What Made Me Grateful in Korea

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (QS Al-Mulk:15)

Anyeonghaseyo!

Setelah berminggu-minggu galau memastikan keberangkatan, alhamdulillah sebuah keputusan akhirnya dibuat. Penuh nekat, penuh tekad, insyaAllah begitu.

Hari Sabtu aku berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, sendirian. Kemudian selama kurang lebih enam jam transit di Manila, Filipina, barulah Hari Ahad tanggal 30 Juni pagi, kakiku berpijak di tanah Korea Selatan. Alhamdulillah, waaaaaaa, anyeonghaseyo!

Pengalaman perjalanan pergi ke Korea telah membuatku dag dig dug ser karena itu adalah kali pertama keluar negeri dan—menegangkannya lagi—kulakukan sendiri. Rasanya ingin memegang jidatku saat itu, sambil memastikan, “Are you okay?” Yaaah, panas dingin keadaannya.

Ketika terbang menuju Filipina, aku sangat terkesan dengan fasilitas di dalam pesawat Bung. Meskipun tergolong kelas ekonomi, tetapi aku mendapat kursi yang enak, televisi kecil sebagai media hiburan, juga makan besar sebagai pengenyang. Itu benar-benar keren untukku! Saat itu, mungkin gerak-gerik nerves terbaca oleh seorang bapak di sampingku, dia menyampaikan padaku, “Don’t be afraid, don’t be afraid!” Waaaa, terima kasih, Bapak. Lalu kami sedikit tukar-tukar cerita, ternyata dia dari Jepang dan sedang dalam perjalanan bisnis. Ups! Keren sekali orang di samping saya.

Pun juga, aku menemukan hal mengesankan lain saat turun ke Filipina. Saat itu, kami diturunkan dan dinaikkan ke bus untuk menuju bangunan bandara karena langit sedang hujan. Aku duduk di samping seorang perempuan yang masih muda. Lalu, sedikit-sedikit kami berbicara, katanya dia baru selesai kursus di Indonesia. Mengetahui aku pergi sendiri di perjalananku yang pertama keluar negeri, ia bilang, “Waw, you are so brave!” dan itu betul-betul segera memeluk kekhawatiranku selama perjalanan. Aku pemberani, aku pemberani, berulang kali kuingatkan diriku. Hihihi.

Sekali perjalanan naik pesawat lagi, aku beruntung berada di samping seorang eonnie yang baik. Kami tidak banyak bicara selama perjalanan. Sesungguhnya aku takut kalau ternyata ia tidak bisa bahasa Inggris, muehee, i am sorry not mean to underestimate her. Ternyata di akhir perjalanan, kusadari ia bisa berbahasa Inggris dan kutanya beberapa hal—modus untuk membuka obrolan. Oh! Baik sekali! Ia mengajakku berbincang dan menasehati seperti ibuku sendiri. Bahkan saat sudah keluar dari pesawat, ia sempat melemparkan lambaian tangan perpisahan. Waaaa! Anyeong, eonnie!

 

***

Kampus Kangwon National University (KNU), tempatku belajar hidup di Korea

 

And, here we are.

Plek, plek, plek *suara sepatu melangkah*

Keberadaanku di Kota Chuncheon, Provinsi Gangwon, Korea Selatan sudah terhitung tiga hari. Untuk kegiatan di program ini, kami baru mulai kemarin. Rasanya sudah banyak hal dikerjakan bersama, tapi masih belum sampai pada tataran puas memaknainya. Mungkin ekspektasiku keliru arahnya. Aku masih berpikir, ini Indonesia di mana kita nyaris banyak kesamaannya dan seolah mudah untukku mau melakukan begini begitu. Padahal, di sini BE-DA- BA-NGET-NGET-NGET!!!

Terkhusus soal makanan, Sahabat. Aku agak kesulitan menentukan harus makan apa dan harus jajan apa. Salahku juga sih, belum matang menyiapkan kemarin-kemarin soal ini. Hanya bergantung pada sebuah bacaan petunjuk makanan halal dari sahabat Dewi Novita sebelum aku berangkat. Tapi tetap saja, pada akhirnya yang memutuskan makan atau tidak adalah aku. Bacaan itu tidak bisa secara mendetail menjelaskan tiap produk makanan, bukan? Huhuu. Sejujurnya aku juga jadi tidak enak pada teman yang lain kalau denganku pilihan makanan mereka harus jadi diinterupsi. Huehuee. Tapi setelah kupikir-pikir, perasaan ini harus disingkirkan, tidak baik terlalu mendendam ketidakenakan. Aku bilang ke diriku, “Santai, Hims, santaiii.” Jadilah, sejauh ini fine saja, makanan yang rajin termakan adalah sayuran dan seafood, paling sarapannya onigiri seafood hihihi. Kadang aku juga memakan mie gelas dan minum energen yang dibekali oleh ibunda dari rumah. Muehehee, siap sedia!

Gazebo atau apa ya ini aku nggak tahu aslinya fungsinya. Sampai sahabat El melahirkan ide untuk kita sholat di sana. Jadi mungkin ini semacam mushola😂

 

Pernah di hari pertama aku di Korea lalu, para sahabat mengajak makan di restoran ayam. El, sahabatku yang sama-sama muslim, merasa itu tidak apa-apa asalkan nggak ada pork (돼지 / babi) di dalamnya. Aku agak memicingkan mata waktu itu—beda pendapat, karena walaupun bukan babi, tapi kita kan nggak tau cara motongnya gimana. Lalu sambil tertawa, seorang sahabat Korea berseru, “Don’t fight, don’t fight!” dan kami semua tertawa. Hihihi, aku iya-iya saja ikut ke sana, meski pada akhirnya aku hanya makan sayurnya, bukan ayamnya. Ada yang bilang, “Heee…. eman-eman itu duwit 9000 won!” Iya, harganya 9000 won setara dengan 117.000 rupiah! DAEBAK! Ayam doang! Tapi habis itu kupikir, baiklah anggap untuk sodaqoh dan infaq, sebagaimana Babe biasanya mengajariku. Hmmm, insyaAllah ikhlas. Hihihi. Malah itu jadi pelajaran buatku biar lain waktu bisa memastikan penghematan selama di situ. Soalnya makan di sini mahal-mahal lur 🙁

Di sinipun beberapa kali aku diajak untuk ikut kegiatan minum-minum, barbekyuan, dugem, dan sebagainya. Buahaha, wajah baru sekali untukku. Di sini, ujianku nambah untuk ngerem hal-hal yang kalau bahasanya si El, cuma bakal kita penuhi ‘karena nafsu’. Waaa, betul juga. Kalau dipikir, aku bakal ikut-ikutan dan menghabiskan sangu yang dikasih orang tua cuma buat seneng-senengku sendiri. Terus, manfaatnya? Ueeehuweee. Astaghfirulloh. Alhamdulillah, diingetin.

Kemudian juga waktu sholat … huhu, betapa menyedihkannya terhitung dua kali terlambat sholat Subuh di sini. Harusnya dilakukan sekitar pukul 03.00 waktu Korea. Karena ini musim panas, waktu malam memang lebih sedikit diberikan. Aku saja harus sholat Isya’ baru sekitar pukul 22.00. Tentu tidak akan kusalahkan keadaan di mana waktu tidurku jadi sangat menipis. Karena toh, itu tidak bisa jadi alasan bagiku untuk terlambat sholat Subuh. See, betapa sudah banyak muslim yang tinggal dan berlalu lalang di sini dan Subuh-nya tidak terlambat, harusnya itu betul-betul kuingat. Kata seorang sahabat, “Jangan putus harapan!” Huhhhh! Baikkkkk! Oke, siapppp! Satu hal yang aku harus catat juga adalah: jangan lupa membaca doa, berharap sama Allah seutuhnya, ya Allah aku mbok dibangunkan jam segitu. Tet!!

Sewaktu aku curhat kepada ibu soal keterlambatanku sholat Shubuh, ibu mengirimkan kutipan yang menyentuh sekali dari Ibrahim Al-Khawwas di Kitab Shofwatus Shofwah (aku belum baca, hanya copas kata-kata ibunda, oke?):

Seberapa besar penghormatan seorang hamba terhadap perintah Allah, maka sebesar itu pula kemuliaan yang akan Allah berikan kepadanya, kemudian Allah akan memberikannya kehormatan di hati orang-orang yang beriman.

Menyentuh, bukan?

Selain itu, soal komunikasi aku juga masih harus berusaha lagi. Kadang karena termakan malu, aku jadi menahan-nahan ingin mengatakan sesuatu. Tetapi sahabat-sahabat dari Indonesia seperti Hilda yang berbekal kemampuan bahasa asing, El yang penuh percaya diri, Mas Philip dan Mbak Tyas yang sangat cair berkomunikasi memberi inspirasi bagiku. Aku mungkin yang terlalu berpikir, “Kok topik obrolanku formal-formal aja ya, kok percakapanku nggak kreatif banget sih, kok bahasaku sulit dimengerti?” Haduuuwwww, itu malah yang membuatku jadi terhambat sendiri. Jadi, lagi-lagi perlu kukatan pada diriku sendiri, “Lihat, mereka mau kok mendengarkan kamu. Asalkan kamu berani untuk didengarkan, Ahimsa!” Hihihihi. Oke, thanks for your advice, myself!

With Hilda, sahabat roommate aing, sang translator, ahli bahasa mandarin dan inggris

 

Hehehe, pokoknya ada banyak peletuk-peletuk perasaan baru yang harus kuhadapi di sini. Dengan itu, aku yakin sedang dilatih untuk lebih kuat dan lebih percaya diri. Alhamdulillah!

So, what makes me grateful in Korea mungkin tidak sekadar soal apa yang terbadaikan di gambar: keseruan, asyiknya keluar negeri, bahagianya jalan-jalan, dan sebagainya. Melainkan, karena aku tahu ini adalah sebuah langkah yang insyaAllah mengakrabkanku dengan tanda-tanda kekuasaanNya. Dengan ini, semoga aku yang penuh kekurangan ini bisa belajar untuk menjadi lebih baik.

 

Chuncheon, 30 Syawal 1440

 

Hilda (Indonesia) – Selly (Taiwan) – Clinton (Hongkong) – Me (mana lagi buk) – Ice (Thailand)

 

Tyas, sang ibunda senior dari Univ-nya Soe Hok Gie ehehehe

 

Kami sedang memakai hanbok—kain yang biasanya dipakai buat ngeringin badan habis mandi (HANDUK sayanggggg!1!1!) 🙂

Foto lain, bersama pos yang lain ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *