What Brought Me to Korea

Sesungguhnya kita adalah seorang penyusun rencana, dan hanya Allah-lah yang memutuskan untuk meng-acc atau tidaknya. Aku ingat itu baik-baik supaya terus menerus menjadi pribadi yang penuh dengan rencana, lantas terus berusaha dan berdoa. Kuyakini betul-betul bahwa rencana itu bisa jadi baik terlaksana, atau dimodifikasi oleh Yang Maha Tahu segalanya, ataupun dibatalkan oleh-Nya. Muehehe.

 

Soyanggang Skywalk, Chuncheon, South Korea

 

Seperti cerita soal mimpiku yang sampai akhirnya bisa berkelana keluar negeri, pun di-acc-nya panjaaaang sekaliiii (tapi malah karena panjangnya itu jadi sangat berkesan, hehehe). Berkali-kali aku berusaha menyusupkan diri dalam berbagai pendaftaran program pertukaran mahasiswa atau forum internasional, baik akademik maupun sosial, tetapi belum sampai mendapatkan hasil yang didambakan. Untuk yang satu ini, sungguh sebuah anugerah yang kalau dipikir-pikir aku juga tidak tahu bagaimana akhirnya bisa terjadi sedemikian rupa. Apa yang akan kusampaikan di sini bukanlah sesuatu yang mungkin bisa sahabat-sahabat duplikasi sebagai cerita kalian pribadi, tapi kuharap bisa bermanfaat dan memberi inspirasi. Salam doa penuh cinta dari Kota Chuncheon, Korea Selatan!

 

Singkat saja, program yang aku ikuti adalah 2019 Kangwon National University (KNU) International Summer Program. Apakah itu? Yaa, itu adalah program musim panas untuk mahasiswa internasional, muehehe, jelas yaa. Ini merupakan program pengenalan budaya dan bahasa Korea untuk mahasiswa internasional dari universitas-universitas yang punya hubungan kerja sama dengan KNU. Semacam anugerah tidak terduga, qadarullah, UGM salah satunya.

 

Waktu ini, seorang sahabat di jurusanku, Emma Natasha, mengirimkan sebuah publikasi kegiatan ini dari web Office of International Affairs UGM (if you are UGM students, feel free to check the OIA web often). Sebetulnya saat publikasi itu sampai padaku, tenggat waktu yang tersisa sangatlah tipis. Mungkin sekitar 5-6 hari. Sedangkan dokumen dan keperluan yang diminta tidaklah sedikit. Sempat kudorong beberapa sahabat untuk turut serta mengikuti, namun sayangnya mereka tidak mampu untuk memenuhi salah satu persyaratan utama, yakni memiliki paspor. Untukku sendiri, atas berkat kompor sahabat Aunillah Ahmad satu tahun lalu, akhirnya aku sudah memiliki barang yang disebut-sebut KTP internasional tersebut.

 

 

Jadi waktu itu, OIA menuntut para pendaftar untuk mengumpulkan beberapa dokumen, yaitu:

  1. Formulir yang sudah diisi
  2. Surat rekomendasi dari dosen*
  3. Transkrip nilai
  4. Curriculum vitae
  5. Sertifikat kemampuan bahasa inggris (Toefl 530, iBT 80, IELTS 6.0)
  6. Sertifikat keterangan dari fakultas*
  7. Surat nominasi dari fakultas kepada Kepala OIA*
  8. Fotokopi paspor

 

Nah, dokumen yang mau aku ceritain di sini adalah yang kutandai bintang. Selain itu, seperti formulir adalah pengisian biodata dan keterangan diri yang bisa menarik pemilik program, kuatkan di bagian motivasi atau alasan kalian mengikuti kegiatan. Karena ini soal budaya dan bahasa, berarti aku harus tampak sangat haus untuk belajar budaya baru. Transkrip nilai untuk temen-temen FIB UGM bisa dengan mudahnya diminta ke bagian akademik, insyaAllah petugas di sana akan dengan senang hati langsung membuatkan secara langsung. Curriculum vitae ya mirip-miriplah yah sama formulir, tapi ini lebih ke cara kita menjual diri (mmmm, you know what i mean) lewat memamerkan kegiatan atau organisasi yang kita ikuti. Kalau toefl nihhhh, bisa banget temen-temen cek ceritaku di pos ini. Sungguh sebuah perjalanan mengerjakan Toefl yang membuat haru! Muehehe. Nah, terus paspor, yaah, kuharap kubisa bercerita cara mengurusnya lain waktu. Karena itu sudah lama, jadi aku agak lupa sesungguhnya bagaimana prosedurnya.

 

Okee, secara detail yang lain akan kujelaskan:

Rekomendasi dari dosen biasanya aku meminta dari dosen pembimbingku sendiri. Tapi karena beliau sudah pernah kumintai, aku tidak enak minta lagi dalam waktu yang berdekatan untuk program yang lain. Sehingga aku memohon bantuan dari dosen lain yang sangat mengenalku, mudah didekati, dan sekilas keberadaannya sangat mendukung posisiku untuk mengikuti program ini. Beliau yang kumohon bantuannya adalah dosen kebanggaan jurusanku hihihi–kalau bisa kubilang. Beliau adalah Pak Amin Basuki yang kebetulan juga sudah pernah menempuh S2 di Korea. Waktu itu, sedikit basa-basi kumelakukan konsultasi kalau ingin mengikuti summer program di Korea Selatan bagaimana pendapatnya. Daaan, ternyata positif! Di situ mulailah aku menyuguhkan permohonan apakah beliau kerepotan kalau kumintai bantuan soal surat rekomendasi. Daaan, ternyata lagi, tidak sama sekali. Beliau sangat suportif! Alhamdulillah. Barakallah, Bapak!

 

Pada saat itu aku mulai berpikir betapa pentingnya membangun hubungan dengan banyak orang, tidak terkecuali dosen. Muehehe, jangan anggap diriku orang yang oportunis ya sahabat. Buahaha! Karena sesungguhnya kita sama-sama manusia yang saling membutuhkan. Tetapi bukan berarti kita jadi selalu pamrih dalam mencipta hubungan lho yaa. Terus menerus memperluas jaringan, sampai kita tidak sadar kalau di depan kita telah terbuka banyak peluang dan jalan.

 

Selanjutnya untuk keterangan mahasiswa dan surat nominasi dari fakultas bisa kudapatkan dengan perjuangan–yang tidak mudah. Muehee, seperti sudah kubilang sebelumnya, jaringan ini suuuuuperrrr penting, Sahabat. Aku berusaha untuk memohon dibuatkan dua dokumen ini lamanya tidak ketulungan. Bila tadi kusampaikan tenggat waktu terakhir pengumpulan adalah 5-6 hari, gara-gara dua dokumen inilah aku ingin gigit jari. Aku nyaris menyerah 🙁 Bayangkan, aku setiap hari pergi ke ruang tata usaha fakultas hanya untuk mengemis dokumen dan menyuguhkan pertanyaan, “Sudah jadi belum ya, Bu?” kepada petugas yang selalu sabar menjawab. Nama beliau Bu Santi. Salah satu (atau satu-satunya, eh?) petugas yang kuakui sangat gercep di ruang tata usaha ini. Entah berapa kali beliau bersedia membantuku mengurus banyak hal, tidak hanya ini. Ternyata tersendatnya dokumenku itu berkenaan dengan bagian akademik yang memang sedikit alot untuk dimintai surat keterangan mahasiswa. Sampai akhirnya itu nyaris melewati batas hari maksimal aku mengumpulkan dokumen. Aku memeras otak dan mencoba menghasilkan ide.

 

Sebuah momen di mana akan ada pertemuan antara wakil dekan dengan para pimpinan badan semi-otonom fakultas, aku memanfaatkannya untuk mewakili komunitas di fakultasku. Bu wakil dekan yang tidak lain adalah dosen idolaku di jurusan berada di sana. Nama beliau Ibu Nur Saktiningrum, kerap disapa bu Ningrum. Pada kegiatan tersebut, sengaja kulempar satu dua butir pertanyaan demi meraih perhatian beliau. Dan di saat itu, muncullah klik! di antara kami. Beliau memberi tanda bahwa interaksi kita bisa bersambung. Langsung, sore harinya, aku sengaja menuju ruangan beliau dan menjelaskan keadaanku. Kupaparkan bahwa dua dokumen yang seharusnya sudah bisa kuambil hari itu ternyata masih terhambat di bagian akademik. Tanpa berpikir banyak beliau memintaku menuliskan surat keterangan sederhana yang akan ditandatangani oleh beliau selaku wakil dekan yang menjelaskan tentang keterlambatan pengiriman dokumen. Semacam permohonan untuk minta dimaklumi. Daaaan, taraaa! Sore hari itu selanjutnya kukumpulkan semua keperluan di kantor OIA UGM. Beruntunglah mereka mau menerima dan mengerti tentang hal itu. And you know what, baru sekitar satu minggu kemudian, dua dokumen dari fakultas yang kutunggu-tunggu itu jadi. Beruntunglah tidak ditolak oleh OIA. Mueheheee, alhamdulillah.

 

***

 

Detail teknis pendaftaran kira-kira seperti itu, Sahabat. Alhamdulillah, itu membawaku pada hari ini bisa berada di tanah Chuncheon, Korea Selatan. Hehehe. Tenang, aku tidak patut sombong dan angkuh. Karena sejujurnya, tidak ada pembuktian soal kehebatanku dalam proses pendaftaran itu. Kegiatan yang hanya memiliki sedikit tenggat waktu pada saat pendaftaran itu pada akhirnya hanya mendapat empat pendaftar, muehehe. Dan secara kebetulan aku menjadi prioritas utama karena kelengkapan dokumen. Sahabatku, Hilda, ada di posisi cadangan. Atas ridho Allah, akhirnya kami berdua bisa diberangkatkan. Jadi, aku sama sekali tidak melalui prosesi drama kompetitif apapun. Hanya empat orang! Dan ini adalah rezeki, yang kebetulan kalau boleh dibilang.

 

Setelah pengumuman penerimaan dari KNU, aku masih harus ditantang dengan banyak drama lain. Di antaranya adalah biaya pesawat terbang yang harus kutanggung sendiri. Beruntunglah, sekali lagi karena Ibu wakil dekan memberikan alternatf jalan. Aku mengusahakan beberapa hal sampai akhirnya fakultas mau membantu, sedangkan universitas masih diusahakan (doain ya sobat). Pun juga ada drama tambahan dalam penguruan VISA Korea. Be-li-bet ba-nget- a-se-li-! Sampai Babe sempat membuatku jadi agak ciut sendiri karena memang urusan ini sedikit mempersulitnya. Alhamdulillah di samping Babe dan Ibu tetap berusaha, ada banyak pakde dan budhe yang senang hati mengulurkan tangan. Sampai sekarang, baru doa keselamatan dan kebaikan dunia akhirat yang bisa kusampaikan! Barakallahulakum<3

 

Kesimpulan pertama yang aku temukan sampai sejauh ini adalah bahwa kita tidak pernah bisa sendiri.

 

Semua proses ini membutuhkan banyak bala bantuan dan dukungan dari banyak orang di sekitar. Kita bukan apa-apa atas apa yang kita lakukan. Semua itu adalah buah kebaikan orang-orang tersayang. Juga, tentu saja, keberadaan mereka ialah berkat ridho Allah swt. Karena ketika jalan-jalan di depan mata tertutup, sesungguhnya cahaya petunjuk Allah akan selalu terbuka. Kita tidak lagi melihat dengan mata, tapi dengan hati. Hohoho bijak sekali yaa perkataan saya. Hihihi, tapi itu sebagaimana bisa dikutip dari perkataan ibu. Saat aku lagi galau-galaunya bisa berangkat nggak, ibu selalu menguatkan, “Tenang Mbak Wardah (panggilanku di rumah), gimanapun pasti ada jalan, kan?” Aku tersenyum pastinya. Ada perempuan sekuat itu di depanku, aku nggak boleh menyerah!

 

Lalu, aku jadi bisa punya kesimpulan kedua.

 

Yaitu, bahwa untuk bermimpi bisa melancong dan belajar jauh ke luar negeri bukanlah soal kita berkompetisi dengan teman atau orang-orang keren lain. Tetapi ini soal kompetisi kita dengan diri sendiri. Serius! Rasa males ngurus administrasi bisa jadi alasan kita gagal berangkat. Rasa takut nembung ke dosen atau lembaga bisa jadi alasan kita terhambat. Rasa putus asa karena gagal mengusahakan sesuatu bisa jadi alasan kita kehilangan kesempatan. Pokoknya ini serba soal rasa yang kaitannya sama diri sendiri. Jadi, ayooo, lawan dirimu sendiri. Kalahkan hambatan-hambatan dalam dirimu.

 

Seorang kakak tingkat di fakultas pernah menyampaikan, “Jangan pernah membatasi dirimu, karena sesungguhnya kita sebagai manusia sudah sangat terbatas.” Hehehe.

 

Wallahu’alam bisshowwab. Hanya Allah yang Maha Tahu. Mungkin aku hanya sok tahu.

 

Chuncheon, 4 Dzulqidah 1440

berangkat ke bandara Soekarno Hatta~
my dormitory at Chuncheon

2 comments on “What Brought Me to Korea

  1. halo, wardah, aku komentar ya! aku sudah baca postingan blog-nya wardah tentang korea dan ngelihatin ig/fb story juga hehehe, aku mau bilang, i’m so proooouud of youuu!! keren banget wardah! wah aku jadi termotivasi untuk …… bikin paspor. wkwk. nyicil dululah, ya.

    semangat terus ya wardah!

    1. Rasyaaaaaa!!! Wkwkwk terima kasih sudah ngabarin dulu kalo posting komentar wkwk ngakak dong saya. Barakallah<3 Terima kasihhhh sudah banyak membaperkan as always. Kuharapkan yg terbaik untukmu! Semoga Allah selalu memeluk semua mimpimu! Terus jadi Rasya yg berani dan berontakkk, tbh itu menginspirasi sekali :v

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *