Tumpah Tanpa Mampu Kucegah

Aku tidak mau membual beralasan waktu tak sempat atau badan tak sehat yang membikinku jadi jauh dari hobi yang tidak tergantikan, berdoa dilanjutkan menulis dan membaca, hahaha mah ngopo. Tapi, perlu diketahui, hobi sok-sokan itu sekadar impuls biar berjalan lurus sih. Aamiin.

Hehe. Nah, balik ya, emang aku merasa lagi jauh. Sebenernya sih ingin beralasan macam-macam, tapi kok wagu ya. Dulu seseorang pernah bilang waktu aku masih SMP dan terus terngiang sampai sekarang, “Kalau kamu jadi orang yang tampil di depan, ya para penonton nggak mau tahu susah-susahmu gimana, mau kecelakaan dulu, mau apa-apa dulu, masa bodo, pokoknya intinya mereka mau lihat penampilan terbaikmu.”

Nah, sama. Ini juga. Kalau aku banyak beralasan tanpa memberikan ganti seperti apa yang diharapkan, ya rasanya gagal lah ya performance-ku. Hohoho.

Terus, entri ini ditulis karena….. aku sesak napas. Hehe.

Aku sesak napas membayangkan masa depan yang nggak jelas. Muehehe, mah piye. Karena bingung harus apa, yah selanjutnya malah lahir kata-kata sebagaimana berikut.

____

MENEMUKAN SIAPA

Hari ini kita bertemu
Terbatas sembilu
Dalam sebuah keadaan
Kau mati
Dan aku hidup

Yogyakarta 5 September 2017

____

Muehehe, itu kalimat yang seketika tumpah tanpa mampu kecegah. Barusan aja. Barusan banget. Apa ya maksudnya? Duh, duh, kok medeni pakai ada mati-matinya.

Hehe, monggo dimaknai secara pribadi, sesuai keinginan hati. Kalau kata guru Bahasa Indonesiaku waktu SMA, “Yang paling paham makna puisi itu penulisnya sendiri.” tapi tidak menutup kebolehan untuk pribadi yang lain merasakan kesamaan dalam pemaknaan yang bervariasi.

____

1. Menemukan Siapa

Judul yang disuguhkan bukanlah tanda bahwa penulis sedang berusaha “menemukan siapa”, melainkan ini adalah pesan penulis kepada pembaca “temukanlah siapa” dalam puisi.

2. Hari ini kita bertemu, terbatas sembilu

Bukankah ini indah? Maksud saya adalah kalimat pertama saja. Hehe. Hari ini kita bertemu. Itu sudah cukup memuaskan bagi seseorang yang merasa bahwa itu temu menyenangkan. Tapi berlanjut dengan kalimat “terbatas sembilu” memberi sebuah pertanyaan besar, apakah temu tersebut tetap bisa dikatakan indah? Temu apa yang perlu mengikutsertakan ‘sembilu’? Dalam hal ini berarti kulit buluh yang tajam seperti pisau, senjata tajam lah singkatnya. Ngapain ya kan ketemu bawa sembilu?

3. Dalam sebuah keadaan, kau mati, dan aku hidup

Penutup ini memperjelas semuanya. Pembaca seharusnya telah mampu melaksanakan perintah dalam judul yakni “temukanlah siapa”. Hohoho. Sebuah pertemuan yang terbatasi sebuah sembilu dan dinyatakan bahwa “kau” mati dan “aku hidup”. Sehingga apa lagi fakta mengenai “siapa” selain “aku”-lah pembunuh dan “kau”-lah korbannya?

____

Allohu akbar. Sepertinya penulis baru saja membunuh seseorang. Katanya, semoga baik-baik di sana, mendapatkan yang terbaik, jauh dari seorang penulis yang licik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *