Petualang Ramadhan

I’ll talk in Indonesia later, just began it with small talk in English to greet my good friends who I intend to write about them here, Ana Trunk and Khodijah binti Bagus. These two friends have give me a kind of inspiration to write this post in this Ramadhan. Hopefully, my sentences in Bahasa Indonesia would not be that hard to understand (although I know I cannot underestimate both of you guys).

 

***

 

Halo, Sahabat pembaca! Aku mulai menulis ini sambil menunggu waktu salat Shubuh. Cerita yang ingin kusampaikan adalah mengenai dua sahabat yang cukup kukenal baik akhir-akhir ini, yakni Ana Trunk dan Khodijah binti Bagus. Mereka tidak saling mengenal sebenarnya, nama mereka saja sangat kontras terbaca bukan? Tapi aku ingin bercerita tentang keduanya dalam satu ruang yang sama yakni ‘Petualang Ramadhan’ karena baik Ana maupun Khodijah telah cukup banyak menginspirasiku khususnya pada bulan Ramadhan ini.

 

Ana adalah seorang teman berkebangsaan Jerman. Ia mengambil program pertukaran mahasiswa untuk jurusan Antropologi, yang berada dalam satu fakultas dengan jurusanku, Sastra Inggris, di Universitas Gadjah Mada (UGM). Sekilas dalam beberapa interaksi, bisa kukenali Ana adalah seseorang yang haus untuk tahu. Ia senang sekali belajar hal baru dan sejauh ini tidak pernah malu terlibat dalam kegiatan-kegiatan di negeri orang yang membuatnya tertarik. Denganku saja, Ana sangat antusias dan menikmati kegiatan diskusi ‘pencegahan kebencanaan’, acara lomba-lomba yang diadakan teman-teman IPM, dan beberapa hal lain. Ia juga sempat mengemukakan ketertarikannya belajar soal Islam yang membuatku sedikit minder sebetulnya saat diminta menjelaskan Islam, tetapi sayangnya aku belum tahu secara mendalam. Hehe, tapi dari sana, semoga aku terdorong untuk mau ikut belajar juga yaa.

 

Oh iya, belum kusampaikan, Ana bukan seorang muslim, teman-teman. Tetapi menariknya bagiku, bulan Ramadhan ini, dia mencoba untuk berpuasa! Aku sedikit terbelalak juga saat ia menyampaikannya, “Ah, masa?” pikirku. Tapi benar, dia melakukannya.

 

Di hari kelima Ramadhan, kami bersama-sama pergi ke Masjid Kampus UGM untuk mengikuti kegiatan buka bersama. Aku sangat bersyukur hari itu karena pada empat hari pertama Ramadhan belum kutemui suasana buka puasa yang sebenarnya. Dan, di situ bersama Ana, aku sangat menikmati pemandangan orang-orang yang berkumpul menunggu waktu berbuka di bawah naungan masjid tercinta. Mengharukan sekali. Aku berani saja mengajak Ana kemari, sebab Ana pun sangat bersemangat untuk mengetahui bagaimana suasana buka puasa Ramadhan di Jogja pada khususnya. Sebelum berangkat, ia memastikan bagaimana baiknya ia berbusana saat ke masjid, pada akhirnya ia mengalungkan selembar kain sebagai hijab untuk menutupi rambutnya yang pirang. Sungguh cantik!

 

Hijab girls! Omooo, omooo!

 

Pertemuan dengan Ana membuat hari itu menjadi salah satu hari yang paling kusyukuri di Ramadhan tahun ini.

 

Begitupun pertemuanku dengan Khodijah, seorang gadis yang duduk di kelas 4 sekolah dasar, sangat berkesan bagiku. Sebenarnya aku dan keluarga besarnya adalah tetangga, tetapi kami berdua tidak pernah berjumpa karena ia beserta ayah ibunya tinggal lama di Kota Madina, sebuah kota di Saudi Arabia. Bulan Ramadhan ini, Allah mengizinkan kami untuk berkenalan. Kebetulan di antara saudara-saudaranya, ia termasuk yang paling bersemangat dalam menyapa dan bercerita.

 

Kami berbincang pertama saat Khodijah iseng-iseng hadir di acara tadarus remaja di masjid dekat rumah. Awalnya, dia tidak mengenal satu orang pun kecuali Mbak Sri yang memang sudah akrab dengan keluarganya. Asyiknya obrolan Mbak Sri dengan seorang gadis cantik yang asing mendorong kami yang sedang tadarus satu persatu tertarik terlibat dalam percakapan itu. Lucunya, Khodijah berhasil membuatku menyimak dengan hikmat saat ia sesekali mengajarkan bahasa Arab.

 

“Jadi misalnya ada yang manggil aku ‘Khodijaaaah!’, aku langsung jawab, ‘Hala?’ yang artinya kayak ‘Dalem?’”

 

Aku mengangguk-ngangguk sambil berseru oooo……

 

dari kiri ke kanan, kita jadi kayak kopi susu

 

Mulai dari malam tadarus itu, pertemuanku dengan Khodijah menjadi berlipat-lipat obrolannya. Beberapa kali kami bertemu di tarawehan anak-anak yang biasanya ia tidak ikut, di acara buka puasa, di tadarus pagi ibu-ibu, dan sebagainya. Pun ada satu waktu aku merasa bersalah sekali karena sangat antusias mengajaknya untuk tadarus malam suatu hari, tapi ternyata aku lupa kalau di waktu yang sama diriku harus pergi dari Jogja. Begitulah akhirnya aku belum sempat mohon maaf karena tidak bisa hadir setelah mengajaknya.

 

Pertemuan dengan sahabat Khodijah pun memberikan kesan yang sama sebagaimana aku dengan Ana. Keduanya bagiku adalah petualang. Bukan hanya karena jarak yang telah mereka ciptakan baik dari Jerman maupun Arab Saudi, melainkan juga karena kesungguhan mereka untuk berpetualang menemui hal-hal baru di tanah yang baru. Betapa banyak orang yang berjalan jauh, tapi kurang menemukan hikmah dari perjalanannya. Bagiku, saling bercerita dan berinteraksi dengan orang-orang akan memberikan kesan berbeda di setiap kesempatan.

 

Dalam kalbu, aku mencita-citakan sesuatu. Bila nanti aku berkesempatan untuk berpetualang jauh, aku juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu hanya untuk sekadar ‘pergi jauh’. Aku betul-betul ingin menyelami hikmah terbaik dari kesempatan itu yang semoga juga semakin menyadarkanku akan kuasaMu. Heheee.

 

Di akhir, sebelum kututup, ternyata ada yang menyentil.

 

“Nah, kapan tuh punya petualangan yang jauh?” serunya menyindir.

 

Aku terkekeh, “Oiya. Berarti aku koreksi. Bukan hanya saat jalan-jalan yang jauh. Kapanpun, di manapun, bahkan sekarang pun, akan kuusahakan mencari hikmah di setiap kesempatan. Terima kasih, teman, sudah diingatkan.”

 

Selamat mengoptimalkan lima hari terakhir Ramadhan!

Tulisan ini dipersembahkan untuk dua sahabat yang sudah kusebut namanya di depan. Doa terbaikku untukmu!

 

Yogyakarta, 27 Ramadhan 1440

 

with Ana!
with Khodijah!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *