Travelling dan ‘Muhibah’ ke Jakarta

Detik-detik semakin kencang mengejarku yang terus nyaris ketinggalan. Sisa-sisa liburan sudah tidak banyak lagi. Beruntunglah, setelah beberapa kali memberanikan diri lobi-lobi ke Babe, akhirnya daku diperkenankan untuk mengisi seminggu terakhir dengan pergi ke ibukota Jakarta─pusat berjalannya kekuasaan negara. Hmmm, apa yang akan kutemukan di sana?

Monas, 2019

 

Pendek cerita, belakangan kulibatkan diri dalam sebuah medan perjuangan, HMI Komisariat FEB. Ehe, FEB lho! Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Kan aku sangat anti-anti dengan yang namanya ekonomi, that’s why ketika SMA langsung angkat tangan dong dengan jurusan IPS, hehew. Makanya agak lucu ketika sekarang interaksi dituntut lebih banyak dengan orang-orang yang ngobrolin soal ekonomi karena statusku sebagai kader komisariat ekonomi. Tapi, tapi, tapi, semakin interaksi itu banyak terjadi, semakin menegaskan sebuah alasan luar biasa mengapa aku di sini. Akan sebaik dan sehebat apa alasan itu jadinya, hasilnya sesuai dengan bagaimana aku mengambil sikap terhadapnya.

 

Bismillah, semoga tangguh dan sabar diriku menjadi manusia pembelajar!

Teman keberangkatanku adalah Bunda Upik dan Bunda Vivi yang baik sekali ngasih bekal makan. Tau aja saya kelaperan:)

 

Keberangkatanku pada hari Rabu di stasiun Lempuyangan bertepatan dengan terbayarnya kerinduanku mengendarai kereta. Sudah lama rasanya terakhir menumpanginya. Diantar Babe, aku mencapai Lempuyangan dan bertemu dengan Bunda Upik dan Bunda Vivi. Tiga srikandi ini kemudian menunggangi kereta Jakatingkir yang berangkat sekitar pukul 19.00 WIB. Perjalanan kami berakhir di Pasar Senen pada pukul 04.30 WIB. Setelah ini, perjalanan sesungguhnya pun dimulai.

 

KULIAH EKONOMI

Oke, ini tidak terlalu menyenangkan dibayangkan. Liburan ngapain mikirin kuliah, ya kan? Apalagi ekonomi, hadeeeh. Namun, apa mau dikata, perjalananku menuju ke Jakarta tujuannya adalah untuk muhibah kepada alumni, silaturahim dan berdialog bareng. Nah, di sinilah aku menemukan beberapa kesadaran nikmatnya belajar dari pengalaman dan motivasi beliau-beliau ini. Tentu terima kasih kepada sahabat-sahabat senior yang sudah sabar dan tegar mendengarkan pertanyaan dan kebingunganku di setiap topik pembahasan ekonomi.

 

Nyusup ke Kementerian Keuangan

 

Ndlesep ke Pertamina

 

GEDUNG-GEDUNG TINGGI

Mohon dimaklumi apabila aku ini jadi ndeso sekali. Tetapi, sejujurnya memang cukup takjub melihat banyaknya bangunan-bangunan pencakar langit di sini. Istilah yang menempel di gedungnya sebagian aku akrab dan sebagian banyak yang tidak. KPK, Bapernas, Pertamina masih akrab di telinga. Namun Pacific Place, IDX, dan banyak lainnya aku tidak mengenalinya sama sekali. Singkatan-singkatan itu membuatku bingung sendiri. Kalau dihitung-hitung, banyak juga istilah baru yang kutemukan. Untunglah sahabat-sahabat di sini mau menjelaskan.

Aku melihat Jakarta laksana New York saja. Buahaha, padahal mataku juga belum pernah menangkap suasana kota itu. Tapi bayangan betapa metropolitannya mungkin seperti ini … atau lebih? Aku nggak tahu. Gedung-gedung tinggi, penuh kendaraan yang hilir mudik, bus way dengan bentuk lebih memanjang ataupun lebih meninggi, jalur kereta api, jalur pejalan kaki, serta lorong dan jalan layang adalah pemandangan metropolitan milik Jakarta. Keren sih, membuatku terkesima, sampai Kanda Karwi meningatkan, “Kita terkecoh dengan gedung tinggi di ibukota, keliatannya tambah maju. Tapi itu yang punya gedung dan semuanya itu siapa? Indonesia apa asing?” Hmm, terus jadi mikir lagi, ohiyaya.

Sama halnya Kanda Nasyid menguji kami, “Coba liat gedung-gedung yang ada di Sudirman, Thamrin, Gatot Subroto, ada berapa? Coba kurangi sama punya pemerintah, itu sisanya hitung yang punya pribumi. Coba lagi, hitunglah yang punya pribumi muslim berapa?” Terus ditamparlah kita dengan keadaan yang lebih menarik selama ini jadi fokus kita, “Kita sibuk berantem sama temen sendiri. Kita sibuk dengan hal yang sifatnya nggak substansial, ketika tanpa sadar ada orang lain yang lagi menyiapkan masa depan.” Ugh, berkerutlah keningku mengingat-ingat kapan terakhir kali aku memikirkan itu? Allohu.

 

atas: Bunda Upik, me, kanda-kanda, Bunda Vivi bawah: Mas Uyan, Mas Ari, Mas Defit, Mas Gilang
dari kiri: Bunda Upik, Mas Gilang, Kanda Karwi, Bunda Eka, Bunda Vivi

 

ORANG-ORANG PRODUKTIF

Entah bagaimana cara mengungkapkan rasa syukur yang demikian banyaknya sehingga bisa dipertemukan dengan alumni-alumni inspiratif dan sahabat-sahabat produktif. Bayangkan, aku bisa bertemu dengan Kanda Agus yang menjadi jurnalis dari Tempo dan Kanda Tulus dari Kompas, Kanda Budi yang jadi pelaku sejarah penangkapan tokoh PKI, pejabat-pejabat negara yang kesemuanya itu bukan hanya super kaya akan ‘nama’nya, melainkan juga pengalaman dan kebijaksanaannya. Pun sahabat-sahabat senior di HMI pun semakin menunjukkan ke’asli’an mereka, mulai dari prestasi, cerita, sikap, opini, pengalaman, dan sebagainya. Sebagian melejit dalam dunia akademiknya, sedangkan sebagian mengagumkan dengan jaringan dan pengalaman non akademiknya. Mas Defit yang menjadi ketua komisariat. Mbak Vivi yang diamanahi membantu dosen (yang katanya) paling sibuk se-FEB. Mbak Eka, Mas Uyan, Mas Ari yang mulai aktif bekerja di perusahaan kece seperti PWC dan LIPI walaupun masih magang. Mas Gilang yang jadi presnas Fossei dan punya banyak jaringan. Mbak Upik yang selalu pinter membangun suasana penuh warna. Pokoknya buanyak!!! Semakin menyadarkan bahwa aku belum punya banyak progress yang berarti.

Di kereta pulang, Bunda Upik membantu membesarkan hati bahwa setiap orang punya jalannya sendiri-sendiri. Sukses kita, bukan sukses mereka. Jalan kita nggak ada yang sama, hehe.

 

Main ke Kantor TEMPO

 

Pada intinya, syukurku begitu membuncah. Jakarta dan segala isinya menunjukkan padaku soal ambisi dan harapan yang bercampur aduk. Bersamaan dengannya, ada mimpi yang kemudian makin mengental. Seberapa manfaatkah aku di masa depan? Seberapa tangguhkah aku menghadapi ambisi orang-orang dan ambisiku sendiri? Apakah jawabannya akan ada di kota ini, di Yogyakarta, atau tempat yang jauh dari sini? Aku usahakan yang terbaik, sambil kumohonkan ridhoMu.

 

Terima kasih, Jakarta.

 

Jakarta, 5 Jumadil Akhir 1440

 

Ini satunya namanya Hanip, satunya lupa, so sad. I met them at Monas Tower and got amazed when they told about what they were doing, “Bersihin sampah, Mbak.” and they said there is no one who gave instruction for that.

 

Pasar Senen station, see you Jakarta!

 

Yunda Rinis house, here we lived for 4 days! With Bunda Vivi.
Here, at BEI Bursa Efek Indonesia) when we accompanied Mas Gilang in his seminar event. Well, I didnt really understand about topic in the seminar. But seeing others and finding how wide the world is are very amazing experiences for me, I love it.

 

This is Mas Defit, at Pertamina office. Siluet view!

 

Apparently, Ahmad Wahib was journalist in Tempo. In frame was Bunda Upik.

 

We used to take a local car at Jakarta loh!

 

Jaka Tingkir, a train which brought me from Lempuyangan station, Yogyakarta.

 

Monas, Bunda Vivi
The end~ barakallah~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *