Urip Ojo Enak-enak Baek

Sebetulnya spirit tulisan ini lebih merekah lagi setelah suatu momen romantis di Alun-alun Kidul bersama Ukhti Ririn Desriani, kala itu di tengah agenda cari sarapan di Rapat Pleno II PD IPM Kota Yogyakarta. Kami mengobrol beberapa hal.

Aku tidak menyampaikannya pada sahabat Ririn, tapi sebetulnya beberapa momen belakangan (serasaku saja mungkin), aku merasa canggung mengobrol dengannya. Bukan salahnya, tapi ketidaktepatan hatiku pribadi sepertinya. Maka banyak-banyak harusnya kusempatkan bertukar cerita dengannya, dan juga tulisan ini mungkin bisa jadi salah satu jembatan untuk sampai pada ke sana. Barakallah, sahabatku, sayangku.

Kami bicara soal hidup. Betapa hidup sangat enak bagi sebagian besar orang. Enak, ya enak yang bener-bener enak. Fasilitas memadai, sarana prasarana tinggal pilih sendiri. Seenggaknya itu enak untuk kita, baik diriku yang menulis bahasan amburadul ini atau sahabat-sahabat yang berbaik hati menyempatkan diri membacanya. Aku punya mesin ketik, ada handphone, begitupun teman-teman yang punya alat komunikasi untuk menikmati bacaan ini, kuotanya, chargernya, sinyalnya, listriknya, dan sebagainya. Itu masih sebagian kecil.

Perlu mungkin kusampaikan pula? Sekarang berapa banyak macam makanan dari yang kalau dipesan lama sekali karena banyak yang antri sampai makanan cepat saji, silahkan, tinggal pilih sendiri. Atau kalau males gerak untuk sekadar berdiri menunggu, adalah kini yang namanya go-food tinggal klik nunggu simbol muter loading say halo-halo and then makanan sudah sampai ke pangkuan. Well! Kurang enak apa? Mau jalan, nggak ada kendaraan? Lah, pesan lewat online apa susahnya? Dunia ini, nyaman ya? Hehe, dengan seluruh kemudahan yang ada, masih juga kita banyak rewel? Ugh. Begitupun si penulis, masih begitu kuat soal sambat.

Pada suatu waktu, sengaja telingaku menangkap obrolan Babe dan Ibu dengan seorang kawan lama. Pembahasannya soal membesarkan anak. Hehe, ketika statusku disebut, tentu saja tergerak memperhatikan. Sedikit-sedikit Babe dan Ibu sampaikan soal tujuan di balik adegan-adegan susah yang sengaja beliau putarkan dalam kaset kehidupan anak-anaknya. Latihan puasa sunnah dari kecil, ke sana-sini jalan kaki, kendaraan juga yang bunyinya otok-otok, baju yaudah nggak usah yang membuat mulut tetangga menganga, cukuplah seadanya. Hal itu demi mewujudkan rasa “prihatin” dalam pribadi dalam diri putra-putrinya.

Kuklarifikasi ke Ibu soal pengertian kata “prihatin”, kata beliau, “Mau hidup sengsara demi meraih sesuatu yang diinginkan.” Ugh. Mendalam, kaya kapal selam. Haha, nglawak, failed. Back to the topic. Spirit perjuangan untuk menggapai impian telah ditumbuhkan oleh berdua kepada pribadi kami bertiga (aku dan adik-adikku). Semoga benarlah begitu hingga pada Allah-lah kami pasrahkan segala sesuatu pada akhirnya.

Pada suatu kesempatan, aku dipertemukan dengan salah satu dosen Psikologi UAD, Bapak Khoirdun Bashori. Beliau menuturkan, kurang lebih, “Orang kalau sudah kebiasaannya dapet enak-enak, akan sulit bersyukurnya. Tapi bagi orang yang terbiasa hidup susah, sekalinya dapet kebahagiaan kecil wah bersyukurnya minta ampun.” Hehe.

Dan, betul, itu kurasakan baru saja. Tadi ini. Di tengah terik matahari panas, aku dan sahabat-sahabat seangkatan yang sebetulnya tergoda sambat harus memenuhi sebuah misi hebat. Berat, tapi nikmat. InsyaAllah. Kami diminta untuk membuat laporan berdasarkan field observation mengenai upacara Tawur Agung (salah satu rangkaian acara Hari Raya Nyepi) yang dilaksanakan di Candi Prambanan. Sebuah momen langka bagiku yang jarang ke situ.

Panasnya matahari, dahaga dalam diri, wah itu ujian yang berat sekali. Bahkan setelah usai, aku dan Nabila harus berjalan dari kompleks Prambanan menuju masjid di seberang kemudian beranjak ke barat untuk sampai pada halte bus. MasyaAllah! Kalau bukan karena sudah terbayang kasur empuk dan nyaman di rumah, rasanya aku enggan beranjak ataupun sekadar bergerak. Cuapek tenan (maafkan, rada aleman). Hehe.

Kunikmati perjalanan bus Trans Jogja sampai di Malioboro. Karena sebetulnya aku harus berganti bus untuk sampai di Jalan KH. Ahmad Dahlan, rasanya kok kelamaan, akhirnya kuputuskan ya sudah jalan. Dari titik nol kilometer ke rumah dengan terengah-engah dan tubuh lemah. Kaki mencapai rumah pada pukul 14 lewat. Langsung kugapai pulau tempat rasa empuk memeluk. Wuah! Bersyukurnya! Minta ampun! Hanya sekadar berhasil sampai pada kasur.

Hehe. Yah, namanya orang habis susah-susah. Setelah dapat nikmat istirahat, rasanya alhamdulillah! Betul-betul mantap. Maka malam ini kusyukuri semua itu, kusyukuri semua jalan sepanjang hidup yang ngalor-ngidul susahe marake gundul.

Kalau kaya ya alhamdulillah, hidup enak seperlunya. Banyak duwit bolehlah, tapi perlu ingat saudara lainnya.

 Sekadar itu yang dapat kubagi, tetap bahagia! Semoga manfaat, ya sahabat.

Yogyakarta, 28 Jumadil Akhir 1439

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *