Aku selalu lelah berdebat tentang ini. Baik dengan batinku pribadi maupun dengan ocehan juga seruan orang-orang yang bersuka cita menyuguhkan kekuatan QS An-Nisa ayat tiga. Aku selalu ingin memenangkan perasaanku sebagai perempuan yang tentu saja enggan diduakan. Bagaimanapun, ini lumrah. Benarkan?

Astaghfirullahal’adzim. Beri aku petunjuk-Mu, Tuhan.

Persoalan mengenai poligami, belakangan aku sering menemui topik ini yang terus menggempur batinku. Ketika muncul di timeline mengenai kebolehan poligami yang tiada henti diposkan, juga pertanyaan-pertanyaan ragu dari adik-adik mentoringku soal babagan poligami, beberapa teman yang senang mengusik ranah poligami dengan pendapat yang macam-macam, semua itu membuatku was was.

Dosa tidak kalau aku menolaknya, hukumnya seperti apa, haruskah aku melaluinya, segala keraguan semacam itu terus bertumbukan menghasilkan keraguan lainnya. Aku malah semakin was was. Ya atau tidak? Tapi inilah aku, seorang perempuan yang gemetaran dengan keraguanku sendiri. Ya Allah, rabbku, tunjukkanlah jalan-Mu padaku.

Kemarin, 6 Juli 2016, aku menonton sebuah film yang juga bisa dikatakan baru keluar di bioskop beberapa waktu lalu dan kali ini telah tayang di salah satu stasiun tv nasional. Surga yang tak dirindukan menjadi judul yang menurutku begitu pas, begitu cocok, begitu tepat mengenai sasaran. Seorang temanku, namanya Evinda, yang juga (ternyata) menonton film tersebut mengatakan dalam chatnya, “Sedikit menggeser persepsiku tentang pernikahan.”

“Nikah itu bukan sekedar pernikahan yang selama ini aku bayangkan,” celetuknya. “Yang isinya dunia cuma punya berdua asik dan bahagia selamanya. (Usai nonton film ini) sadar bahwa yang selama ini aku impikan itu baru sebatas 1 hari akad resepsi yang sakral, aku nggak berpikir jauh tentang kehidupan setelah satu hari yang indah itu.”

Sebelumnya kutegaskan, baik aku maupun temanku tidak ada yang dibayar untuk promosi film karya sutradara Hanung Bramantyo ini. Sungguh. Jadi kalau sepertinya aa kalimat berbau menggoda untuk nonton mohon jangan dipikir iklan. Sekedar infomasi, iklan melalui blog ini dikenai biaya. Hahaha. Kembali ke topik.

Kisah dalam film ini memang benar-benar mengena. Sedikit mampu meredakan rasa panasku terhadap poligami.

Prasetya (Fedi Nuril) dan Arini (Laudya Cyntia Bella) adalah pasangan suami istri yang telah lama melalui perjalanan membahagiakan dalam bahtera pernikahan. Tidak ada yang membayangkan kalau hubungan itu akan retak atau kandas sekalipun. Tidak ada, sungguh tidak terpikirkan. Tetapi ternyata masa lalu Prasetya yang merupakan seorang anak piatu menjadikannya sosok yang begitu berperasaan.

Suatu kali ia dihadapkan oleh sebuah aksiden yang memaksanya harus bertemu dengan seorang gadis, Mei Rose, yang memiliki masalah keluarga, kebetulan nyaris seperti kisahnya. Sayangnya gadis itu tidak sekuat dirinya, dia lemah, rapuh, tidak memiliki sokongan. Berbekal rasa empati berlebih itulah, Prasetya berseru ketika mencoba menahan si gadis yang hampi mengakhiri hidupnya, “Aku akan nikahi kamu, demi Allah!”

Konflik ini dimulai.

Beberapa pembaca di sini mungkin akan bertanya, “Harus dengan menikahinya?”

“Nyelamatin seseorang harus pakai jalan nikah? Gitu?”

“Nggak ada cara lain?”

Kalau mau tahu, tanya ke Prasetya. Sayangnya itu aktor. Tapi menurut jawabanku, mungkin ada, tapi ini jalan yang dipilih sosok Prasetya. Salah? Ya baiklah, apakah semua jalan harus kukatakan benar-salahnya? Apakah aku harus berada di garis agama atau garis perasaan? Itu pertanyaan yang mungkin belum terjawab.

Ketika Arini mengetahui bahwa suaminya memiliki Mei Rose sebagai istri kedua, aku begitu mendukung bagaimana ia menumpahkan semua kekesalannya, semua kemarahannya, bagaimana dia merasa dihianati dan diduakan. Aku mendukungnya. Tentu saja, aku di pihaknya! Aku salah?

Beberapa teman Prasetya tidak ingin masalah keluarga itu semakin menjadi-jadi, mereka mencoba membantu. “Arini, kalau kamu ikhlas kamu akan mendapat surga lebih cepat, akan lebih dulu nglewatin sidratul muntaha, dan bla bla bla lainnya.” Aku sebenarnya tidak terlalu tahu menahu soal balasan seorang perempuan yang ikhlas dimadu, belum pernah kudengar ada riwayat yang menyebukan babagan itu. Apakah sehebat itu balasannya atau tidak? Allah yang tahu.

Jawaban Arini atas bujukan itu membuatku tertegun serta menahan leleh air mata yang buru-buru kuseka. Katanya, “Surga yang kamu gambarkan sungguh indah, tapi bukan surga itu yang aku rindukan.”

Kemudian aku menutup mata sejenak dan menenangkan diri. Meskipun tidak kulakukan, tapi aku merasa sedang mengangguk mengiyakan perkataan Arini.

Alurnya terus berjalan. Aku kira Prasetya dan Arini akan berakhir.

Tapi tidak.

Arini bertahan.

Karena apa? Aku bertanya ingin menggertak tokoh istri pertama itu.

Ternyata pertanyaan itu pula yang diajukan oleh si istri kedua kepadanya, “Kenapa Mbak?” (Kenapa Arini akhirnya mengikhlaskan dimadu?)

Arini bilang, “Aku percaya hidup itu sebuah pilihan, dan ini pilihanku.”

Apa yang memberatkannya? Karena Nadia, tokoh gadis kecil yang merupakan buah hati dalam kehidupan keluarga mereka. Masa depan Nadia terancam kalau-kalau suami istri itu usai. Ia bertahan untuk itu.

Seterusnya kisah berlalu, ternyata kemudian Mei Rose menemukan sesuatu yang lain, ia menemukan pilihannya sendiri. Pilihannya ialah untuk pergi.

“Ini pilihanku,” katanya di sebuah momen perpisahan kepada sang suami. Ia tahu cinta suaminya hanya untuk Arini, bagaimanapun suaminya menikahinya untuk menyelamatkan dan menghindarkannya dari perasaan menyedihkan karena permasalahan keluarga. Jadi akhirnya, inilah pilihannya.

Aku benar-benar dipermainkan oleh alur cerita ini. Tapi menurut sepemahamanku, masalah poligami bukan menjadi sesuatu yang ingin kuperdebatkan lagi. Aku tahu semuanya telah terangkum dalam ayat-Nya. Boleh tidaknya dan sebagainya. Permasalahan dilakukan ataupun tidak itu adalah kehendak si pelaku, itu pilihannya.

Menurutku juga apakah si istri pertama harus ikhlas atau tidak diduakan? Itupun juga pilihannya. Dimana ia merasa ingin memenangkannya? Bagaimana sikap istri kedua? Itupun juga jadi pilihannya.

Bagiku, meskipun film Surga yang tak dirindukan ini menggambarkan intrik poligami. Tetapi justru yang aku pribadi garis bawahi adalah mengenai “pilihan” manusia yang bermain di dalamnya. Ya atau tidak. Haruskah dipermasalahkan?

Lagi, hal penting mengenai pilihan.

Pilihan merupakan hasil pertimbangan terbaik yang kita ambil untuk menuntaskan sesuatu yang dihadapkan pada kita. Ini pilihan. Untukku, pilihan ini tak usahlah kupusingkan, toh aku tidak dihadapkan dengan masalah ini. Biarlah pilihan ini dipakai oleh mereka yang sedang menghadapinya. Ya atau tidak. Berserah kepada Allah, insya Allah petunjuk-Nya akan mencapai kita semua. 

***

Sumber gambar: http://nambas.files.wordpress.com/2010/03/poligami.gif

This Post Has 2 Comments

Tinggalkan Balasan