Melalui asma-Nya Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, saya mencoba bercerita. Sebetulnya nyaris saya angkat tangan dengan beberapa rencana yang satu persatu pupus setelah makin dekatnya akhir liburan. Singkat kata, sebab kemantapan diri menjadi salah satu panitia acara OSPEK universitas, jadilah saya tidak sempat untuk mengerjakan banyaknya daftar rencana selama liburan. Muehehe, atau sebetulnya, saya saja yang kurang mencuri-curi kesempatan?

Syukur sekali tidak diduga-duga, satu dari sekian banyak rencana liburan pada akhirnya ternyata diridhoi untuk terjalankan. Apa itu?

Main ke Bali? Hehe. Walaupun foto saya terpampang di depan gapura bernuansa Bali, tapi bukan. Bukan Bali. Saya mah punya duwit berapa sok-sokan main ke Bali.

Jadi, sebetulnya mimpi saya adalah bisa jalan-jalan ke museum. Ugh, wagelaseh, ngeri! mungkin beberapa sahabat merespon begitu. Hehe, semoga bukan ingin ujub biar kelihatan intelek atau sok punya kepeduliaan dengan peninggalan-peninggalan sejarah. Melainkan sebab saya sadari betul miskinnya pemaknaan terhadap sejarah, sehingga pikir saya berkunjung ke museum adalah salah satu upaya demi memperkaya diri.

***

Sebelum memasuki cerita semakin jauh lagi dan mengundang fitnah kalau ada yang berpikir jauh ke sana, izinkan saya menyampaikan permohonan izin kepada… siapa ya?

Singkat cerita, saya baru saja memulai perjalanan baru sebagai salah satu panitia PPSMB (Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru) 2018-yang mana ini merupakan nama kegiatan OSPEK di UGM (Universitas Gadjah Mada). Saya merasa terpanggil untuk memenuhi tugas sebagai Co-Fasilitator (Co-Fas), yakni kurang lebih merupakan teman-teman yang membersamai Gadjah Mada Muda atau Gamada (sebutan bagi para mahasiswa baru) selama PPSMB berlangsung sebagai motivator dan inspirator di samping mengurusi hal-hal administratif seperti presensi dan penilaian.

Nah, namun, selama berjalannya PPSMB ini, saya tidak sendirian. Saya memiliki teman satu cluster yakni Cluster Medika, kemudian saya mendapatkan kelompok gugus yakni Gugus Sardjito, tepatnya di Fakultas Kedokteran, ugh. Nah, juga, saya mendapatkan seorang teman yang akan membersamai saya di dalam satu kelas. Biasanya satu teman ini oleh yang lain kita sapa sebagai partner, hehe.

Kebetulan saya berkesempatan menjalin kesamaan misi dengan seorang sahabat, Sebastian Andhika Candra alias Bastian, di kepanitiaan Co-Fasilitator PPSMB. Sedikit penjelasan bahwa pribadi yang menjadi partner saya ini berasal dari Purworejo. Selisih umur kami sebulan sebagaimana ia lahir pada Bulan Juli tanggal 6 di tahun yang sama dengan saya yakni 1999, jelas saya lebih tua. Ia seorang penggemar beat-box atau sederhananya pencipta musik lewat mulut yang jedag-jedug hehe, seorang olahragawan, pendengar musik yang baik, dan pemain game yang handal. Kami akan bekerja sama nantinya selama di kelas, memandu para mahasiswa baru, menjadi role model bagi mereka, memastikan inspirasi dan motivasi tiada henti dibagi selama pertemuan kami dengan mereka.

Tapi, you know, sebab saya mendapatkan partner yang berlawanan jenis maka tugas saya menjadi semakin berat. Saya sudah terbuka ke sahabat Bastian kemarin, “Aku canggung ya kalau sama laki-laki.” jadi dia lebih mengerti. Tugas berat saya adalah memastikan tujuan kami berdua untuk Gamada sama-sama terpenuhi, juga perlu menjaga supaya baik saya dan Bastian ndak jatuh ke pembaperan hati. Hehe, kalau Bastian sih kayanya meragukan kalau baper sama saya. Jadi yaudah saya biasa aja.

Terus, mengapa pula saya menuliskan ini?

Muehehe, sebab ada gelisah di hati saya meski sebetulnya pada Allah sudah demikian terbukanya, InsyaAllah. Saya takut nanti kebablasan, saya takut nanti menimbulkan kekecewaan. Sebulat niat yang berisi tujuan kebaikan, tulisan ini semoga juga bertujuan demikian.

Sebelum saya dan sahabat Bastian lebih jauh lagi beroleh agenda kerja sama, saya sudah diwanti-wanti, “Kalau kalian sama-sama nggak enakan, mintalah izin kalau ada yang perlu dimohonkan izin.” Aku terkekeh waktu itu, sebab ya betul ndak ada yang perlu saya mohonkan izin. Orang saya jomblo, haha. Tapi hati saya, jujur saja, ndak tenang. Bukan lagi masalah takut terlena. Tapi, saya berat kalau ndak izin sama yang satu ini, selain pada orang tua.

Siapa? Siapa lagi? Duh, jemari saya sampai dingin kalau mau menyerat ini. Hehe, saya udah bilang ke Bastian kemarin juga, “Aku harus izin sama suami.” Hihi, memang sih waktu itu konteksnya bercanda, tapi betul apa adanya. Saya ndak bisa lupa kalau belakangan ini saya harus mengambil jarak lebih dekat dengan seorang pribadi demi sebuah misi. Dan, sebab saya ndak tahu harus bagaimana menyampaikan kepada sosok di masa depan, saya cuma bisa bilang ini sebagai salah satu pengalaman yang mungkin bisa diceritakan. Bukan soal kedekatan saya dengan Bastian, ealah, tapi soal perjalanan saya sebagai Co-Fas yang saya yakin akan memberikan banyak peningkatan. Itu, ndak saya ragukan.

Jadi, ya, sebetulnya dua tulisan sebelum ini juga buah dari memantapkan diri. Kesempatan apapun untuk memenuhi panggilan sebagai Co-Fas tetap saya lakukan maksimal, pun juga menjaga hati dan prinsip-prinsip diri tetap saya kuatkan secara total. Tidak ada yang saling tubruk menubruk, melainkan berjalan beriringan.

Dan buat saya, tugas berat ini bukan lagi jadi berat bila saya berpikir positif, ini adalah langkah untuk meningkat. Saya siap. Bismillah.

And, then, this is my first story about PPSMB 2018.

Beruntung saya mendapat sahabat seperti Bastian yang jauh lebih kreatif dalam menyuguhkan game untuk menciptakan suasana seru. Sampai-sampai tugas kami yang hanya diminta menemukan lima jenis ice breaking, olehnya saya dibantu sehingga menemukan sepuluh lebih. Di antaranya adalah gerak dan lagu seperti “Satu jari kanan, satu jari kiri…”, menyanyikan yel-yel bersama, dan sebagainya. Pun juga game tebak UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), estafet karet menggunakan sedotan, role play, up down boom, bos berkata, berhitung, pembagian kelompok lewat permainan, dan banyak lagi yang mungkin tidak dapat diserat secara keseluruhan.

Singkat alur, tugas pertama saya dan sahabat Bastian adalah menjalin keakraban yang disemogakan hasilnya menuai kebermanfaatan secara maksimal tanpa ada kebablasan-yang ini ndak perlu saya jelaskan kan? Hehe.

Entah bagaimana ada kesamaan pikiran saat kami diminta memilih tempat untuk saling mengulik kepribadian masing-masing. Ke mana kami beranjak? Tentu saja, museum! Sedikit membuat saya terkejut sekaligus mengejutkan. Pasalnya dari sekian pasangan Co-Fasilitator, sahabat Bastian dan saya yang pilihannya janggal, “Ini serius nih kalian milih di museum buwanget?” Lah, bagaimana tidak? Di saat pribadi lain mantap menyerat mall, bioskop, tempat wisata, dan sebagainya, saya merasa betul-betul bahagia bisa memilih museum. Ndak cuma saya, sepertinya sahabat Bastian sebagai partner saya ternyata juga menginginkannya. Alhamdulillah.

Jadilah kami berangkat ke museum kira-kira pukul 10.00 WIB, yah sedikit terlambat tepatnya. Museum Sonobudoyo sebetulnya sama-sama sudah pernah dikunjungi oleh masing-masing kami. Sahabat Bastian baru beberapa waktu lalu, sedang saya sudah semenjak duduk di bangku SMP kala itu.

Museum Sonobudoyo Yogyakarta terletak di bagian utara Alun-alun Utara Kraton Ngayogyakarta. Sebuah museum yang dibangun ketika masa Sultan Hamengkubuwono VIII dan menyuguhkan sekilas gambaran mengenai budaya Jawa, Bali, dan Sunda. Sehingga ndak perlu lagi ditanya bagaimana saya dan sahabat Bastian dapat menangkap gambar gapura nuansa Bali di foto sebelumnya. Ehehe.

Ada banyak peninggalan tersimpan di sana mulai dari kain dan pakaian adat, alat-alat tua untuk mengerjakan kegiatan keseharian, kerajinan, sastra, dan sebagainya. Ah senangnya, saya merasa kaya!

Ah, iya. Tujuan menulis ini kan bukan sepenuhnya untuk mengupas museum Sonobudoyo. Menjadi tugas saya untuk bercerita apa saja yang kami lalui seharian itu, atau lebih tepatnya sekitar tiga jam itu, sebagai laporan.

Ya, yang jelas kami menelisik lorong-lorong museum dan menemukan banyak hal. Beruntungnya ada tour guide yang berbaik hati menjelaskan berbagai hal pada kami. Saya merasa canggung. Bagaimanapun yang namanya bersama dengan sahabat lawan jenis terkadang membuat saya punya rasa enak ndak enak sebab takut salah kata dan salah tingkah, lebih-lebih salah niat. Tapi, saya kembalikan lagi kepada tujuannya dan coba memastikan setiap langkah yang diambil tidak salah arah.

Maka, saya lanjutkan. Pembelajaran dari saling tukar cerita belum puas saya dapatkan. Sepenuh hati saya katakan bahwa ini bukan karena masing-masing kami kurang punya pengalaman, melainkan belum banyak usaha saya secara pribadi (mungkin) untuk membuka diri. Saya coba, semampu dan semaksimal saya melalui cara-cara yang saya anggap bijaksana. Saya beranikan diri memperlihatkan ini lho diri saya, ada lebihnya, tapi juga ada batasnya. Begitupun, dari sekilas saya baca, sahabat Bastian juga sudah cukup berusaha bercerita kemampuan dan kekurangannya sampai saat ini.

Setelah usai berbagi daftar keterangan diri masing-masing, selanjutnya kami mencoba memeras otak untuk menemukan keseruan-keseruan yang dapat ditimbulkan di kelas maupun di lapangan untuk para mahasiswa baru. Tidak terlalu muluk-muluk, tapi tetap mengusahakan cita-cita yang besar. Bagaimana menyampaikan pesan kepada mereka secara maksimal tanpa terlalu menggurui. Bagaimana mengadakan kelas yang kondusif dan mencipta rasa antusias di tiap kegiatan bagi mereka.

Maka sahabat Bastian di akhir pembahasan menyampaikan perlunya ada jargon yang menjadi identitas kami, nan membangkitkan tiap ada yang meneriakkan, “SEMANGAT PAGI!!!”

Segera kami harapkan terdapat seruan tanda membalas dari para mahasiswa baru, “PAGI, PAGI, PAGI!!! LUAR BIASA!!! PALAPA, SINERGI!!!”

Saya benar-benar bersyukur 14 Syawal lalu sudah diizinkan untuk mencicipi hadir di sebuah bangunan yang menyimpan banyak cerita masa lalu-yang mungkin tanpa kesemua itu bumi yang saya pijak tidak seperti sekarang, sejarah yang saya baca tidak sebagaimana sekarang, tokoh yang saya kenal tidak seperti sekarang-yang membangkitkan. Terima kasih atas kunjungan ke museum siang tadi. Barakallahulakum, sahabat-sahabat (Bastian dan kesemua yang memberi kesempatan).

Tulisan ini ialah gerbang untuk saya berbagi cerita-cerita selanjutnya. Semoga dirimu mengizinkan dan mau mendengarkan.

Yogyakarta, 29 Syawal 1439

Catatan:
1. Sebagian mengenai cerita bonding partner ditulis untuk penugasan,
2. Harapan saya besar supaya perihal “jalan-jalan ke museum” ini berlanjut pada ke-istiqomah-an dan kelancarjayaan kesempatan,
3. Dan, ketakutan yang menyisip dalam benak saya semoga sedikit-sedikit bisa berkurang. Innallaha ma ‘asshobirin.

This Post Has One Comment

Tinggalkan Balasan