Menghadapi Perubahan Demi Perubahan, Haruskah Kita Pasrah?

Dulu perasaan aku bisa gini, tapi kenapa jadi sulit yah?

Dulu keknya tuh nggak senjlimet ini, kenapa sih jadi rumit semua urusan ini?

Dulu kayanya hidupku bahagia, fine-fine aja, sekarang kenapa luar binasa?

Huwaaaaa huwaa

 

(created by Hapis Fadillah, 2019)

 

Kadang tulisan menjadi terhambat lahirnya karena seorang penulis berdalih butuh momen perenungan sampai matang mengolah gagasan. Dan entah apa ini bisa dibilang sebagai penghianatan, sekarang aku malah bermimpi bahwa mengerjakan tulisan ini baru akan menjadi jalan untukku melakukan perenungan, untuk me-recharge apa yang pada diriku ingin kutanamkan, untuk membuahkan langkah-langkah ke depan.

 

Aku saat ini, tanpa ide dan bahan yang jelas, memutuskan untuk menuliskan sesuatu.

 

Tahun 2019 sejujurnya merupakan tahun yang penuh dengan kejutan, di mana banyak cerita deras membasahi tubuhku yang kering. Oleh karenanya, tidak elok bila aku lupa mengucapkan syukur penuh kepada Sang Maha Pemberi Kesempatan, segala puji bagi Engkau Tuhan Semesta Alam. Bisa dikulik bahwa cerita pengembaraan di tahun ini (tahun lalu lurd, maaf mulai nulisnya dah dari tahun lalu) sangat deras mengisi blog-ku, bukan? Juga story Whatsapp atau Instagram mungkin lebih deras lagi. Semua itu sejujurnya, di luar dayaku. Maksudnya, datangnya tidak direncanakan.

 

Di antaranya ialah pada tahun ini aku diperkenankan mengunjungi ibukota sampai lebih dari empat kali, naik pesawat pertama kali, berjarak dengan ibu pertiwi pertama kali, bantuin event dosen pertama kali (seingetku sih), banyak momen tercipta bersama anak-anak TPA dan teman-teman muda, huehueee begitu banyak hal yang patut disyukuri. Tentu tidak dalam rangka menyombongkan diri kusebut kesemuanya begitu saja. Dalam diriku, cerita-cerita deras yang mengalir bersama darahku (waduh puitis sekali) itu mencipta gemuruh hebat sebenarnya.

 

Tidak mungkin terlupa beberapa waktu sebelumnya betapa aku merasa betul-betul jatuh, terpukul, dan nelongso. Kewalahan dengan tidak terkontrolnya mentalku. Klenger karena harus menghadapi beragam kejadian yang harapannya jadi obat malah jadi tambahan sambat. Dan menemui tahun 2019 yang penuh dengan ‘kejutan’ cerita itu, aku perlu mengakui bahwa diriku ada di antara dua kondisi yang membingungkan: perasaan takut dan tertantang.

 

Daku bersama ibunda Anggit dan ibunda Rifa.

Aku takuuuut sekali melihat bagaimana seorang aku yang agak babak belur batinnya ini harus menghadapi banyak pribadi lain. Aku takut, meski tidak tahu dengan jelas apa sih yang aku takutkan. Aku takut terlalu menunjukkan siapa aku dan terlalu takut untuk melihat siapa yang ada di hadapanku. Aha! Mungkin aku takut pada kata ‘terlalu’. Terlalu mengenal orang lain, terlalu tahu kurang lebih orang lain, terlalu tahu hingga akhirnya merasa tidak enak. Karena mungkin semua yang ‘terlalu’ khawatirnya akan makin membuat babak belur batin sendiri dan insecure. Tentu, aku tidak mau. Rasa-rasanya jadi terbaca bahwa diriku agak sering melarikan diri. Begitu kadang aku bingung apakah betul masih hidup. Hidup dengan rasa takut bukankah sama saja rasanya tidak hidup?

 

Di lain sisi, hal yang membuatku juga terus bertahan sepertinya adalah rasa tertantang. Aku masih terikat dengan fakta bahwa aku pernah seberani dan secadas dulu. Meskipun sakit dan nyeri sedikit, kadang kupaksa saja diri untuk mencari hiburan dan gemercik perasaan lain lewat berbagai persinggungan dalam beragam pengalaman. Iya, benar tambah pengalaman. Iya, benar tambah kenalan. Semua itu yang mengundangku untuk terus menerus mau mengerjakan sesuatu, bergerak melakukan ini itu. Biar aku bisa meyakinkan diriku ‘aku masih hidup, aku masih merdeka’, lari dari pikiran bahwa ‘aku sedang takut’.

 

Oleh karenanya, tahun 2019 ini menjadi tahun yang lucu bagiku. Ya bagaimana ya? Perasaan antusias terhadap hal baru serta perasaan sesal dan kecewa terhadap masa lalu bercampur aduk begitu saja. Padahal, kontras kan ya keduanya? Tapi, ya gitu. Kadang pas sedang khusyuk merenung, aku bisa tiba-tiba tertawa sendiri, atau menggelengkan kepala sendiri, atau menutup mukaku sendiri, atau senyam-senyum sendiri dan itu pasti tidak ada yang bakal mengerti kecuali diriku sendiri. Sebab itu hanya sebuah respon seketika dari ingatan di kepalaku pada momen kejadian yang terlalui. Haduuh, haduuh, kok aku bisa begini, ya Rabb ternyata udah sampe sini. Hihihii.

 

Kalau dibanding-bandingkan dari saat usia waktu aku TK, SD, SMP, dan SMA tentu ada banyak perubahan yang aku alami. Gaya hidup, pembawaan, prinsip, teman-teman di sekitar, makanan favorit, tempat nongkrong favorit, idola favorit (walaupun khusus untuk Reza Rahadian masih belum tergantikan hehe), banyak lah yaa. Bahkan aku baru sadar sekarang ini bahwa aku nggak pernah benar-benar menemukan penyanyi atau lagu favorit sampai akhirnya aku berjodoh dengan lagu So Soon yang dibawakan Maher Zein. Aku butuh bertahun-tahun sampai sadar itu. Semua perubahan yang berlangsung terus memberiku pemahaman baru bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar apa yang sudah kutahu, ada sesuatu di luar ruang interaksiku yang sekarang, dan di situlah aku mulai merasa ‘sengaja’ diajarkan hal-hal yang sebelumnya aku nggak tahu.

 

Frasa ‘dunia itu luas’, ‘dunia itu keras’ dan lain sebagainya mungkin jadi terdengar kayak sekadar quote klise yang maknanya kadang nggak jadi sekuat maksud awalnya. Padahal, pesannya benar-benar begitu kuat. Tapi karena keseringan dikutip, terus jadi terdengar biasa. Dan dulu, aku belum betul-betul merasa bisa memaknai frasa-frasa itu sampai akhirnya menghadapi situasi dan pengalaman baru—saat ini.

 

Selama beberapa waktu, aku berhasil mengarungi hidup bermodal semangat dididik untuk mendidik—ujaran yang ku-copy dari Pak Anies Baswedan. Payahnya, baru-baru ini kurasakan, meski telah menggenggam erat kalimat itu dan melantunkannya seperti dzikir pagi dan petang, tetap saja aku tidak berhasil memunculkan gebyar semangat dan gerakan dahsyat. Kalimat itu nggak lagi manjur. Seperti obat yang keseringan kukonsumsi sampai akhirnya tubuhku sudah kebal menerimanya. Kalimat itu jadi seperti upaya menipu dan membodohi diri sendiri.

 

Aku jadi malu.

 

Maka aku kembali mempertanyakan: untuk apa aku terus berjalan-jalan di hidupku ini? Kalau hanya untuk menjadi terdidik ternyata tidak memuaskanku. Kalau hanya untuk mendidik kok ternyata aku tidak bisa selalu memposisikan diri seperti itu. Jadi, untuk apa? Untuk apa aku hidup?

 

Huwaa, filosofis sekali. Aku ingin menghindari, tapi aku takut juga untuk pergi.

 

Huwaa, takut lagi. Aku muak dengan diri sendiri, tapi ini memang soal yang harus kudiskusikan dengan diri sendiri.

 

Kalau jawabanku sudah bukan dididik untuk mendidik lagi bagaimana? Masalah tidak ya?? Kalau itu artinya aku harus berubah bagaimana??? Apakah baik, apakah buruk???? UNTUK APA AKU HIDUP????

 

Well, harus jujur, buku ini mengajakku banyak berdialog.

 

Oke, oke, tahan dulu. Tenang dulu. Tulisannya sampai sini dulu. Perubahan apapun aku pasrahkan, orientasinya tetap sama: jadi lebih baik. Semoga tahun ini dan tahun-tahun ke depannya aku bisa terus menemukan pertanyaan dan tidak berhenti berusaha mencari jawaban.

 

Yogyakarta, salam 2020 M / 14 Jumadil Awal 1441 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *