Catatan Awak Baru Kapal

Baru beberapa waktu ini aku mulai menyadari betul-betul perihal tanggung jawab yang bukan cuma seupil. Menjadi anak tertua artinya beban kita lebih besar untuk memastikan adik-adik baik-baik saja dalam masanya berproses. Menjadi anak tertua artinya kita dipersiapkan untuk menjadi wali adik-adik kalau bapak ibu tidak ada. Lebih dewasa. Lebih banyak mengalah. Pun lebih banyak tahu soal keadaan keluarga juga. Termasuk yang ingin kusampaikan di sini, pun ekonominya.

Semakin aku tumbuh besar, bapak ibu semakin terbuka untuk mempersilahkanku tahu apa yang mereka hadapi demi anak-anaknya. Hasil kerja yang belakangan ini belum seberapa (tapi sepenuh jiwa kami mohon tetap menjadi berkah yang wah, Ya Allah). Kapal sederhana yang menjadi penopang kehidupan keluarga sedang terombang-ambing di tengah ombak yang entah kapan menjadi tenang. Bapak tetap menahkodai sepenuh hati. Ibu mendampingi biar layar sesuai dengan kebutuhan. Adik-adikku terjaga baik di dalam kabin. Sedang aku yang biasa sekadar mengintip dari balik pintu kabin akhirnya memutuskan membukanya. Keluar dari kurungan nyaman itu. Bertekad mantap dengan langkah gagap, “Aku pun harus melakukan sesuatu untuk mempertahankan kapal ini,” gumanku.

Rasanya udara dingin menusuk di sini. Bajuku berkibar terkena angin laut yang lancang. Kerudungku beberapa kali tersiram air dari ombak yang meninggi dan menggapai-gapai kapal. Aku takut, tentu saja. Terbayang kasur empuk hangat di dalam kabin, makanan di dalam tempat penyimpanan yang melenakan, buku-buku bacaan pengisi hiburan. Tapi segera runtuh semua itu melihat wajah biru ibu yang mencoba meringis dilihat olehku. Semua itu seketika lenyap saat menatap bapak yang entah sudah berapa banyak peluhnya yang sudah teramu dengan air laut, beberapa kali pun beliau sempat memberiku isyarat untuk masuk kembali. Tapi, belakangan tidak lagi. Ia sadar, kali ini aku dibutuhkan benar-benar.

***

Kuliah adalah medan berkarya. Wadah kreativitas tanpa batas. Akan semakin terbuka peluang untukku mengikuti kegiatan macam-macam. Kesibukan. Jadwal padat. Akan jadi konsumsi sedap. Bisa jadi juga cukup menguras uang perbekalan.

Adik pertamaku masuk SMA tahun ini. Tingkatan sekolah yang biaya SPP nya tidak dibebaskan, artinya ini tambahan pengeluaran. Oh my Allah. Bismillah.

Eyang, “Penghasilannya Bapak Ibu udah nggak kaya dulu lagi, Mbak.”

Bapak, “Mbak Wardah bantu Shopping bener-bener ya. Soalnya Bapak Ibu lagi butuh banget.”

***

Aku manusia baru besar yang mencoba perlahan memahami apa yang terjadi dan menentukan langkahku selanjutnya. Apa. Bagaimana. Slowly but surely. Aku harus. Aku mau.

Meski wajahku akan kusut, air mataku akan makin deras, wajah merah padamku makin menggila bilamana aku membantu di luar kabin, tapi aku mau. Melihat samudra luas terbentang di hadapanku. Memahami sejatinya ke mana kapal ini akan menepi. Menjadi sebuah kebanggaan untukku memperkenalkan diri sebagai salah satu awaknya, bukan penumpangnya.

Ridhoi aku, ya Allah.

Yogyakarta, 13 Juli 2017

4 comments on “Catatan Awak Baru Kapal

  1. bener banget nih..anak pertama tu jadi orang tua juga buat adik"nya
    kalau bapak/ibu lagi kesusahan yang dimintai tolong anak pertama dulu :")
    gakpapa wardah, dijalani saja..kamu bisa wess 🙂
    kudu semangat pokoke:3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *