Titahku Sebagai Putri


          Aku ini seorang putri.
          Ini fakta dan kenyataan, tolong terima itu!
          Ya, meskipun mungkin wajahku tak seberapa, gaunku juga tak semerekah para pengantin, tingkah dan tutur kataku tidak lembut macam gadis bangsawan. Tapi tetaplah, aku ini seorang putri. Jadi jangan main-main ya.
          Andai kalian tahu, sebetulnya hal ini berlaku bukan hanya untukku, tapi untuk setiap perempuan yang pernah hidup. Walaupun itu masih tergantung dengan kesadaran mereka sendiri. Nah, maka bersamaan dengan ini biarlah aku pertegas bahwa aku sudah sadar dan tahu: aku adalah seorang putri!
          Tenanglah, aku bukan sebatas mengaku-ngaku seorang putri, itu pasti akan memalukan, dan aku tak mau begitu. Sehingga untuk memperkukuh posisiku, tentunya ada berbagai hal yang aku lakukan. Berbuat keadilan, mengamati dan merasakan lingkungan, menjadi gadis yang baik, ataupun hal lainnya yang mungkin aku hanya sulit mengungkapkannya di kalimat.
          Berbicara soal putri takkan jauh-jauh dari yang namanya pangeran.
          Ah, betul-betul jadi senyam-senyum sendiri ketika menyebutnya.
          Iya, iya. Aku tahu masih lama kalau mau menikah. Tapi kan aku hanya bicara saja, itu kan tidak masalah. Sekarang yang membuat bimbang, seperti kita ketahui, setiap putri tentu akan menemui banyak pangeran. Itulah masalahnya. Siapa yang bakal jadi pangeran untuk kisahnya? Kalian tidak tahu, lebih-lebih aku si pemilik cerita. Terlalu banyak! Bahkan terkadang bukan hanya pangeran, petani miskin serta buruh kerajaan pun berlomba-lomba untuk menarik hatinya.
          Suatu kali, dayangku berbisik, “Cari saja yang Tuan Putri cintai.”
          Wah, perkataannya benaran membuatku jadi ciut malahan. Bukan karena itu menjijikan juga sih, bukan juga karena aku lesbian, aku sungguh tidak. Hanya saja…
          …aku menyadari sesuatu.
          Meski banyak kisah putri-putri yang berakhir indah di film ataupun, tapi kan kita tidak tahu cerita selanjutnya. Bisa jadi kelanjutannya si pangeran ternyata perampok, atau apalah, imajinasiku mungkin terlalu tinggi kalau kuungkapkan semuanya di sini.
          Tapi, begitulah. Aku hanya menyadari kalau menggunakan saringan cinta untuk memfilter para pangeran sehingga menemukan satu atau sedikit kandidat yang lolos. Namun kemudian itu masih dinilai melalui cinta dan aku harus menggugurkan yang lainnya karena tidak masuk ke dalam perasaanku, dan yah, padahal mereka belum membuktikan cintanya padaku. Bahaya kan, jika tiba-tiba mereka berpaling atau berhianat. Mungkin juga aku yang meninggalkannya karena merasa tak cocok atau yang lainnya. Jadi, kuanggap cara pemfilteran melalui cinta itu bisa diganti dengan sistem yang lebih baik.
          Oleh karena tak mau lagi aku pusing-pusing. Tentunya putri membuat keputusan yang bijaksana untuk menyelesaikan masalah ini: sebuah sayembara!
          Hmm, bukankah adil?
          Seluruh peserta, dari kalangan atas sampai bawah, semua akan dipandang sama dalam perlombaan dan mereka tak terkecuali harus membuktikan bagaimana cinta mereka padaku, si putri. Wah, benar-benar macam Dewi Shinta! Aku jadi penasaran siapa yang jadi pemeran Rama ya. Bukan sesuatu yang gamblang.
          Aku mengumpulkan seluruh patih, setelah mendapat persetujuan Raja.
          “Karena tinggal satu masalah kita maka mari diselesaikan: sayembara macam apa itu?” kataku.
          “Hormat Tuan Putri, adakah persetujuan bila diadakan sayembara pemanahan?” seorang patih yang hebat dalam memanah mengajukan pendapatnya.
          “Seperti yang terjadi pada Dewi Shinta?” seorang yang lain bertanya dengan mimik terkejut. “Kurasa itu akan sulit, tidak semua orang pandai memanah. Lagi pula, putri menginginkan jika seluruh lapisan masyarakat mengikutinya. Jadi, bagaimana kalau sayembara bertanam? Yang paling baik merawat kebun artinya ia terbukti baik kepada alam, tentu kepada putri akan lebih.”
          Kini aku lebih serius menyimak, meski belum tertarik menanggapi.
          Patih terakhir ikut berdiskusi, “Itupun sepertinya kurang terasa, Saudaraku. Tidak semua orang yang peduli lingkungan, mereka pandai merawat kebun dan bertanam.”
          “Kemudian apa saranmu, wahai Patih?” tanyaku padanya.
          “Ampun Putri, sayembara ini sepertinya bukan hanya sekadar unjuk kemampuan dan bakat, karena kalau itu semua orang memiliki kemampuan berbeda dan kekurangan yang berbeda. Adalah yang terbaik, kalau kita punya sayembara yang dapat memperlihatkan kepribadian mereka semua.”
          “Kemudian apa itu?”
          “Ampun, Putri. Sungguh belum dapat hamba awang apa yang bisa kita berikan.”
          Berbicara dengan para patih kerajaan, seperti berdiskusi dengan pikiranku sendiri. Aku terus semalaman memikirkan apa-apa yang bisa dijadikan ajang untuk memperlihatkan ketangkasan, kekurangan, serta hati mereka dalam satu waktu.
          Malam itu aku cukup lama memandang langit. Gelap namun berpendar cahaya rembulan.
          Suasananya jadi khidmat dan merasuk.
          Bulan sepertinya sudah bergerak jauh dari awal ketika aku menatapnya tadi. Bisa kulihat bagaimana ia perlahan bergerak. Aku dapat sekaligus menangkap bagaimana wajah serta dirinya ketika ia merangkak dari posisi langit yang satu ke yang lainnya. Pelan-pelan, tapi aku mulai bisa memahami bulan. Aku mulai bisa menilai bagaimana sikapnya.
          Dan, inilah kuncinya.
          Maka aku tahu apa jawaban dari kegelisahanku.
          Sayembara yang akan aku berikan adalah sayembara kehidupan. Sebagaimana yang putri-putri lain sebaiknya lakukan. Seluruh pangeran dan rakyat dapat menunjukkan bagaimana diri mereka. Seperti apa caranya berbuat baik, caranya menyelesaikan masalah, berbicara dan menguraikan berbagai hal, bahkan hingga hal-hal terkecil pun akan terjawab melalui kehidupan. Waktunya cukup lama untuk pada akhirnya menemukan siapa Rama milikku, namun itu jauh lebih baik karena ia tentu adalah keputusan yang paling bijaksana. Dengan keadilan rasa, tidak melebihkan ke satu peserta pun, maka hasil penyaringan kandidat akan didapatkan yang terbaik.
          Lagi pula akan menyenangkan melalui kehidupanku sendiri dan belum bertengger di satu dahan milik orang lain, sehingga masih dapat aku nikmati harumnya rimba yang ramai. Aku bisa membaca bagaimana keadaan tiap dahan pepohonan di sana, ketika sudah, maka tinggal kutaruh kaki-kakiku dimana aku ingin berpijak: tentu di tempat terbaik kan.
          Maka sebagai seorang putri, pastinya aku memenuhi ini dengan keadilan.
          Jadi, biarlah aku beri keadilan pada tiap-tiap mereka yang ingin mencoba mengikuti sayembara ini. Tak akan mendapat lebih perhatian dari yang lain, mereka semua kandidat, mereka semua peserta, dan aku adalah putri.
          Sekali lagi, aku seorang putri. Ini berlaku untuk tiap perempuan, tak terkecuali.
          Karena jadi seorang putri, maka sadarlah dan tegaskan: aku seorang putri!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *