar oral story (cerita dari mulut ke mulut), begini:

Di suatu wilayah dekat pesantren, beberapa orang pemuda yang memang tidak senang dengan kehadiran Pak Kyai (oleh Kang Abik kadang disebut “Pak Yai”) sengaja membuat gemas beliau dengan main gaplek dan minum-minum di samping rumah beliau. Hingga larut, begadang, main, tertawa-tawa. Lambat laun habis juga uang untuk beli minum. Berhari-hari kan, ludes sudah. Hingga akhirnya mereka cuma bisa main, minumnya libur. Pada suatu malam, sengaja Pak Kyai meminta Bu Nyai membuatkan minuman untuk  mereka. Itu terjadi beberapa kali. Pak Kyai (mari kita bahasakan sejenak seperti ini) memfasilitasi mereka begadang semalaman. Tapi, itukah tujuannya? Bukan, itulah caranya. Pada akhir cerita dikisahkan, ternyata mereka nantinya akan menjadi santri beliau. MasyaAllah.

Kisah-kisah begitu yang kemudian membentuk imajinasi seorang Kang Abik.

Selanjutnya, bacaan-bacaan juga terus menumbuhkan inspirasi beliau. Amat terkesan Kang Abik dengan kisah cinta Layla – Majnun (yang sejujurnya – maaf – bagi diriku kurang memuaskan alurnya selain memang syairnya yang menggoda, akan kunikmati semoga suatu kali) sebab bagi beliau kisah cinta mereka begitu indah. Memang mendalam perasaan keduanya, tapi perlu diingat, tiada suatu momen pun yang menjatuhkan keduanya pada zina – dan yang dimaksud Kang Abik di sini tentunya zina secara fisik. Bila sudah bicara hati, bahasa-bahasa dalam syair Majnun bisalah dikatakan penggambaran hatinya yang dipenuhi Layla, Layla, Layla, Layla saja, semuanya.

Kemudian, sebuah kalimat yang diriku tandai dari tuturan Kang Abik adalah, “Orang yang dekat dengan Allah akan menjadi orang sangat romantis.” Kuingat-ingat beliau dalam catatan-catatannya, masyaAllah. Iya. Meski Rumi belum banyak terbaca, Cak Nun masih sedikit-sedikit menyimak, begitupun yang lainnya. Harusnya aku belajar lebih banyak lagi dari beliau-beliau itu. Kadang aku mempertanyakan diri sendiri, apa yang menyibukkanku selain penyia-nyiaan terhadap waktu?

Kang Abik juga memberikan saran demi meraih intuisi-intuisi tadi, cara konvensional yang biasanya digunakan adalah keluar ke jalan. Temukan berbagai hal, peristiwa, dan pikirkan untuk dituliskan.

Catatan-catatan terakhir beliau menyampaikan beberapa nasehat. Salah satunya yakni dengan mengambil analogi yang dituliskannya lewat novel Mihrab Cinta. Terserat di sana kisah mengenai seorang pencuri yang selalu nekat. Udah tahu resikonya, ya, tetep nekat. Nekat! Nekat, aja! Nah, disampaikan oleh Kang Abik, “Kalau orang mencuri tetap nekat walaupun tahu resikonya, lah, masa kita yang mau melakukan kebaikan malah kalah?”

Hehe. Good!

Alhamdulillah. Wallahu’alam bisshowwab. Ketika kubaca lagi notulen kuliah umum ini, ternyata kudapat sebuah kalimat yang penasaran juga bagaimana terpikir olehku hari itu menuliskannya. Membuatku bertanya dan tertegun, “Mungkinkah?” Muehehe. Yang kutulis siang itu adalah, “Target –> nulis skenario FTV” hahaha. Jangan tertawa. Aku juga pengen soalnya! :v

Apapun, bagaimanapun, dalam kondisi apapun, jadilah pribadi yang anti berhenti membagi inspirasi. Lewat kata dan tata laku.

___

Hari itu aku ke sana bersama Ma’rifatus Sa’adah, tidak sengaja bertemu dengan Hammam Izzuddin, yang katanya juga melihat Ririn Desriani tapi tidak kuhadapi wajah sahabatku itu. Sekaligus alhamdulillah bisa meraih tanda tangan Kang Abik untuk buku AAC 2 sebagai kado bagi sahabat yang sedari dulu telah menunggu, siapa hayo? 🙂

Yogyakarta, sedari Jumadil Awal hingga 26 Jumadil Akhir 1439

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *