Everything’s Gonna Be Ok: Belajar Mengelola Hati

Ketika mimpimu yang begitu indah,

tak pernah terwujud… Ya sudahlah…

Saat kau berlari mengejar anganmu,

dan tak pernah sampai… Ya sudahlah…

 

(Wasemmm, lagune aku tenan, Rek!)

 

Apapun yang terjadi,

kukan slalu ada untukmu

Janganlah kau bersedih

Cause everything’s gonna be ok

 

Lagu Bondan bareng Fade2Black itu aku simak pertama dari stasiun tivi ANTV yang dulu punya program KLIK berisi putaran lagu-lagu top pada masanya. Lirik itu, yang sudah semantap itu, masih berlanjut untuk mencipta keterikatan yang lebih padaku.

 

Saat kau berharap keramahan cinta

Tak pernah kau dapat… Ya sudahlah…

 

Haduuu! Nah kan, jeru tenan. Pesannya begitu dalam kurasakan, begitu dibutuhkan olehku wkwkwk dan mungkin juga kalian. Aku sebenarnya sudah pernah mengutipnya dalam satu tulisan di caption instagram dan yaa saking suwenengnya pengen lagi ngutip di sini, hehehe, karena emang pesannya dalam sekali.

 

Anugerah yang begitu besarnya, yang begitu indahnya, yang begitu perlu disyukuri telah diberikan pada kita. Apa lagi namanya kalau bukan sekeping hati. Keberadaannya menjadikan raga lebih berarti. Keberadaannya membuat kehidupan ini lebih punya warna-warni.

 

Kadang isinya penuh dengan bunga-bunga yang wangi. Energinya sekuat mentari di pagi hari, terang dan menyehatkan. Tapi kadang juga isinya gemuruh dan hujan. Energinya membuat semua bagian lain dari tubuh terguncang, lemah dan tak berdaya.

 

Rasulullah saw. memberi gambaran mengenainya,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).¹

 

Beberapa hari lalu, seorang Sahabat bernama Fithrotul Izzah, atau kerap kusapa Ijah, sedang berbahagia bisa berkunjung ke Negeri Jiran. Bahagianya lagi, kegiatannya bukan semata-mata keasyikan jalan-jalan, ia pergi untuk melakukan pengabdian lewat program AISEC. Segala keperluan dan rencana ia persiapkan dengan baik sejak jauh-jauh hari. Memang begitu orangnya, rapi dan teliti. Beda sekali denganku, hihihi.

 

Dengan segala ketenangan dan kematangan itu, aku sangat percaya bagaimana lancarnya dan suksesnya pengalaman temanku ini selama di Malaysia. Dia pasti bisa menjalani kegiatan ini dengan baik. Wis mantab dan semangat banget.

 

Uwuwu, tapi rupanya, emang jalan ke depan siapa yang tahu. Di hari pendaratan saja, Ijah udah mengantongi drama dipersulit melewati bagian imigrasi. Wah, wah. Pun kapan hari, dia sambat padaku dan menumpahkan kegemasannya selama berada di sana. Pengen cepet pulang, lalu kuliah. Wah, wah.

 

Aku jadi inget banyak momen penting di hidupku, mirip-mirip kayak gitu. Pas rasanya di dadaku udah penuh rasa percaya diri dan harapan penuh di hati, cuma hitungan waktu aja tiba-tiba kondisi itu dibalikkan.

 

Yang paling fenomenal adalah waktu aku mau masuk SMA. Zamanku dulu kan nilai nem jadi patokan penerimaan siswa di SMA, jadi semua anak yang emang pengen masuk ke sekolah favorit yaa usaha bener-bener biar nilai nemnya bagus. Aku juga gitu nah. Les, belajar, les, belajar, sekali-kali bucin-bucinan wkwk, habis itu les lagi, belajar lagi. Daan aku semakin up rasa pede-nya, karena tiap try out naik terus tuh nilainya. Seangkatan sekolah yaa masuk terus gitu dua puluh besar, wididiw.

 

Sampai akhirnya pas tiba perang yang sebenarnya … ujian nasional itu menghadapiku, aku bertarung sekuat tenaga dengan bayangan nilai yang silau kemilau. Dan pas pengumuman, MAK DUG, aku nyaris nggak percaya. Nilaiku jauh di bawah target waktu itu. Artinya, harapanku masuk ke SMA favoritku pun ludes hancurrr leburrrr.

 

Dua cerita itu—maaf ya panjang—harapannya bisa memberi gambaran betapa menariknya kondisi hati kita ini. Hati selalu terasa hidup dengan adanya harapan-harapan yang mengisinya. Harapan kelancaran kegiatan kayak yang Ijah pengenin, harapan aku masuk SMA favorit, harapan temen-temen bisa sukses bisnis, lulus cepet nggak ribet, harapan lolos tes CPNS atau seleksi LPDP, ngelamar nikah tanpa ditolak, punya anak dan cucu pinter patuh cakep, dan banyak lagi.

 

Tapi…

 

Bersama harapan, kita harus menyadari adanya kemungkinan kekecewaan. Kalau kita siap menerbangkan balon udara yang berisi harapan, kita perlu juga untuk menyadari bahwa ada kemungkinan sebelum sampai pada puncak tertinggi, balon udara itu bisa jatuh menghempaskan semua harapan kita tadi. Selalu mungkin. Selalu ada peluang untuk kecewa. Sebulat dan sekuat apapun harapan itu, kemungkinan hancurnya juga ada.

 

Lantas, pertanyaannya, haruskah kita berhenti untuk berharap? Haruskah kita sudahi harapan kita karena kita tahu adanya kemungkinan gagal? Haruskah kita mengubur harapan kita karena kita takut ia tidak akan hidup lebih lama? Haruskah kita gugurkan harapan kita karena kita takut kecewa? Haruskah kita berhenti berharap?

 

Jawabannya?

 

Tanpa ada niatan menggurui, kujawab, tentu saja tidak. Karena kita tidak tahu, maka kita malah harus terus berharap. Kita perlu membiarkan hati kita hidup dengan terus berharap, karena dengannya kita akan terus merasa ada hal yang mesti digarap. Bahkan Allah swt sangat terbuka untuk kita memohon doa, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu.” (QS Al-Mu’min (40):60)

 

Aku sekaligus ingin menarik kata-kata yang tertulis di postingan sebelum ini di mana aku mencatat “Hidup dengan rasa takut bukankah sama saja rasanya tidak hidup?”. Pada kenyataannya, malah karena rasa takut, hidup benar-benar terasa hidup. Bila tidak ada rasa takut, apa bedanya kita dengan benda yang tidak bernyawa, yang tidak bisa merasakan apa-apa? Bersyukurlah kita yang masih diberi anugerah berupa rasa takut. Kita memiliki kesempatan untuk menyadari bahwa kapasitas kita tidak pernah sempurna, kita betul-betul tidak berdaya, kita hanyalah makhluk yang hanya bisa berharap, memohon lewat doa.

 

Terakhir, sebuah nasehat yang kutemukan di toko buku Shopping mungkin tepat menjadi penutupnya. Budhe Muji, salah satu penjaga kios buku yang sudah kuanggap seperti budhe sendiri, bertutur padaku, “Apapun yang memang sudah digariskan padamu, ya akan tetap sampai di kamu. Sesulit apapun itu jalannya. Juga kalau ada sesuatu yang belum diridhoi buatmu, walaupun keliatannya mudah, nggak akan jadi punyamu.”

 

Dan itu membuat hatiku sangat legowo perihal apapun. Segala yang kita hadapi, segala yang kita lalui, segala yang kita dapatkan maupun kita relakan pasti itu adalah yang terbaik yang Allah berikan dan percayakan untuk kita. Tidak perlu mengkal, menyesal, sebal yang berlebihan. Ikhlaskan, syukuri. Sebenarnya mengelola hati ini kan simpel sekali, cuma kadang memang kita harus terus menerus diingatkan berulang kali.

 

Terus lambungkan harapan dan percayakan pada Yang Maha Pengasih lagi Penyayang!

 

Yogyakarta, 16 Jumadil Akhir 1441

 

Sumber

  1. https://rumaysho.com/3028-jika-hati-baik.htm
  2. https://almanhaj.or.id/8161-berdoalah-kepadaku-niscaya-aka-aku-kabulkan.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *