Teruntuk Muslimah Sebelum Bertandang ke Korea Selatan

Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh, ya Ukhti. Sama seperti unen-unen yang bilang, “Pacar pertama selalu punya kesan berbeda,” demikian juga pengalaman keluar negeriku yang pertama pun memberi kesan yang sulit untuk dilupa. Upss! Astaghfirulloh! Ukhti nggak boleh punya pacar yaaa, ukhti. Hihihi.

 

Tulisan berikut ini adalah secuil tips yang bukan merupakan pedoman resmi dan terjamin untuk teman-teman, muslimah khususnya, yang berniat untuk berkunjung ke negerinya Song Joong Ki sama Kim Woo Bin, ehehe. Mana? Yeppp, tepat seperti yang ada dalam kepala Anda, Korea Selatan. Ini hanya sedikit dari pengalamanku. Jujur aja, pengalamanku dua minggu di Korsel kemarin begitu kurang mendapat perhatian di soal persiapan, jadinya banyak hal yang penting perlu dimasukkan dalam catatan supaya di hari kemudian bisa diantisisapi … EHH, antisipasi. Muehehee.

 

Don’t bring any food from your country which contains meat

Soal makanan, penting dan wajibun untuk disiapkan baik-baik. Apalagi kalau kita mau tinggal di negara yang muslim adalah minoritas. Makanan yang tidak halal menjadi sebuah keniscayaan untuk kita temui.

Aku telat banget sih baru nanya-nanya ke temen yang paham banget soal Koriya di H-2 hari keberangkatan. Hadeeew. Di hari itu juga, sahabatku Dewi Novitasari memberi kuliah singkat dan modul padat tentang makanan halal di Korsel.

Saking takutnya aku bawa bekal berupa sosis dan abon yang bisa kujadikan pengganjal kalau-kalau kesulitan cari makanan. Weheee! Merasa sudah aman. Merasa pinter tenan. Tapi ternyata, oh my Allah, kita tuh di bandara Korea nggak boleh bawa makanan apapun yang mengandung daging masuk ke negaranya. Huhuuu, jadilah semua perbekalan daging halalku itu disita. Sediiiihhh. Aku pikir mungkin mereka takut di situ buat nyimpen obat berbahaya kali ya wkwk, seperti di berita. Buahahaa, tapi kata temanku malah bilang, mungkin juga biar para pendatang membeli daging di negara Korea, sehingga mereka tidak rugi. Hihi, aslinya karena ini kok wan kawan.

Jadilah intinya, kalau masuk bandara nggak usah bawa yang daging-daging yaa. Punyaku masih aman kok perbekalan yang semacam ikan teri, mie gelas, energen, bubur bayi (aku masih suka maem ini muehee), dll. Temenku bahkan bawa indomie—makanan go international.

 

For you who like cooking

Kamu sukak masak, ya ukhti? Hati-hati yaa, di Korea nggak ada kecap kayak yang kita pakai di Indonesia. Never ever say ‘ketchup’! Kalau kamu bilang kecap, kamu akan dapet benda yang biasanya kita sebut sebagai saos tomat. Bahasa Indonesia dan Inggris ternyata tidak semirip yang kita duga. Ketchup yaaa ini diaaa~

Saya mengingatkan, karena saya juga sempat salah duga ahihiii.

 

Be careful, pork is there everywhere everytime

 

Selama dua minggu, beberapa kali di programku ada agenda makan di luar kampus. Daaan wadidawww nyaris kebanyakan menu selalu mengandung daging babi. Huehuee. Gampang banget gitu kalau mau jajan babi. Kayanya seringnya kalau orang ngajak makan daging, yep, otomatis, bisa dipastikan itu babi.

Kata beberapa temen kalau di sana aslinya yang paling murah sih daging ayam. Cuma ayam nih orang-orang pada bosen, mereka lebih sering makan babi. Walaupun secara harga agak di atasnya ayam sedikit. Sedangkan, daging sapi punya harga yang agak mahal. Sooo jarang deh orang makan.

Jadi ati-ati yaaa, kalau mau jajan di mana-mana. Kata seorang sahabat, aman untuk menanyakan atau memastikan adakah 돼지 (daging babi) di dalamnya.

Biasanya sih ambil aman aku makan udang (shrimp), sayur, ikan tuna, dan semacamnya. Kalau ayam aku ragu sih, soalnya kan kita nggak tau ya cara motongnya. Pakai bismillah apa enggak, mbelehnya sadis apa nggak, kan aku nggak tahu yaa. Jadi kuhindari, hehehe. Tapi aku pernah kecolongan di satu momen makan ayam huaaa, soalnya yaa lauknya cuma ituuu. Huhuu. Maafkan hamba Ya Allahhh. Berat sekaliii orang-orang muslim ujiannya di sini. Tapi kok yaa daging ayamnya enakkk, alhamdulillah juga :v

 

Mostly toilets have no waterways for cleaning 

Lagi-lagi dapet ujian. Hal terpenting selain mengonsumsi makanan adalah membuang sisa makanan yang sudah diolah oleh tubuh, alias be-aa-be. Ketahuilah, urusan kamar mandi di sini bisa buat berabe kalau kita nggak siap-siap dari awal.

Jadi, Sahabat, kamar mandi di sini kebanyakan cuma nyediain tisu untuk bersihin kotoran. Sama kayak beberapa negara lain ya mungkin. Tapi untuk kita para muslimin dan muslimat, yang begitu kan belum sepenuhnya membersihkan yaa. Sehingga untuk lebih amannya aku sama temenku selalu membawa botol minum kemana-mana. Dia adalah penyelamat dan penjaga kebersihan kita. Bawa aja ke dalam toilet untuk bersih diri. Kalau isinya habis, sebelum masuk bisa diisi di wastafel dulu, oke?

Oyaaa, tapi sebenernya nggak semua toilet tanpa kran air sih, Sahabat. Beberapa malah ada yang nyediain mesin otomatis gitu dengan tombol yang penuh pejetan. Kita bisa milih mau yang lambat atau kencang, mau yang hangat atau dingin. Kereeen kali ituuu. Wkwkwk!

Satu kejadian yang aku nggak lupa adalah di awal kedatanganku di bandara, aku juga kaget dong ya dengan keadaan toilet begitu. Mana tombol mesin otomatis di toilet itu semuanya pakek huruf korea. Mana paham saya artinya? Kemampuanku baca tulisan korea tidak membantu di situasi itu. Akhirnya, apa yang kulakukan? Aku memilih satu tombol ajaib yang bergambarkan kepala bayi hehehe. Seperti dugaanku, tombol itu menyemprotkan air secara otomatis. Sangat berfungsi untuk bayi yang hanya butuh satu tombol simpel. Huuuhhhh. Alhamdulillah, hihihi. Besok, amannya bawa air yaaa!

 

There is no many places to do worship

Aku tinggal di sebuah country side bernama Chuncheon, bukan di ibukota. Sehingga menemui tempat beribadah agak sulit buatku. Oleh karenanya, tempat ibadah yang bisa kupakai adalah di asrama, di ruang meeting, atau beberapa tempat syahdu yang ‘seolah’ dipersiapkan untukku dan El, teman muslimku  menggunakannya. Apa ituuu?

Hehe, di kampus kami terdapat semacam bangunan kayu yang aku belum tahu fungsinya sampai saat ini. Tapi di situ rasanya nikmat sekali. Pemandangannya indah, suasananya teduh, menyenangkan sekaliiii. Karena tempat-tempatnya nggak mesti gitu, jadi aman banget kalau kita bawa mukena plus sajadah, Sahabat. Hehehe.

Suatu hari, saat ada acara kunjungan ke sebuah kuil, kami memilih untuk melaksanakan ibadah di sebuah lincak lebar di luar bangunan kamar. Bayangkan! Sholat di tengah pemandangan alam! Rasanya tenang sekali malam itu, saat isya dan subuh kami berpadu dengan udara pegunungan dan lautan. Aku bilang pada El, “Tahu apa yang kupikirkan sekarang? Kita sembahyang kepada Allah bareng sama pohon-pohon di depan.” sadar kalau kami ada di antara hutan-hutan.

Setelah itu kami mengalami malam yang puaanjaaaang dengan banyak cerita. Kind of a deep talk. Esok paginya beberapa orang mengomentari kegiatan kami—oh, ternyata mereka tahu kalau kami ngobrol semaleman, kirain pada udah tidur pules semua,

“Kalian semalem ngapain e? Ibadah?” tanya teman Koreaku, Gersan.

“Kalian ngobrolin hal yang serius ya semalem? Tentang hidup?” kata teman Koreaku lain yang tampak antusias, Riley.

Itu bagus. Ada lagi temen dari Thailand, Ice, bilang, “Kalian semalem tak sangka hantu!” soalnya kami pakai mukena di tengah hutan pas malem-malem semuanya tidur, hihihi. Aku ngekek.

Di sini, ada hal yang aku sesali, yaitu nggak sempet dateng ke Masjid Itaewon, di Seoul. Katanya itu masjid gede di Korea. Daerah Itaewon terkenal banget sebagai daerah muslim, banyak makanan halal bisa disasar di sana. Uwww, semoga lain kali daku berkesempatan yah.

Sahabatku, Febiola Aurora, mengupas baik tempat-tempat ibadah di Korea, tulisannya in English ya ukhti fillah. Monggo yang tertarik berkunjung ke dinding blognya.

 

Sometimes you’ll feel different, but it’s ok

Sekelumit pengalaman itu mungkin akan membuat kita merasa sangat berbeda dengan kebiasaan orang-orang di sekitar. Aku inget suatu kali pas di kuil dan mau ke kamar mandi, aku sengaja membawa ember lalu mengisinya dengan air baru masuk ke kamar mandi. Setengah membuka mulut, temanku, Ciara dari USA, bertanya, “Buat apa?”

Karena buru-buru dan sulit menemukan penjelasan yang tepat, aku jawab saja, “Orang di negaraku butuh ini kalau mau ke kamar mandi.” Pas di dalem kamar mandi, hatiku tertawa, buahaha, kok njawabnya gituu. Tapi yaa gapapa.

Aku makin sadar betapa sangat minoritasnya aku di sini, sangat tampak berbedanya aku di sini. Mudah saja membuat orang menganga, memicingkan mata, dan bertanya-tanya, “Dia ngapain sih?” Hihiii. Bagiku, menyenangkan, alhamdulillah. Di antara kami jadi banyak bahan obrolan. Segala detail perbedaan bisa jadi hal yang bisa didiskusikan.

Menarik juga, aku jadi bisa mendengar cerita tentang muslim di negara lain. Seorang sahabat dari Rusia berbagi cerita mengenai sahabat mualafnya yang mengalami banyak kesulitan. Aku dan El menyimak betul cerita ini. Kami menjadi sangat sangat sangaaat bersyukur lahir di tengah masyarakat yang begitu terbuka untuk Islam. Di situ, aku juga bersyukur ada El. Kami bareng, jadi bisa saling menguatkan dalam segala keadaan. Pada akhirnya harus diakui, adanya komunitas itu penting sekali, apalagi kalau kita minoritas. Ikatan dan hubungan kami akan jadi kuat sekali.

Yang mau aku sampaikan di bagian ini adalah bahwa perbedaan itu nggak masalah. Hehe, intinya itu. Malah jadi bahan kita berinteraksi kan. Ini jadi seperti bermain sebuah seni untuk menemukan kata dan sikap yang tepat untuk menjelaskan Islam kepada orang yang asing terhadap Islam. Menarik? Banget! Sulit? Biyanget!

 

Selamat berseni!

 

Yogyakarta, 7 Dzulhijah 1440

Lomba Memasak
Aku dan teman-teman peserta kegiatan Summer Program dibagi menjadi beberapa tim dan mengikuti lomba memasak. Dibersamai oleh Riley, kelompok kami berhasil dapat juara dong ya! Hihihi, keajaiban sih aku dapet juara masak:”)
Ini adalah salah satu wajah kuil Namsaksa, salah satu persembahyangan orang Buddha di Korea Selatan.
Aku dan sahabat Dana, dari Latvia, bersama Do Yeong dan Min So mengaduk bahan untuk membuat mie. Ini merupakan kegiatan kunjungan ke keluarga Korea.
Kunjungan ke istana Gyeongbokgung~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *