Upaya Mengejar Ketertinggalan Kelas Bahasa Inggris

Jangan jadi orang bawelKalau lagi makan ceker
I know you so well
But you don’t care

Hehe, awalnya sih ingin membuat judul semacam “”tips belajar bahasa Inggris” atau semacamnya, tapi sadar diri ah dan takut malah menyesatkan hohoho maka akan lebih terbelibetkan judulnya hahaha. Entri berjudul Upaya Mengejar Ketertinggalan Kelas Bahasa Inggris ini ditulis oleh seorang mahasiswi baru Sastra Inggris UGM (Universitas Gudang Mantu, eh, hehe, Gadjah Mada I mean) yang mungkin belum maksimal.

Di sini, perkenankanlah pribadi yang masih butuh banyak belajar ini menyampaikan beberapa kegiatan yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Hehe, bismillah dulu, bismillahi tawakaltu sebab akan keluar dari rutinitas yang biasanya demi menemui hal-hal baru (apa sih Hims, hehe).

Optimisme Tinggi, Semua Upaya Harus Dihabisi
Ehehehe, optimis jelas ya, kudu. Masa ente mau tapi nggak percaya dulu, kan lucu. Tentunya dari sekecil upil di SD sampai SMA bahkan kuliah (khususnya yang masih bertemu dengan mata kuliah bahasa Inggris) nggak akan ada habis untuk mencicipi tugas-tugas bahasa Inggris. SD ngapain ya? Hafalan one, two, three, four, mmm itu perlu percaya diri juga yekan. Kadang kita bisa one-two-three sampai one hundred meskipun ya kadang rendet-rendet dan nggak bisa yang langsung reflek itu angka berapa langsung dibahasa inggriskan. Nah, kadang buat latihan aku sering ikutan hitung mundur waktu di pertigaan atau perempatan jalan sambil lihat lampunya, pakai bahasa Inggris tentu aja.

Kalau one-two-three udah biasa, aku mencoba menantang diriku untuk three-two-one begitu. Untuk melatih diri biar reflek langsung paham oh itu thirty eight, oh fifty nine, dan sebagainya. Itung mundur pakai bahasa asing lebih susak buk, cobain aja sendiri. Hehe.

Kemudian kalau SMP dan SMA, mulai nih tantangannya lebih gedhe. Kita mulai disuruh baca cerita atau berita bahasa Inggris yang sedemikian panjangnya demi menjawab soal yang cuma tiga-empat-lima butir doang. Oh my Allah. Tabahkan, kuatkan. Tapi pada kenyataannya itu membantu kita membiasakan. Awalnya baca bentar aja udah ngantuk dan nggak masuk-masuk. Buka tutup kamus males banget. Kalau bahasa Indonesia kan mending, kita bisa langsung paham. Kalau bahasa asing sistemnya kan tambah lama baca -> menerjemahkan -> memikirkan -> paham, haduh. Nah, tapi sekali lagi, itu biar latihan. Kudu optimis bisa paham sendiri. Kadang godaan besar adalah langsung copy paste itu ke google terjemahan atau langsung mencari translation (terjemahan)nya di internet. Menurutku itu bukan larangan, lebih-lebih untuk memahamkan, tapi kalau itu sampai dijadikan ketergantungan yang menghambat kita untuk latihan menerjemahkan sendiri, nah itu jadi masalah. Kudu optimis kita bisa menerjemahkan. Iye kan.

Lanjut lagi kuliah. Ya, mirip-mirip.

Beberapa tugas seperti menulis makalah, cerita, berita dengan bahasa Inggris kupikir akan lebih baik dikerjakan betul-betul dengan otak kita sendiri. Kadang kan ada nih sahabat-sahabat yang saking magernya memilih searching (aku pernah juga eh) hehe, tapi ternyata itu menghambat kita untuk meningkatkan kemampuan, khususnya dalam hal kosa kata dan pengolahan kata. Baik lagi ditulis sendiri. Kalaupun oleh guru diperbolehkan mencari, kadang aku bulatkan tekad, nggak mau, pokoknya buat sendiri biar sekalian menguji diri. Kan nanti bisa dikonsultasikan ke orang yang dirasa lebih mahir, yak duh, tak dung tes.

Misalnya pun ada tugas atau ujian story telling (cerita) pakai bahasa Inggris, aku lebih senang teksnya kutulis sendiri. Sebab apa? Ya di antaranya tadi itu. Menambah kosa kata, menguji kemampuan mengolah kata, dan yang paling penting jadi gampang ngehafalinnya sebab kosa katanya muncul dari apa yang sudah kuketahui. Hehe. Semua itu, upaya-upaya itu nggak akan bisa dilaksanakan tanpa adanya optimisme yang tinggi. Tapi jangan ketinggian, ntar jatuh baru kesakitan. 

Sok-sokan Ngobrol berbahasa Inggris
Canggung sih kalau ngobrol tiba-tiba nggak ada angin, nggak ada ujan, pakai bahasa Inggris padahal biasanya pakai bahasa jawa, sunda, ngapak yang omegat apa banget gitu kan kalau berubah pakai bahasa Inggris. Medhok, plis. Hehe ada cerita kemarin waktu aku ada agenda di Lampung dan sahabat-sahabat di sana mengonfirmasiku yang ternyata mahasiswi Sastra Inggris, katanya apa coba? “Loh, terus kamu kalau ngomong bahasa Inggris medhok dong ya.” Hehe, itu aku cuma meringis, aslinya pengen nangis. Wkwkwk. Tapi emang iya, medhok pisan euy.

Cuma ya mau gimana? Kalau nggak dicoba, kapan lagi ye nggak?

Waktu ada temen cerita, yang biasanya kita sahut dengan “Oh, oalah, hmmm, iya, iya, paham, oh gitu” dan lain sebagainya sekarang bisa lah dikit-dikit dituker, “Oh I see, hmm, I get it, uh understood, yes, yes, yeah, I know” hahaha pilihlah sesenang dan senyamanmu.

Pokoknya yang sederhana-sederhana aja. Atau malah baik lagi udah ada komitmen antar kamu dan sahabatmu, “Eh, besok-besok ngobrolnya pakai bahasa Inggris, chat-chatan pake bahasa Inggris ya, sebisanya aja yang penting latihan!” Nah, itu malah lebih enak. Jadi kalau ada yang salah, ah, nggak usah malu. Nggak ada rasa canggung atau takut dianggep sok-sokan. Ya, walaupun ntar bahasa jadi compar-campur bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sih hehehe.

Setelahnya bisa juga loh memanfaatkan berbagai momen bertemu dengan orang native (asli) Eropa atau Amerika mungkin yang rata-rata bisa berbahasa Inggris. Bahkan orang Asia yang bisa bahasa Inggris juga ndakpapa. Bule-bule yang sering bertandang ke negeri tercinta kita yang satu ini, mana lagi kalau bukan Indonesia, sangat bisa dimanfaatkan. Hehe. Seorang sahabat, Dewi namanya, entah gimana selalu beruntung mendapatkan kawan obrolan dari manca negara. Sebab apa? Dia berani dan baik sekali. Ada bule kelihatan bingung di tengah jalan, dideketin, ternyata si bule nggak ngerti cara pesen gojek, dipesenin sama Dewi terus mereka kenalan. Hmmm.

Pernah juga di kampus aku lagi bareng Dewi tiba-tiba ada oppa-oppa Korea kebingungan, “Parkiran Fisipol di mana ya?” dengan bahasa Indonesia terbata-bata. Aku inget banget itu ujan deres dan aku lagi kebelet banget mau ke kamar mandi, oh no. Dan keberuntungan itu jatuh lagi ke Dewi yang akhirnya nganterin si oppa ke parkiran Fisipol pakai payungnya dia. Habis ngobrol-ngobrol, betul deh kata dia si oppa tadi dari Korea dan lagi ambil jurusan Sastra Nusantara di Indonesia. Oh my Allah:”)

Lagi beberapa waktu yang lalu aku dan sahabatku yang sama-sama pemalu, Icha, dag dig dug ser mau ngobrol sama bule. Ada bule berkerudung, cantik banget Allohu Akbar. Kita nggak berani ngomong eh tapi. Huehue. Alhamdulillahnya dia ramah banget masya Allah. Aku cuma senyum ya, senyum doang, bermodal bibir terseret ke kanan kiri doang dia sapa “Assalamualaikum!” uwadaw. Nggak mau melewatkan kesempatan membaperkan itu langsung kutawarkan jabatan tangan sambil menjawab salamnya. Masya Allah. Ruveyda namanya. Gadis berdarah Turki, tinggal di Belanda.

Jal, kalau nggak nyoba, kapan lagi bertemu kesempatan begitu?

Nonton TeD Talks di Youtube
“TED merupakan singkatan dari Technology, Entertainment, Design. TED adalah sebuah organisasi non profit yang mengumpulkan para tokoh inspiratif dari berbagai bidang untuk tampil memberikan presentasi dalam sebuah konferensi. Motto mereka adalah “Ideas worth spreading”,” disampaikan oleh Muhammad Noer pada 2011 (https://www.muhammadnoer.com/belajar-presentasi-hebat-dari-ted-conference/)

Di Youtube, sahabat-sahabat bisa banget loh cek TeD Talks yang akan menyuguhkan berbagai konten video berupa pembahasan mengenai suatu topik tertentu oleh seorang pembicara, dengan bahasa Inggris tentu saja. Ada tentang bisnis, edukasi, motivasi, dan sebagainya. Cari aja yang sesuai dengan apa yang sahabat-sahabat butuhkan. Hehe.

“Tapi kalau blas nggak paham orang ngomong bahasa Inggris?”

Uwadaw. Lu kira ane paham? Belum hehe. Tapi masih mencoba paham. Sekarang sih sedang berusaha membiasakan tetap menonton apapun hasilnya, yang penting nyoba. Walaupun nggak bisa nangkep semua poinnya.

Dulu sih langsung ngebet cari topik yang menarik tapi rada berat di tangkep. Cuma pada akhirnya sekarang lebih sadar ilmu belum mencapai hehe, mending yang enteng dan memang lagi tertarik aja. Jadi lebih banyak sekarang soal motivasi begitu, kaya misalnya “What makes you special?” (Apa yang membuatmu spesial?), “How to speak so that people want to listen?” (Bagaimana cara berbicara yang ideal supaya orang lain mau mendengarkan?), “Three Steps to Transform your life” (3 Cara yang mengubah hidupmu), dan lain sebagainya. Sekali lagi tergantung ketertarikan dan nyamannya kita. Insya Allah sih seenggak pahamnya seseorang ketika dapet topik yang dia banget, true story banget, bakal ngangguk-ngangguk karena sepaham atau geleng-geleng karena berseberangan pendapat. Uwww.

Sedikit sekali yang masih bisa kutangkap di tiap video, tapi demi mengasah kemampuan speaking dan listening (bicara dan mendengarkan) sepertinya ini akan banyak membantu. Apalagi kalau kita banyak-banyak bisa menambah vocabulary (kosa kata) dari sini.

=====

Selain hal-hal di atas ada tips-tips lain yang biasanya muncul juga, tapi sengaja belum kujelentrehkan sebab diriku pribadi pun masih sangat sedikit upayanya di situ. Semoga ngegas habis ini, eh, beneran ngegas wkwk. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut.

1. Nonton film/drama bahasa Inggris
Lists yang ingin Ahimsa tonton adalah… the Crown,

2. Muter musik bahasa Inggris
Lists yang harus dicari liriknya adalah… Marry your daughter, We will not go down

3. Baca artikel/buku bahasa Inggris
Lists buku………….. Percy jackson I-III, The land of five towers, How to win friends and influence people

4. Menulis blog atau apapun sisipin bahasa Inggris
Yahhhhhh bismillah yahhhhh

5. Punya suami dari Inggris, nah loh :v 
Ini perlu dilist juga kah?

=====

Btw ada sebuah cerita yang ingin kusisipkan juga. Dulu ketika masih imut-imut (sekarang sih imut banget) dan awal-awal belajar Al-Qur’an, aku menyerukan pada ibu, “Bu, enak ya orang Arab, bisa bahasa Arab, baca Quran langsung paham, hehehe.” Sama halnya dengan beberapa waktu lalu aku memikirkan bahwa seandainya aku lahir dari sebuah keluarga di Eropa atau Amerika atau sebagainya yang membuatku sejak lahir paham dan pinter bahasa Inggris. Ndak perlu aku susah-susah belajar seperti sekarang. Uwww.

Astaghfirulloh, Ahimsa ini, cara berpikirnya pendek sekali. Sebuah anugerah dari Allah SWT malah ndak disyukuri. Kini aku yakini, kesempatan menjadi bodoh akan bahasa asing akan membawaku pada hasrat untuk berlari lebih jauh lagi, lebih kencang lagi, nggak mau berhenti sampai nantinya ketika apa yang aku cita-citakan berhasil (dalam hal ini bisa mahir berbahasa asing) tentunya akan menjadi kepuasan yang sangat berarti. Jauh lebih besar bahagianya, puasnya, senangnya, berkali-kali lipat lebih baik daripada aku yang sudah bisa berbahasa asing sejak lahir.

Bismillahirrohmanirrohim. Ridhoi aku ya Rabbi!

Hehe, yeay, semoga bermanfaat, semangat ya sahabat!

11 Januari 2017 (ekya ada lagunya)
Yogyakarta, 24 Rabbiul Akhir 1439

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *