Dengan menyebut nama Allah.

Kenapa judulnya dag dig dug? Ya, karena aku betul-betul sedang deg-degan (awalnya). Jauh sebelum hari ini bapak Muhammad Fadhlullah memintaku mendampingi teman-teman SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta (alias Muhacil) yang akan melangsungkan kegiatan Taruna Melati (TM) I pada tanggal 20-21 Januari 2018. Aslinya, ini diamanahkan kepada beliau, namun sebab ada agenda genting lain, beliau amanahkan ini padaku. Katanya, “Kan kamu enak kalau deketin anak-anak.” Seriously, actually I am flying. Hahaha, bukan terbang lalu baper sebab Bapak Fadhlullah-nya, ya kalik, hehe. Lagian bisa jadi itu pujian biar aku mengiyakan permintaannya. Hehe, I am flying because merasa, “Oh, ternyata aku terlihat begitu.” Hehe. Tapi, fiuh, aku biarkan tubuh mendarat ke bumi lagi, biar ucapan aamiin saja yang menuju angkasa sana.

Satu hal lagi membuatku panas dingin, “Eh btw, itu aku dapet jatah ngisi materi juga ding.” Aku nggak langsung menerjemahkan itu sebagai, “Kamu gantiin aku ya, Him.” hohoho, khawatir kegeeran. Hehe. Aku pastikan dengan menanyakan. Kata beliau lagi, “Jaga-jaga aku ndak bisa.” Uwadawww.

Aku akan sangat senang, seharusnya. Semestinya. Produktivitasku akan tumpah di sini. Kreativitasku akan tertantang di sini. Seharusnya sih begitu. Tapi, agak ragu juga batinku.

“Wooooo, materinya tentang TAFSIR???? Kok le abot e rek!” batinku terkejoet, eh terkejut. Dengan jujur aku sampaikan kepada Bapak Fadhlullah betapa miskinnya aku perihal ilmu tafsir, betapa khawatirnya aku bilamana keliru. Beliau di awal menyampaikan keraguannya juga, “SMP kok materinya tafsir?” Namun kemudian beliau meyakinkanku, em, lebih tepatnya menantangku. Haduh. Kalau udah ditantang begini, jadi muncul ambisi. Tapi malu, takut, deg-degan masih bermunculan. Serious.

Kuiyakan, meski masih dalam kebimbangan.

Hingga beberapa hari kemudian, Bapak Fadhlullah mendatangkan kabar menyegarkan, “Ternyata materinya fleksibel aja, bebas.” Uwww. Harusnya sih senang. Tapi ternyata tantangan kemarin masih menggodaku. Kalau tidak di kesempatan ini, kapan lagi? Harus dicoba, biar bisa. Besok-besok cus langsung.
17.50 WIB – 3 Jumadil Awal 1439

Mendekati hari H, bukannya menyibukkan diri memikirkan materi, diriku malah lebih banyak menghabiskan waktu menyelesaikan novel Ayat-ayat Cinta yang baru saja kupinjam dari sahabat Atim Ratnawati. Enak juga ternyata. Sampai susah kutinggal barang untuk membaca yang lain. Aku tidak tahu kalau ternyata sebab diusaikannya novel itu, aku jadi mendapat ide menulis makalah materi. MasyaAllah.

HARI PERTAMA, 20 JANUARI 2018
Tepat hari Sabtu pagi, 20 Januari 2018 kurang lebih pukul 10.00 WIB kumulai misi pembuatan makalah yang entah bagaimana mengusung judul “Ayat-ayat Cinta (3) dalam Berjuang di IPM”. Gileee, keren banget yekan kelihatannya. Nanti, usai ini akan aku post juga makalah itu, semoga manfaat. Pagi itu belum kupahami bahwa sorenya akan sedikit membawa pada kekecewaan, he, hehe. Bukan ding, pada upaya mencapai kebijaksanaan.

Sedihnya adalah demi menyusunnya aku jadi tidak memenuhi kesepakatan yang tersampaikan pada Bunda Iklima Imanda (singkat cerita, beliau akan menemaniku ke SMP Muhacil untuk melakukan pelantikan sebelum TM 1). Harusnya aku beribadah Dhuhur di SMP Muhacil. Tetapi sebab usai materi sudah sekitar 11.30 lebih, kuputuskan sholat Dhuhur di rumah. Kusesali target yang tidak terpenuhi itu.
22.57 WIB – 3 Jumadil Awal 1439

Aku sempat meminta bantuan Bunda Manda supaya membawakan jas siapapun yang ada di kantor (sebab milikku entah kutaruh di bagian rumah yang mana, tidak ketemu). Sebetulnya agak-agak takut, jas mana yang diambilkan. Tapi sampai kuterjun ke jalan, belum juga terbalas permohonanku itu. Kupikir, apa tidak sempat membalas? Maka segera lah kusempatkan menuju kantor PDM sebelum ke Muhacil. Ternyata ada Bunda Mumtazah, katanya, “Udah dibawain kok tadi.” Hehe, iseng-iseng kulirik jas mana yang tersisa. Oh, deg-deganku sedikit tersudahi, amanlah soal hati (nah loh).

Cus setelah agenda print-mengeprint makalah, ke kantor PDM, segeralah kuberanjak menuju Muhacil. Ada Bunda Manda dan Bu Jujuk (sebetulnya bingung juga bagaimana menyapa beliau, mbak sebab beliau masih muda, tapi bu adalah penghormatan sebagai guru, terbiasa bu ya sudah). Kulirik jam di hand phone, masih pukul 12.59 WIB. Hehe, maaf jadwal, ternyata aku tidak jadi terlambat, mengingat janjiku untuk hadir sebelum pukul 13.00 WIB, alhamdulillah. Tapi ternyata kata Bu Jujuk, acara dimulai nanti pukul 13.30 WIB.
Lupa jam, hehe – 4 Jumadil Awal 1439

Alhamdulillah menunggu beberapa saat sambil ngobrol-ngobrol uwenak dengan Bunda Manda hingga sampai pada acara yang dinanti-nanti. Dalam acara pelantikan PR IPM SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta periode 2017/2018, pembukaan dibuat sederhana. Hadir kami berdua perwakilan PD IPM, Bu Jujuk dan beberapa guru lainnya, kebetulan Bapak Kepala Sekolah belum bisa menyempatkan sebab saat itu sedang ada agenda lain, serta teman-teman pengurus IPM yang jumlahnya sekitar 105 anak. Agak menganga juga aku dibuatnya. Kata Bunda Manda, “Kalau di sini, siapapun yang daftar diterima, Him.” Mmm, kupikir, ya ada positif dan tidak nya juga sih. Aku jadi ingat dulu bahasan soal sistem kaderisasi organisasi juga sempat panas saat di Rohis, ah, sudah lama sekali.

Begitulah. Momen pelantikan dibuat sederhana namun tetap insyaAllah terjaga momen sakralnya. Bunda Manda membaca kan surat keputusan berisi susunan PR IPM Muhacil yang baru, sedang aku bertugas menyampaikan naskah pelantikan. Gemetar juga. Sebetulnya nggak mudah bagi batinku melakukannya. Kuingat setidaknya aku mengalami tiga kali momen sakral ini, sebagian besar di antaranya membuat lidahku kelu, rasanya belum kupenuhi pengabdianku. Aku tersentuh dengan agenda pelantikan itu.

Ketua Umum IPM Muhacil yang lalu, Sutan, membaperkan dengan pidatonya mengenai kesannya selama di IPM. Ia singkat sebagai P-E-T-A.

P alias Pagar. IPM selama ini menjadi pagar untuknya demi membatasi diri dari hal-hal negatif.

E alias emas, memberikan banyak pengalaman berharga dan berarti.

T alias topang, IPM telah menunjukkan padanya bahwa apa yang telah dicapainya adalah berkat topangan dan dukungan para Sahabat.

A alias amunisi. Perjalanan di IPM memberikannya amunisi sehingga mampu meningkatkan kepercayaan dirinyaa.

Barakallah Sutan, aku kembali bisa memantapkan langkah berkatmu.

Setelah acara pelantikan, Bunda Manda berpamitan pulang Sehabis ibadah Ashar. Aduhai tinggal aku sendiri. Agak malu pula. Ntar gimana? Sedang sebetulnya di bangunan ini aku belum banyak mengenal manusia. Acara setelah ini adalah penyampaian materi dari Bapak Kepala Sekolah. Pak Supri. Mantap jiwa beliau ini. Kata beberapa guru, beliau kerap mengisi acara-acara motivasi. Ugh. Dag dig dug. Kalau sesuai jadwal seharusnya setelah ini aku yang mengisi (menggantikan Bapak Fadhlullah).
Kala malam – 4 Jumadil Awal 1439

Pak Supri menyampaikan beberapa hal, diawali dengan berbagai hambatan rutinitasnya dan dilanjutkan motivasi supaya siswa-siswi bisa lebih aktif lagi. Kurang lebih pukul 17 kurang seperempat, beliau usai mengisi. Entah bagaimana itu aku deg-degan sekali. Alloh, Alloh. Aku merindukan perasaan ini. Terima kasih. Duh, duh, sebentar lagi. Allohu. Bismillah. Bismillah. Microphone telah berpindah tangan kepada Bu Jujuk, itu artinya agenda selanjutnya akan segera disebutkan. Tak dung tes…

Keringet dingin.

Uwww.

Sampai akhirnya, “Acara setelah ini adalah istirahat, anak-anak boleh mandi dan bersih-bersih diri.” Nah loh, nah loh. Aku mengalami freeze beberapa menit. Tenang sebab deg-deganku habis. Kecewa, bagaimana kusampaikan kebaikan yang inginya supaya bisa menumbuhkan perbaikan? Aku mencoba menghalangi pikiran soal 50 biji makalah yang telah kucetak dan file presentasi, tentunya bisa dimanfaatkan pada kesempatan lain. Cuma, berdekatan dengan teman-teman Muhacil, bagaimana? Sementara ini salah satu indikator kumenilai ranting telah sukses adalah adanya beberapa kader yang bisa melanjutkan ke jenjang pimpinan setelahnya. Aku mengerutkan kening karena sedari sebelum kemari, kupikir tidak ada di PD IPM Jogja yang merupakan alumni dari Muhacil (setelahnya baru kuketahui Bima dan Naufal dari sana). Tapi ndak apa. Awalnya kuingin bertanya pada Bu Jujuk, tapi khawatir berkesan menuntut sekali harus jadi pembicara, urung kupertanyakan. Andai kata bukan aku yang diminta mengisi, kemungkinan insyaAllah berani. Haha. Really?

Kemudian aku kembali memantapkan hati, “Di sini buat mendampingi.” Aku mencoba sedikit demi sedikit membuka ruang interaksi dengan Bapak Ibu guru. Cuma canggung jadinya. Khawatir nggak nyambung. Ya, sering mencipta obrolan dengan orang lebih sepuh, tapi pesimis dalam first impression tetep ada. Sempat aku kepikiran, masa diam-diam sampai besok betulan. Di awal masa kebelumnyamanan, aku mendekatkan diri dengan Muti yang ada di UKS juga (ruang untuk tidurnya guru-guru, dan aku juga di situ) sebab ia sedang sakit. Ternyata, dia canggung juga. Hahaha. Aku ajak kepada obrolan-obrolan sederhana. Barulah beberapa guru memberi kesempatan obrolan. Alhamdulillah. Saat malam, Bu Wahyu atau kusapa Mbak Wahyu banyak mengobrol denganku. Bu Jujuk banyak mempersilahkanku untuk santai, meskipun tetap aku merasa canggung. Bu Desi yang sedang hamil juga. Bu Tri, bendahara sekolah, duh alhamdulillah bertemu beliau, hingga akhir nanti aku merasa menemukan kenyamanan untuk bertukar pikiran. Hehehe. Untuk yang Bapak bapak, sedikit-sedikit lah, tapi alhamdulillah.

Di awal memang aku lebih banyak mencoba mendekati teman-teman SMP Muhacil, biasa, dengan becandaan mengenalkan diri sebagai Raisa W. Swadeshi. Alhamdulillahnya ada Caya (alias Naya), Nadia, dan Sella yang kemarin telah mengenalku sebagai “Wardah” di TM 1 IPM Jogja, jadilah nama Raisa tidak betul-betul mereka terima. Aku tertawa sebagian dari teman-teman bilang, “Ah, ingetnya Raisa mulu Mbak kalau manggil.” Kubilang, “Ahim! Kaya orang bersin, Ahim!” Hehe, lumayanlah membantu.

Hari pertama kunikmati berfoto bersama mereka, makan di meja anak SMP, jadi gila pokoknya.

Acara seusai ibadah Isya’ adalah materi lagi. Kini dari Ustadz Budi yang suaranya lucu sekali, serak tapi seksi, kata beliau sedang sakit. Allohu. Tetap menyempatkan. Tidak hanya suaranya, bagaimana dia membawakan lucu sekali. Meski kadang aku tertawa sendiri entah lucunya dimana. Seorang bocah bernama Bryan ikut ketawa-tawa kalau aku ketawa. Hahaha. Serius, berondong-berondongnya Muhacil ganteng loh, haha, tapi ya kalik aku sama berondong. Mmm, boleh sih. Haha nah loh. Nggak ding, becanda. Tapi serius mukanya mereka tidak ada gondes-gondesnya. Aku ngekek aja ketika ada anak cowok yang tiba-tiba ngasih titipan dari temen cowoknya buat salah seorang anak cewek. Piye lah jelasinnya. Gitulah. Dasar anak SMP, lucu sekali. Eh, kenapa jadi ngomongin itu? Hehe. Intinya ustadz Budi menyampaikan materi soal sholat. Temanya, Keteladanan IPM dalam hal sholat. Alhamdulillah materi ini disampaikan sejak di ranting, semoga seusai perjuangan mereka di sini, dimanapun mereka nantinya kecintaan pada sholat telah begitu terpatrinya (Sedangkan aku?).

Materi setelah itu adalah muhasabah yang disampaikan oleh Bu Jujuk, uwww. Siap-siap ada tangis menangis. Aku jadi ingat di zaman SD ada acara begini juga. Dulu kami diminta menutup mata saja, lalu guru agamaku berbicara dengan suara yang lembut tapi penuh ketegasan mengingatkan akan dosa, cita-cita, dan orang tua. Begitupun kini di hadapanku. Hanya saja bedanya, zaman sudah beda. Ada power point untuk menampilkan beberapa video motivasi, kalimat menginspirasi. Vita meremas lenganku mengatakan ketakutannya. Aku cuma bisa bilang ndak apa, dia perlu menontonnya. Sampai pada video kematian seseorang yang diangkut menuju tanah kuburan, semua anak ketakutan. Yang laki-laki mundur ke belakang. Yang perempuan saling berpelukan. Aku katakan pada diriku supaya mau menontonnya, demi membenturkan kepala yang sering lupa akan dosa. Vita dan Sella memeluk padaku sambil menutup mata. Ingin kuminta menonton juga tapi mereka sepertinya enggan, tidak berani kupaksakan.

Lalu video dilanjutkan dengan sebuah puisi, atau entahlah itu apa, menurutku bagus sekali. Tidak begitu kuingat susunan katanya, tapi intinya begini.

Aku katakan sudah melakukan yang terbaik
Padahal aku tahu
Aku masih bisa melakukan yang lebih baik

Aku katakan sudah melakukan yang terbaik
Padahal Allah tahu
Aku masih bisa melakukan yang lebih baik

Memang. Betul sekali. Kuingat segala upaya dan usaha untuk setiap hal yang pernah kulakukan, belum ada yang terasa kuperbuat secara maksimal. Beberapa orang lain untuk itu bahkan sampai harus mempertaruhkan nyawa, sedangkan aku? Payah sekali, belum ada apa-apanya. Allohu! Allohu! Alloh Yang Maha Tahu, mengapa selama ini aku tidak malu pada-Mu? Ampuni, ampuni. Ampuni aku…

Setelah itu materi bergulir pada perihal orang tua. Allohu, makin aku merasa bersalah sebab sering meninggalkan mereka. Di sekolah dulu, nyaris tiga akhir pekan secara berurutan aku meninggalkan rumah untuk pelantikan MWJC, KIR, dan acara Rohis. Lalu sekarang IPM. Alloh. Pulang-pulang tidak banyak kubantu mereka, malah selebihnya menyusahkan. Bapak Ibu, entah pada kesempatan apa bisa kukatakan, “Ini balasan atas segala perjuangan kalian.” Sepertinya itu tidak akan. Alloh. Kumohon ingatkan.

Setelahnya begitu baik, Bu Jujuk memberi kesempatan pada anak-anak untuk mengirim pesan kepada orang tuanya berupa rasa cinta mereka terhadap ayah dan ibu. Tentu so sweet sekali terbaca. Hehe, sebuah pemikiran iseng yang entah bagaimana muncul agak merusak keromantisan itu, “Jangan-jangan ntar ada ibu sosialita yang malah me-screenshoot pesan tersebut dan mempublishnya lewat snapgram.” Ealah hahaha. Duh, semoga aku tidak jadi yang begitu. Hehehe.

Alhamdulillah. Acara setelah itu adalah tidur.
11.23 WIB – 5 Jumadil Awal 1439

HARI KEDUA, 21 JANUARI 2018
Alarm membangunkanku pukul 03.30 WIB. Alhamdulillah, kebetulan handphoneku bergetar di kaki. Sayang, aku malah menyempatkan tidur lagi, dasar. Setelah memantapkan hati, aku bangun betulan. Bergerak ke masjid dimana anak-anak sudah menyelesaikan 4 rakaat pertama sholat Tahajud. Aku menyusul di 4 rakaat selanjutnya dan mengikuti witir. Alhamdulillah berkesempatan. Salah satu hal menyenangkan ikut semacam Pelatihan beginian adalah adanya konsekuensi agenda yang menuntut untuk dijalankan, di antaranya adalah sholat tahajud yang tidak pada setiap waktu berhasil kulakukan.

Selanjutnya, ibadah Shubuh yang diawali sholat Fajar (ini juga, susah, padahal balasannya….beh). Setelah itu kami diminta bersiap-siap untuk outbound pukul 05.30 WIB di daerah Imogiri. Uwww. Sebab bayanganku aku tidak terlalu banyak ikut-ikutan, aku tidak membawa celana training, rokku cuma satu, pokoknya seadanya deh. Betul, kami melaju pada pukul setengah 6 lebih, sebab hujan dan bisnya mengalami keterlambatan.

Menuju Imogiri, aku ngobrol-ngobrol asyik dengan anak di bis. Akhirnya mereka dapat menyimpulkan kekhasanku kalau ngomong “Gila, gila, gilaaa” dan “Sahabat, iya Sahabat, oke Sahabat” ealah. Dasar, hehehe. Menyenangkan, meski kepalaku juga jadi nyeng-nyeng akibat ndak dapat tempat duduk dan hadap belakang.

Alhamdulillah kami sampai. Ternyata tempat berkumpul kami di samping sebuah pasarean ageng. Ndak sadar pula aku. Hehe, di situ seusainya game-game indoor yang lucu sekali, teman-teman SMP akan melakukan perjalanan yang menyenangkan.

Oiya sekalian kucatat saja game-game indoor yang kuingat :
1. Begini, begitu (begini dilakukan, begitu tidak dilakukan)
2. Lagu kepala-pundak-lutut-kaki-lutut kaki diganti nadanya dengan gundul-gundul pacul, “Kepala kepala pundak ndak, lutut kaki”
3. Mijetin temen dengan gaya hujan batu, hujan badai, dan human gerimis. Asyik, enak nih. Hehehe.
4. Banyak lagi harusnya. Kulupa eh.

Okay, perjalanan dimulai. Aku awalnya nggak kepikiran tapi Bu Jujuk memberi ajakan dan sebuah kelompok yang aku tertawakan yel-yel lucunya mereka memberi kesempatan padaku ikut di kelompoknya. Kami didampingi oleh satu orang trainer, Mas Joko kalau nggak salah namanya. Setiap trainer kelompok memiliki kantong water proof buat handphonenya. Keren banget. Aku terus ikutan beli di sana. Hehehe. Siapa tahu butuh untuk petualangan selanjutnya.

Aku sekelompok dengan Naura, Ata, Alya, dan beberapa Sahabat yang aku agak lupa juga namanya. Dalam perjalanan kami sailing gandeng bergandeng. Aku yang aslinya harusnya menjadi pendamping, lebih sering mereka bantuin malah. “Ayo, Mbak. Kita bantuin.” Nah Loh, ketawa aku. Aku salah kostum waktu itu, pakai sepatu tipis, rok, kerudung gede banget dan bukan yang praktis, bawa jas IPM. Duh, payah. Jadilah malah sering susah.

Kami melewati sungai, arusnya uh, enak. Beberapa anak laki-laki menantang untuk cepat-cepat sampai lebih dulu. Faisal, Rafi, Hanendra, dan lainnya. Sok-sokan bener sih, “Mbak, kita cepet Loh!”

Nantangin debat mereka, “Anak IPM mana ada yang sombong.” Hahaha. Seneng bisa melepas kespanengan, keseriusan bersama bocah-bocah kecil begini. By the way, agak alay sih, tapi aku mau bilang ini berada udah kaya film 5 cm aja. Naura, Icha, dan kawan-kawan memastikanku yang di baris belakang, “Bisa kan Mbak?” aku yang di belakang tanya ke anak-anak depan, “Bisa sayang?” Allohu, romantis banget yekan. Satu kesempatan menyusuri sungai, agak kutahan kemungkinan butuh bantuan beberapa trainer. “Kamu bisa, Hims, bisa. Tahan sek, slow down.” Kunikmati seharian itu, semua perjalanan nya. Hehe. Aku hanya menghindari flying fox. Karena sudah kelewat siang, aku tembus sungai dengan beberapa anak yang sudah tidak tahan untuk menunggu. Alhamdulillah menyegarkan.

Setelah itu kami mandi di rumah-rumah warga. Begini aku jadi ingat saat PDPM. Aku terkekeh saat ada anak-anak berkomentar soal keadaan kamar mandinya, Allohu, semoga ini menjadi pengalaman buat kami agar tetap bersyukur dengan keadaan masing-masing. Setelahnya aku langsung mengambil air wudhu dan bergerak menuju surau. Sudah sepi, aku ketinggalan jamaah. Suasana surau seperti mushola di rumah Simbah, ada takut sebab sendiri, tapi kuupayakan sepenuhnya menyerahkan diri. Aku terbang, terbang, jauh ke angkasa menembusnya dan kembali mendarat ke bumi pada salamku di duduk tahiyat.

Alhamdulillah. Setelah itu agenda makan siang dengan tampah-tampah yang sudah disediakan. Menyenangkan sekali. Ada belut goreng, gudangan, tempe goreng, dan nasi yang dibuat berwujud kerucut. Sedap sekali. Selesai makan, ternyata masih banyak sisa nasi dan lauk. Bu Tri begitu membaperkan membungkusnya menjadi satu, nasi dengan nasi, lauk dengan lauk. Beliau bertutur, “Nanti nasinya saya kasihkan ke ikan punya tetangga. Kalau mau dikasih ke orang, kan enggak enak.” Bu Tri menyebut kata pekewuh juga kalau nggak salah, note nih. Aku lupa artinya soalnya. Hehe. Ketika beliau menyatakannya, aku membaca tahmid sebab masih diperkenankan untuk ingat betapa sering melihat hal-hal mubadzir aku biarkan. Ayo, Hims, buka mata.

Setelah itu adalah acara penutupan. Kami kembali ke sekolah kurang lebih pukul 14.30 WIB. Sempat menggila lagi dengan anak-anak di bus. Tapi aku sudah termakan lelah. Sampai sekolah kurang lebih 15.30 WIB. Aku berpamitan dengan bapak ibu guru dan langsung menggapai Pilek. Nadia dan Caya di luar, aku pamit sambil menitip salam kepada orang tua mereka, sempat kami bertemu saat mereka mengantar di agenda TM 1, yah, kalau nggak ingat yaudah. Hahaha.
17.03 WIB – 5 Jumadil Awal 1439

SEPULANGNYA
Tanpa mengatakan TM 1 tadi mencipta masalah, aku merasa sepulang dari sana sadar bahwa belum semua amanah terselesaikan. Banyak yang terlewatkan. Astaghfirulloh. Tapi apalah daya, dua hari itu betul menguras tenaga. Tanganku kaku semalaman, aku tidak bisa tidur nyenyak. Sore hari yang kuusahakan berfaedah dengan menuntaskan cucian supaya ibu nggak jadi kerepotan ternyata sama aja, paginya aku tidak bisa bangkit dengan penuh spirit. Badanku remuk redam. Ndak kuat. Siangnya aku menyesali beberapa hal. Sorenya aku mengusaikan tulisan ini. Alloh.

Bismillah. Alhamdulillah terima kasih atas nikmat-nikmat-Mu. Tidak satupun mampu kuragukan. Sesal di akhir cerita, sebab kepayahanku pribadi.

Aku katakan sudah melakukan yang terbaik
Padahal aku tahu
Aku masih bisa melakukan yang lebih baik

Aku katakan sudah melaukan yang terbaik
Padahal Allah tahu
Aku masih bisa melakukan yang lebih baik
17.08 WIB – 5 Jumadil Awal 1439

Maafkan, tidak banyak foto kuabadikan. Bila suasana hati tidak sedemikian nyaman dengan lingkungan, hand phone kusingkirkan biar interaksi antaraku dan yang lain bisa dimaksimalkan. Beberapa foto kebanyakan dari grup panitia. Hehe.

This Post Has One Comment

Tinggalkan Balasan