Kepada,
Seseorang yang malam ini secara sengaja pun mungkin tidak sengaja merelakan laptop-nya untuk kupinjam mengusaikan tugas kuliah yang tertunda-tunda oleh kecamuk masalah yang melanda. Hehe. Kamu memang yang terbaik dari yang pernah ada, sebagai adik pertama. Yuhuu!

Karunia Perjuangan Mustald’afin, yang
Kalau kata Babe suatu kali bercerita adalah sebuah nama yang diharap-harap mampu mewujudkan pribadi penuh terang benderang yang menjadi karunia bagi setiap perjuangan para mustald’afin, orang-orang yang lemah.

Lelaki jangkung, yang
Sering sekali membuatku iri dan pengen gigit jari sebab beberapa hal berikut ini.

1. Jangkungnya, jelas.
Lha, gimana enggak? Siapa yang mencicipi dunia pertama kali, eh siapa yang lebih tinggi. Beberapa kali ketemu dengan saudara jauh ketika aku masih duduk di bangku SMA dan si Juang di SMP. Nah, ada yang tanya ke aku, “SMP mana, Dek, sekarang?” giliran si Juang, “SMA mana sekarang?” Hmmmm. Oke! Tapi sih, di sini ada syukurnya. Seenggaknya aku nggak dibilang ibu-ibu kaya biasanya. Muehehe.

2. Cueknya.
Manusia tercuek sepanjang abad dan seantero jagad yang pernah aku temui. Disapa gurunya, dikunjungin temennya, halah, po tak pikir? kali pandangannya. Hmmm. Iya sih, kalau di rumah ada lah ceriwis-ceriwisnya. Tapi cueknya itu ya … stay di situ.

3. Pinternya.
Ini buat iri sih sebenernya. Pertama, Juang bisa masuk ke “mantan calon” sekolahku. Hmm aja sih. Kedua, aku nih yang mahasiswi jurusan Sastra Inggris, masalah pemahaman soal vocabulary is so so so so far away tertinggal jauh darinya. Ya iyalah, dia anak gamer kan. Huh, apalah aku yang kadang aja gaptek. Ughhh.

4. Apa lagi ya, Dek? Mbak lelah berpikir. Wkwkwk.

Intinya sih banyak. Kerap kok. Muehehe. Tapi biarlah untuk sementara waktu itu dulu yang aku utarakan. Hehe. Ada bayangan aku bisa menyampaikan postingan nggak penting itu ke orangnya. So, karena di atas-atas isinya kurang berfaedah, biarlah nambah “sedikit” berfaedah dengan kusampaikan hal-hal di bawah.

Karunia Perjuangan Mustald’afin, yang
Begitu tersayang dan usilnya sering membuat sandal Mbak pengen melayang. Hehe.

Kita nggak tahu masa depan, nggak tahu apa yang mungkin kita temui di hadapan. Tapi kita tahu bahwa hidup itu kaya di game, semakin levelnya meningkat, jelas tantangan dan hambatan akan semakin menyayat. Makanya kan sebagai pribadi kita kudu makin kuat. Dek Ju, jangan berhenti berbuat hal-hal yang bikin kamu melihat dunia lebih sarat. Kurangi males gerak cuma karena alasan nggak tepat. Ayo, semangat!

Mbak dukung kamu ikut apa yang menurutmu tepat jadi pilihan. Mbak akan belajar untuk melihat apa yang kamu suka dan mampu. Nggak akan lagi maksa-maksa. Hehe, walaupun seringnya gitu. Tapi, Mbak mau belajar. Oke, oke?

Dan …

Semoga ini nggak jadi pamer atau sok-sokan, tapi, Mbak kira ini menjadi penting untuk kamu tahu. Kamu selalu ada dalam list doa Mbak tiap ba’da sholat. Besar harapan, dulu kamu ditiupkan ruhnya sebagai adek Mbak Wardah bukan tanpa alasan dan untuk menemui kesia-siaan. Jelas, nggak! Padamu, Mbak berharap banyak.

Tapi dalam perjalanannya, Mbak pasti banyak buat salah. Kamu pun sebaliknya. Kita jadi sering saling marah-marah. Tapi … Mbak selalu gusar dan sedih akan masa depan. Mbak, jujur aja, ketakutan tiap melihat fenomena-fenomena mengerikan yang terjadi pada keluarga lainnya. Saudara saling bertengkar padahal sudah tua, hanya karena hal-hal sepele, hal-hal yang berbau dunia. Lah, kita akan bagaimana? Mbak selalu takut-takut membayangkan. Tapi, ndak. Bukannya dulu Mbak pernah bilang ke kamu dan adek? Apapun yang terjadi, kita sama-sama jadi tempat kembali.

Lalu yang satu ini,

Belakangan Mbak sedih ngelihat banyak orang tua hidup di jalanan, jualan dan cari makan. Bodohnya Mbak yang sering mengabaikan. Parah, payah. Mbak nggak sampai hati membayangkan kalau Babe atau Ibuk yang begitu di depan pandangan. Padahal tiap hari udah kita bangun pagi tanpa perlu pesan udah disiapkan hidangan, seragam ketlingsut atau tugas ketinggalan mereka pun ikut kesusahan, nggak ada tagih-tagihan soal semua pemberian. Buku, ilmu, pengalaman, secara berlebih diwariskan.

Pernah suatu kali Babe bilang (mungkin Mbak pernah cerita juga), “Besok sebisa mungkin, Bapak Ibuk dirawat sendiri, jangan dimasukkan pantai jompo dan sebagainya.”

Pengen tumpah rasanya segala air bah lewat indera penglihatan. Di situ semakin jelas, kita memang harapan. So, ayo bebarengan, kita saling mengingatkan, kita saling menguatkan, kita saling mempercayakan. Jangan sampai terlenakan dan lupa, dengan siapa kita harus berpelukan.

Dek Ju, Sayangku (rada geli menulisnya, hahaha),
Kamu sudah SMA sekarang. Kalau dalam pandangan sebagian besar orang, sebuah masa paling hebat dari seluruh rangkaian kehidupan. Tapi apapun itu, yang jelas, menceburlah ke samudranya, cari hal-hal baru, ciptakan rasa syukur yang seru. Entah sudah berapa kali ganti, tapi, mulai saat ini, coba dipastikan lagi : kamu mau jadi apa di masa depan?

Semoga kita jadi anak berbakti,
sholeh dan sholehah, yang bisa mencipta doa yang diijabah,
mengalirkan pahala terus menerus hingga Bapak-Ibu ke jannah,
AAMIIN.

– – – – –

Ditulis dengan motivasi sebagai berikut.
1. Merasa berterima kasih sudah dipinjami laptop.
2. Punya rasa sayang tapi masa cuma dipendam.
3. Takut mati dan nggak sempat nulis surat wasiat.

Yogyakarta, usai pada 00.24 WIB tanggal 25 Muharram 1439

Tinggalkan Balasan